JAKARTA – Putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, Saif Al Islam Khadafi, meninggal dunia setelah ditembak oleh geng bersenjata yang menyerang rumahnya di Kota Zintan.
Pengacara Saif, Khaled Al Zaidi, bersama penasihatnya Abdullah Osman membenarkan kabar kematian anak Khadafi tersebut pada Selasa (3/2/2026), sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency.
Di sisi lain, Marcel Ceccaldi selaku pengacara Saif yang berasal dari Prancis, menjelaskan bahwa pembunuhan itu berlangsung di siang hari di kediaman kliennya.
"Dia (Seif) dibunuh hari ini pukul 14.00 di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando," ucap pengacara Saif dari Prancis, Marcel Ceccaldi, kepada AFP.
Laporan media lokal Libya menyebutkan aksi pembunuhan di rumah Saif tersebut dilakukan oleh empat orang tidak dikenal. Mereka juga menginformasikan bahwa kamera pengawas di tempat kejadian sengaja dimatikan sebelum penyerangan dimulai.
Kini, pihak Kejaksaan Agung Libya telah memulai penyelidikan terkait kasus pembunuhan ini.
Saif tidak pernah menduduki posisi resmi di pemerintahan Libya. Meski demikian, ia dipandang sebagai sosok paling berpengaruh kedua setelah ayahnya dalam periode tahun 2000 sampai 2011.
"Kami berjuang di sini di Libya, kami mati di sini di Libya," kata Saif pada 2011 lalu saat diwawancara media.
Pada tahun yang sama, ia ditangkap dan mendekam di penjara Zintan setelah berupaya kabur dari Libya menyusul jatuhnya Tripoli ke tangan pihak oposisi.
Saif kemudian mendapatkan kebebasan pada tahun 2017 melalui program pengampunan umum.
Sementara itu, ayah Saif, Khadafi, merupakan seorang politikus dan tokoh revolusi Libya. Khadafi menjabat sebagai Kepala Revolusioner Republik Arab Libya pada 1969-1977 setelah menggulingkan Raja Idris.
Selanjutnya pada 1977-2011, ia memimpin Libya hingga akhirnya dikudeta oleh pasukan oposisi dengan dukungan NATO yang terjadi bersamaan dengan fenomena Arab Spring.