Menko Airlangga: Kualitas Lahan Food Estate di Papua Melampaui Australia

Rabu, 14 Januari 2026 | 10:48:11 WIB
Ilustrasi panen jagung di food estate Papua. [Foto: Sakti Karuru/Antara]

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memandang bahwa mutu lahan di wilayah Papua, terutama Merauke, memiliki potensi yang sangat besar guna pembangunan lumbung pangan nasional atau food estate.

Pandangan tersebut diperkuat oleh penilaian para pakar yang menyebutkan bahwa kualitas tanah di Papua jauh lebih unggul jika disandingkan dengan lahan pertanian yang ada di Australia.

Airlangga menjelaskan bahwa pembangunan food estate di Merauke difokuskan untuk menunjang sektor pertanian modern, termasuk di dalamnya produksi tebu serta etanol.

"Kalau dari berbagai expert Australia mengatakan, tanah di Merauke dibandingkan Australia itu lebih baik," ujar Airlangga dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit di Menara Kadin, Jakarta Selatan, dikutip pada Rabu (14/1/2026).

Menurut penjelasannya, para praktisi dari Australia tersebut melihat Merauke mempunyai keunggulan alamiah yang sangat mendukung industri pertanian.

Mereka menganggap Papua memiliki kecocokan lahan yang optimal, khususnya bagi komoditas tebu.

"Mereka para ahli dari Australia juga percaya bahwa Merauke bisa dikembangkan menjadi lumbung pertanian, apalagi mereka percaya bahwa tebu adalah tanaman indigenous dari Papua," kata Airlangga.

Melalui penerapan metode budidaya yang identik, tingkat produktivitas pertanian di wilayah Merauke diperkirakan memiliki peluang untuk mengungguli negara-negara lain.

"Mereka melihat bahwa yield dan yang lain, dengan metode yang sama, Merauke bisa menghasilkan lebih baik daripada Australia," ujarnya.

Airlangga memaparkan bahwa pengembangan food estate di tanah Papua juga memiliki kaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.

Di samping biodiesel, pemerintah kini tengah memacu pengembangan etanol dari bahan baku tebu sebagai zat campuran bahan bakar bensin.

"E5 (etanol 5 persen) atau E10 (etanol 10 persen) tentu membutuhkan 2 juta-3 juta (kiloliter) etanol dan ini akan baik kalau kita bisa produksi melalui food estate," katanya.

Guna mencapai target dimaksud, pemerintah melakukan langkah intensifikasi pertanian lewat penyediaan irigasi, pupuk, tenaga penyuluh, hingga bibit berkualitas.

Airlangga menambahkan bahwa kegiatan riset menjadi aspek kunci dalam upaya mendongkrak produktivitas.

"Salah satu yang merupakan game changer, tentu penelitian mengenai bibit. Penelitian berbasis genom itu juga satu hal yang harus kita dorong dan didukung," ujarnya.

Pemerintah sendiri telah mencadangkan area hutan dengan luas sekitar 481 ribu hektare di Papua untuk dialihkan menjadi kawasan food estate.

Proyek strategis ini dikonsentrasikan di wilayah Wanam, Kabupaten Merauke, dan dipersiapkan untuk menyokong swasembada pangan, air, serta energi.

Selain difungsikan sebagai pusat produksi pangan, area tersebut diproyeksikan menjadi basis pengembangan energi terbarukan, mencakup biodiesel dan etanol, dengan dukungan penuh dari berbagai kementerian serta pembangunan fasilitas infrastruktur pendukung.

Terkini