JAKARTA – OpenAI, pengembang di balik chatbot ChatGPT, secara resmi telah memulai kolaborasi dengan Cerebras guna memperkokoh infrastruktur komputasi kecerdasan buatan (AI).
Melalui kerja sama dengan produsen chip asal Amerika Serikat yang juga merupakan rival Nvidia ini, OpenAI bakal menyertakan kapasitas komputasi AI berlatensi rendah hingga 750 megawatt (MW) ke dalam platform miliknya secara bertahap hingga tahun 2028.
Sinergi ini memiliki target agar layanan AI milik OpenAI, termasuk ChatGPT, mampu memberikan respons dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi.
Terutama guna menangani beban kerja yang berat, seperti memberikan jawaban atas pertanyaan rumit, menyusun kode pemrograman yang panjang, menciptakan gambar, hingga mengoperasikan agen AI secara langsung (real time).
Pihak OpenAI tidak memaparkan angka komersial dari kontrak ini secara mendetail.
Akan tetapi, seturut laporan berbagai media global yang merujuk pada sumber terkait, nilai kerja sama antara OpenAI dan Cerebras ini diperkirakan menembus 10 miliar dolar AS (lebih dari Rp160 triliun) hingga periode 2028.
Dalam pernyataan di blog resminya, seperti yang dirangkum pada Sabtu (17/1/2026), OpenAI hanya memaparkan bahwa pemilihan Cerebras didasari pada pendekatan teknologi yang berbeda dibandingkan perangkat keras AI konvensional.
Cerebras merancang sistem AI khusus dengan memadukan elemen komputasi, memori, serta bandwidth ke dalam satu unit chip berukuran besar.
Metode ini mampu meniadakan berbagai kendala teknis (bottleneck) yang umumnya menghambat proses inferensi pada perangkat keras tradisional.
Secara teknis, AI tidak perlu melakukan proses transmisi data berulang kali antar-chip atau server saat mengolah permintaan. Dampaknya, secara teori, hasil dapat diberikan jauh lebih kilat, khususnya untuk tanggapan yang bersifat panjang dan rumit.
Penyatuan kapasitas komputasi Cerebras ke dalam ekosistem OpenAI akan dilaksanakan secara bertahap dan ditujukan untuk beragam jenis beban kerja.
Bagi para pengguna, efeknya akan terasa simpel namun krusial. Performa AI yang lebih kencang membuat percakapan terasa kian alami, durasi tunggu respons makin minim, serta pengalaman pemakaian AI yang semakin menyerupai interaksi manusia secara langsung.
Kemitraan Lainnya
Sebelumnya, OpenAI pun telah merangkul beberapa pihak demi terus mengoptimalkan infrastruktur dan layanan AI milik mereka.
Sebagai contoh, pada Oktober 2025, OpenAI secara resmi menyepakati kemitraan strategis dengan perusahaan semikonduktor AS, Broadcom.
Kolaborasi ini difokuskan untuk memproduksi chip AI khusus (custom AI accelerators) yang sanggup menampung daya komputasi hingga 10 gigawatt.
Sebagai gambaran, satu pusat data dengan kapasitas 1 gigawatt saja bisa mengalirkan listrik bagi sekitar satu juta rumah tangga.
Hal ini berarti, apabila proyek antara OpenAI dan Broadcom tersebut selesai, sistem chip dan infrastruktur AI yang dirancang nantinya memiliki kapasitas daya yang setara dengan 10 juta rumah.
Perusahaan AI yang dipelopori oleh Sam Altman ini juga telah menjalin kesepakatan dengan AMD untuk menyediakan server atau komputasi berkapasitas daya hingga 6 gigawatt yang diperkuat oleh chip GPU AI produksi AMD.
Jenis GPU AI yang dipakai dalam proyek tersebut adalah AMD Instinct MI450. Fase awal proyek ini dijadwalkan mulai pada semester kedua tahun 2026. Pada periode ini, AMD akan menyuplai 1 gigawatt GPU AMD Instinct MI450 sebagai tahap pembuka.
Melalui ketersediaan server GPU yang lebih melimpah, produk serta layanan OpenAI seperti ChatGPT akan menjadi kian cerdas dan cepat dalam menanggapi perintah atau prompt yang kami berikan.
Selain itu, OpenAI turut bekerja sama dengan Samsung. Proyek yang dinamai Stargate ini diprediksi memerlukan memori dengan kapasitas masif, mencapai 900.000 wafer DRAM setiap bulannya.
Oleh karena itu, dalam kemitraan ini, Samsung berencana memasok memori dengan performa tinggi namun tetap efisien dalam penggunaan energi.