SIG Perkuat Daya Tahan Bisnis Melalui Budaya K3 dan Efisiensi

Senin, 30 Maret 2026 | 09:56:01 WIB
Ilustrasi armada PT Semen Indonesia. [Foto: Istimewa]

JAKARTA – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menjadikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai pilar fundamental dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Langkah strategis ini tidak hanya memitigasi risiko operasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata pada efisiensi biaya serta penguatan produktivitas.

Selama tahun 2025, SIG berhasil mempertahankan capaian zero fatality atau nihil kecelakaan kerja yang fatal.

Hasil ini menjadi bukti kuat bahwa penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di lingkungan perusahaan berjalan optimal dan mendukung stabilitas operasional.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyatakan bahwa implementasi prinsip Health, Safety, and Environment (HSE) merupakan bagian mendasar dari seluruh proses bisnis perusahaan.

“Ini menjadi fondasi untuk menjaga keberlanjutan dan kinerja operasional,” ujarnya dalam siaran pers yang dikutip pada Senin (30/3/2026).

SIG menyatukan budaya K3 ke dalam strategi korporasi melalui beragam inisiatif. Salah satunya lewat metode Visible Safety Leadership (VSL), yang melibatkan manajemen secara langsung di area kerja untuk mendeteksi risiko serta melakukan tindakan segera pada situasi tidak aman.

Metode tersebut kemudian dikembangkan menjadi Visible-Felt Safety Leadership (VFSL). Pendekatan ini tidak sekadar menghadirkan pimpinan di lapangan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya dan kepedulian yang dirasakan oleh para pekerja.

Pola ini dianggap mumpuni dalam mempererat kolaborasi serta kedisiplinan terhadap standar keselamatan.

Selain itu, SIG memperkokoh sistem melalui pemutakhiran aturan seperti Safety Golden Rules, standarisasi panduan SMK3, hingga pemberlakuan Contractor Safety Management System (CSMS) bagi mitra kerja.

Transformasi digital juga diterapkan melalui aplikasi SHESIG untuk pelaporan K3 yang lebih terpadu.

Program penguatan kapasitas seperti Safety Academy dan SHE Leader’s Talk turut diimplementasikan guna memastikan seluruh elemen organisasi memiliki persepsi dan kesadaran serupa mengenai krusialnya keselamatan kerja.

Menurut Vita Mahreyni, budaya K3 yang kokoh bersumber dari kesadaran tiap individu dan menjadi kebutuhan kolektif dalam instansi.

“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama yang mendorong produktivitas dan kinerja,” katanya.

Melalui landasan ini, SIG memproyeksikan peningkatan safety maturity ke tahap yang lebih tinggi demi memperkuat daya tahan bisnis di tengah tantangan industri sekaligus mempertahankan efisiensi dalam jangka panjang.

Sebagai informasi, konsistensi SIG dalam menjalankan HSE membuahkan apresiasi dalam ajang Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2026 dengan meraih predikat excellent pada kategori perusahaan manufaktur.

Terkini