JAKARTA – Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa peran sebagai kakek atau nenek memberikan dampak positif bagi kesehatan, bahkan berpotensi memperpanjang usia.
Studi dalam jurnal Psychology and Aging menemukan bahwa lansia yang membantu merawat cucu memiliki fungsi kognitif lebih baik daripada mereka yang tidak terlibat. Psikiater Dr. MaryEllen Eller menyebut hal ini berkaitan erat dengan koneksi sosial.
"Penelitian yang terus berkembang menunjukkan bahwa koneksi sosial sama kuatnya dengan faktor lain dalam menjaga kesehatan otak," jelas Dr. Eller sebagaimana dikutip dari Prevention, Jumat (27/3/2026).
Hubungan punya cucu dengan panjang umur
Salah satu temuan utama studi ini adalah meningkatnya fungsi kognitif pada lansia yang terlibat dalam pengasuhan ringan. Aktivitas seperti bermain dan berbicara mampu merangsang kerja otak.
Dr. Eller menekankan bahwa kesehatan otak tidak hanya bergantung pada olahraga atau teka-teki, tetapi juga interaksi sosial.
"Selama ini kami berpikir kesehatan otak hanya soal olahraga atau pola makan, tetapi koneksi sosial juga sangat kuat pengaruhnya," kata Dr. Eller.
Penelitian juga menunjukkan kakek dan nenek yang aktif berinteraksi memiliki kemampuan memori dan verbal yang lebih baik. Hal ini membuktikan aktivitas sosial bermakna mampu menjaga otak tetap aktif seiring penuaan.
Aktivitas mengasuh jadi latihan otak dan tubuh sekaligus
Psikolog klinis Deborah Gilman menjelaskan bahwa merawat cucu adalah latihan lengkap bagi tubuh dan otak.
"Berinteraksi dengan anak kecil melibatkan perencanaan, pemecahan masalah, serta pengaturan emosi. Ini adalah jenis stimulasi yang sangat dibutuhkan oleh otak yang menua," tambah Deborah.
Aktivitas fisik ringan saat bermain juga membantu meningkatkan aliran darah dan mengurangi peradangan.
Koneksi sosial dan tujuan hidup jadi kunci utama
Manfaat terbesar dari peran ini adalah munculnya rasa memiliki tujuan hidup, terutama setelah masa pensiun. Dr. Eller menegaskan bahwa hubungan bermakna berdampak besar pada kesehatan jangka panjang.
"Ketika kami memiliki hubungan yang berarti, kami cenderung tetap aktif secara mental, emosional, dan terlibat dalam kehidupan," jelasnya.
Rasa dibutuhkan oleh cucu dapat meningkatkan kebahagiaan serta menurunkan risiko stres dan depresi yang berkaitan langsung dengan umur panjang.
Pengasuhan ringan justru lebih baik
Para ahli mengingatkan agar keterlibatan tetap dalam batas sehat. Pengasuhan ringan ditemukan lebih bermanfaat daripada pengasuhan penuh waktu. Deborah Gilman menjelaskan bahwa intensitas tinggi justru bisa memicu stres kronis.
"Pengasuhan dalam intensitas tinggi justru dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif, kemungkinan karena stres yang berkepanjangan," ujarnya. Peran ini bisa menjadi obat stres jika dilakukan dalam kadar yang tepat tanpa merasa terbebani.
Manfaat dari relasi sosial lain
Para ahli menegaskan manfaat ini tidak terbatas pada hubungan biologis semata. Intinya terletak pada koneksi sosial yang bermakna. Dr. Eller menilai hubungan dengan generasi muda melalui mentoring atau komunitas dapat memberikan hasil serupa.
"Benang merahnya bukan pada hubungan biologis, tetapi pada koneksi sosial itu sendiri," jelasnya. Siapa pun bisa menjaga kesehatan otak dan umur panjang selama tetap aktif secara sosial.