JAKARTA – Kementerian Investasi dan Hilirisasi menyusun delapan program prioritas guna mengejar target realisasi investasi senilai Rp2.175,2 triliun pada 2026.
Angka tersebut meningkat tajam dari pencapaian 2025 yang berada di angka Rp1.095,6 triliun dan diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional hingga 6 persen.
"Diharapkan dengan investasi yang masuk kami bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Inilah kontribusi yang diharapkan dari Kementerian Investasi dalam rangka pencapaian pertumbuhan ekonomi yang baik," ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani saat rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, dikutip pada Kamis (5/2/2026).
Rosan memaparkan jurus pertama yakni pemeliharaan serta pembaruan sistem perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik (OSS).
Menurut Rosan, OSS merupakan ujung tombak peningkatan investasi, namun perbaikan tetap diperlukan karena sistem dianggap berjalan lambat.
"Ini memang hal yang harus kami prioritaskan karena ini adalah ujung tombak kami dari OSS ini," ungkapnya.
Rosan juga menjelaskan urgensi pembaruan sistem OSS mengingat sistem yang beroperasi selama ini memiliki kecenderungan lambat.
"Sistem yang ada sekarang sangat lambat, sehingga perlu integrasi penuh agar meningkatkan kredibilitas, akselerasi, dan kepastian perizinan," jelasnya.
Jurus kedua dan ketiga meliputi penyusunan rencana aksi nasional Hilirisasi Investasi Strategis (HIS) serta implementasi peta jalan HIS.
Berikutnya, BKPM juga menyiapkan Investment Project Ready to Offer (IPRO) guna mengoptimalkan potensi unggulan di setiap daerah.
Jurus keempat yaitu pemasaran peluang investasi berbasis wilayah yang menyesuaikan keunggulan daerah masing-masing. Kelima, kemudahan serta percepatan perizinan berusaha, yang mencakup pelayanan dan pendampingan bagi para pelaku usaha.
Selain itu, keenam, BKPM turut menyiapkan jurus fasilitasi penyelesaian hambatan realisasi investasi dan pengawasan dengan basis risiko.
Adapun jurus ketujuh dan kedelapan yakni perluasan kerja sama internasional bersama mitra strategis serta peningkatan iklim investasi supaya lebih kompetitif.
Rosan merasa optimistis delapan jurus tersebut mampu mendorong masuknya investasi secara signifikan sekaligus memperkokoh fondasi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026.