Zuckerberg Sebut Kacamata AI Adalah Masa Depan Pengganti Smartphone

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:18:39 WIB
Bos Meta Mark Zuckerberg saat memperkenalkan kacamata pintar (smart glasses) baru. [Foto: Reuters]

JAKARTA – Usai ambisinya dalam mengembangkan metaverse tidak membuahkan hasil sesuai ekspektasi, Meta kini mengalihkan fokus utamanya.

Induk perusahaan dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut semakin serius dalam mengelola lini bisnis kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan atau AI smart glasses.

Hal ini diungkapkan langsung oleh CEO Meta, Mark Zuckerberg, saat memaparkan laporan kinerja keuangan kuartal IV 2025 pada Rabu (28/1/2026).

Dalam forum tersebut, Zuckerberg menyebut AI smart glasses sebagai salah satu produk masa depan yang punya potensi mengubah pola interaksi manusia dengan teknologi.

Zuckerberg menyamakan momentum AI smart glasses saat ini dengan masa awal kehadiran smartphone.

Baginya, kacamata pintar sedang berada di posisi yang serupa dengan ponsel layar sentuh ketika mulai menggusur feature phone (ponsel yang fungsinya terbatas pada telepon dan SMS).

“Miliaran orang di dunia memakai kacamata atau lensa kontak untuk melihat dengan jelas. Saya pikir kami sedang berada di momen yang mirip ketika smartphone pertama kali hadir,” ujar Zuck, sapaan akrab pimpinan Meta tersebut.

Ia bahkan memberikan prediksi yang tergolong berani mengenai AI smart glasses yang diyakini akan semakin populer di masyarakat luas.

“Sulit membayangkan dunia beberapa tahun ke depan di mana sebagian besar kacamata yang dipakai orang bukan kacamata berbasis AI,” lanjut Zuck.

Keyakinan ini bukan tanpa dasar. Pendiri Facebook tersebut mengklaim bahwa angka penjualan kacamata pintar milik Meta (Meta Ray-Ban) telah meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu satu tahun belakangan.

Ia menyebut produk itu sebagai salah satu perangkat elektronik konsumen dengan laju pertumbuhan tercepat pada saat ini.

Ramalan Zuck yang meleset

Walaupun demikian, prediksi Zuckerberg tidak selalu membuahkan hasil. Sebelumnya, ia sempat sangat yakin bahwa metaverse akan menjadi masa depan interaksi sosial, tempat orang bekerja dan bergaul di dunia virtual.

Faktanya, visi itu belum terealisasi, dan unit Reality Labs milik Meta justru mengalami kerugian yang sangat besar.

Meski begitu, tren industri teknologi saat ini memperlihatkan bahwa banyak pemain besar mulai melirik AI smart glasses.

Google dikabarkan siap merilis lini kacamata pintar AI tahun ini setelah menjalin kemitraan senilai 150 juta dollar AS dengan Warby Parker.

Produk tersebut konon akan terhubung dengan Gemini AI, dilengkapi kamera, serta mikrofon untuk berinteraksi dengan kecerdasan buatan.

Apple juga dilaporkan tengah menyiapkan perangkat smart glasses sendiri dalam satu hingga dua tahun mendatang, dengan memindahkan sebagian tim dari proyek Vision Pro.

Langkah serupa diambil oleh Snap. Perusahaan pemilik Snapchat itu baru-baru ini memisahkan unit bisnis kacamata AR mereka, Specs, menjadi anak perusahaan mandiri agar lebih fokus secara operasional.

Bahkan OpenAI, yang selama ini berkonsentrasi pada model AI, dikabarkan sedang mengeksplorasi perangkat AI wearable, meski bentuknya lebih mengarah ke pin AI atau earbud pintar dibanding kacamata.

Meta masih memimpin pasar smart glasses

Hingga saat ini, Meta masih menempati posisi terdepan dalam memasarkan AI smart glasses ke publik.

Sejak diluncurkan pada 2021, perusahaan yang berpusat di Menlo Park, California tersebut telah memasarkan beberapa model kacamata pintar hasil kerja sama dengan Ray-Ban dan Oakley.

Untuk masa depan, Zuckerberg memproyeksikan AI smart glasses bukan sekadar alat bantu kamera atau asisten suara.

Perangkat itu akan memiliki kemampuan untuk melihat apa yang dilihat penggunanya, mendengar apa yang mereka dengar, serta memberikan bantuan secara kontekstual sepanjang waktu.

Terbaru, Meta merilis Ray-Ban Display, yang merupakan kacamata pintar pertama perusahaan dengan layar terintegrasi. Produk Meta Ray-Ban sebelumnya hanya dilengkapi lensa biasa tanpa layar khusus.

Berkat adanya layar mini tersebut, pengguna Ray-Ban Display dapat menonton video, membaca, hingga membalas pesan secara virtual tanpa mengganggu pandangan. Layar tersebut akan hilang secara otomatis jika sedang tidak dipakai.

Guna mengoperasikan kacamata Ray-Ban Display, pengguna akan dibekali gelang pintar Meta Neural Band.

Gelang elektromiografi (EMG) ini bertugas membaca sinyal saraf untuk menerjemahkan gerakan tangan pengguna, sesuai dengan informasi yang dihimpun dari Tech Crunch pada Jumat (30/1/2026).Zuckerberg Sebut Kacamata AI Adalah Masa Depan Pengganti Smartphone

JAKARTA – Usai ambisinya dalam mengembangkan metaverse tidak membuahkan hasil sesuai ekspektasi, Meta kini mengalihkan fokus utamanya.

Induk perusahaan dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut semakin serius dalam mengelola lini bisnis kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan atau AI smart glasses.

Hal ini diungkapkan langsung oleh CEO Meta, Mark Zuckerberg, saat memaparkan laporan kinerja keuangan kuartal IV 2025 pada Rabu (28/1/2026).

Dalam forum tersebut, Zuckerberg menyebut AI smart glasses sebagai salah satu produk masa depan yang punya potensi mengubah pola interaksi manusia dengan teknologi.

Zuckerberg menyamakan momentum AI smart glasses saat ini dengan masa awal kehadiran smartphone.

Baginya, kacamata pintar sedang berada di posisi yang serupa dengan ponsel layar sentuh ketika mulai menggusur feature phone (ponsel yang fungsinya terbatas pada telepon dan SMS).

“Miliaran orang di dunia memakai kacamata atau lensa kontak untuk melihat dengan jelas. Saya pikir kami sedang berada di momen yang mirip ketika smartphone pertama kali hadir,” ujar Zuck, sapaan akrab pimpinan Meta tersebut.

Ia bahkan memberikan prediksi yang tergolong berani mengenai AI smart glasses yang diyakini akan semakin populer di masyarakat luas.

“Sulit membayangkan dunia beberapa tahun ke depan di mana sebagian besar kacamata yang dipakai orang bukan kacamata berbasis AI,” lanjut Zuck.

Keyakinan ini bukan tanpa dasar. Pendiri Facebook tersebut mengklaim bahwa angka penjualan kacamata pintar milik Meta (Meta Ray-Ban) telah meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu satu tahun belakangan.

Ia menyebut produk itu sebagai salah satu perangkat elektronik konsumen dengan laju pertumbuhan tercepat pada saat ini.

Ramalan Zuck yang meleset

Walaupun demikian, prediksi Zuckerberg tidak selalu membuahkan hasil. Sebelumnya, ia sempat sangat yakin bahwa metaverse akan menjadi masa depan interaksi sosial, tempat orang bekerja dan bergaul di dunia virtual.

Faktanya, visi itu belum terealisasi, dan unit Reality Labs milik Meta justru mengalami kerugian yang sangat besar.

Meski begitu, tren industri teknologi saat ini memperlihatkan bahwa banyak pemain besar mulai melirik AI smart glasses.

Google dikabarkan siap merilis lini kacamata pintar AI tahun ini setelah menjalin kemitraan senilai 150 juta dollar AS dengan Warby Parker.

Produk tersebut konon akan terhubung dengan Gemini AI, dilengkapi kamera, serta mikrofon untuk berinteraksi dengan kecerdasan buatan.

Apple juga dilaporkan tengah menyiapkan perangkat smart glasses sendiri dalam satu hingga dua tahun mendatang, dengan memindahkan sebagian tim dari proyek Vision Pro.

Langkah serupa diambil oleh Snap. Perusahaan pemilik Snapchat itu baru-baru ini memisahkan unit bisnis kacamata AR mereka, Specs, menjadi anak perusahaan mandiri agar lebih fokus secara operasional.

Bahkan OpenAI, yang selama ini berkonsentrasi pada model AI, dikabarkan sedang mengeksplorasi perangkat AI wearable, meski bentuknya lebih mengarah ke pin AI atau earbud pintar dibanding kacamata.

Meta masih memimpin pasar smart glasses

Hingga saat ini, Meta masih menempati posisi terdepan dalam memasarkan AI smart glasses ke publik.

Sejak diluncurkan pada 2021, perusahaan yang berpusat di Menlo Park, California tersebut telah memasarkan beberapa model kacamata pintar hasil kerja sama dengan Ray-Ban dan Oakley.

Untuk masa depan, Zuckerberg memproyeksikan AI smart glasses bukan sekadar alat bantu kamera atau asisten suara.

Perangkat itu akan memiliki kemampuan untuk melihat apa yang dilihat penggunanya, mendengar apa yang mereka dengar, serta memberikan bantuan secara kontekstual sepanjang waktu.

Terbaru, Meta merilis Ray-Ban Display, yang merupakan kacamata pintar pertama perusahaan dengan layar terintegrasi. Produk Meta Ray-Ban sebelumnya hanya dilengkapi lensa biasa tanpa layar khusus.

Berkat adanya layar mini tersebut, pengguna Ray-Ban Display dapat menonton video, membaca, hingga membalas pesan secara virtual tanpa mengganggu pandangan. Layar tersebut akan hilang secara otomatis jika sedang tidak dipakai.

Guna mengoperasikan kacamata Ray-Ban Display, pengguna akan dibekali gelang pintar Meta Neural Band.

Gelang elektromiografi (EMG) ini bertugas membaca sinyal saraf untuk menerjemahkan gerakan tangan pengguna, sesuai dengan informasi yang dihimpun dari Tech Crunch pada Jumat (30/1/2026).

Terkini