JAKARTA – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memproyeksikan untuk menarik lebih banyak pelancong atau wisatawan asal Arab ke Indonesia di masa mendatang.
Hal ini didasarkan pada data kunjungan wisatawan Arab ke tanah air yang secara statistik belum sanggup menyamai pencapaian sebelum masa pandemi Covid-19.
"Kami ingin minimal balik gitu ya (angkanya), sama seperti sebelum pandemi Covid-19. Nah, apa yang harus kami lakukan? Kami strategikan ya, kami lihat kayak apa nih apa yang kami bisa lakukan berbeda," kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, dikutip pada Senin (12/1/2026).
Made memaparkan bahwa pada tahun 2019, jumlah turis Arab yang menyambangi Indonesia berada di angka sekitar 157.000 orang.
Namun, sepanjang hampir tiga tahun masa pandemi, angka kunjungan merosot tajam dan hanya berada di rentang 32.000 sampai 46.000 orang.
"Baru mulai di atas 100.000 (kunjungan) itu tahun 2023, terus mulai creeping up," jelas Made.
Angka kunjungan wisatawan asal Arab ke Indonesia sempat menyentuh titik tertinggi pascapandemi pada tahun 2024 dengan total kurang lebih 135.000 kunjungan.
Lebih lanjut, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga September 2025, tercatat sebanyak 113.685 warga Arab Saudi yang berwisata ke Indonesia.
"Kelihatannya dari prediksi, kami akan memenuhi target yang ditetapkan untuk Arab Saudi," lanjut dia.
Langkah Kemenpar dalam Mempromosikan Wisata Indonesia di Timur Tengah
Saat ini, Kemenpar sedang menggodok beragam strategi untuk menarik minat lebih banyak turis Arab ke Indonesia, salah satunya lewat kampanye langsung di kawasan Timur Tengah, terutama Arab Saudi.
1. Promosi melalui ajang pameran wisata
Langkah awal dilakukan melalui keikutsertaan dalam Arabian Travel Mart (ATM) di Dubai dengan target utama turis asal Arab Saudi. Promosi ini tidak hanya berpusat di Riyadh sebagai ibu kota, tetapi juga menyasar kota-kota besar lainnya seperti Jeddah.
2. Promosi melalui platform media sosial
Kemenpar juga menjadwalkan promosi destinasi wisata Indonesia bagi turis Arab lewat media sosial mulai tahun ini. Kampanye ini difokuskan untuk menarik minat warga Arab yang justru gemar bepergian ke luar negeri saat musim haji tiba.
Berbanding terbalik dengan jemaah dunia yang berbondong-bondong ke Tanah Suci, banyak penduduk lokal Arab yang memilih momen tersebut untuk berlibur ke mancanegara.
"Nah, kami lagi membuat sebuah strategi bagaimana agar ketika mereka ke luar negeri, mereka juga ke Indonesia gitu. Nah, memang isunya kan konektivitas nih," kata Made.
"Konektivitas nih yang yang sedang kami upayakan ya. Kami sudah koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, dengan industri juga," sambung dia.
3. Promosi lewat iklan pada sarana transportasi
Mengingat Indonesia merupakan negara dengan kuota jemaah haji terbesar di Arab Saudi, Kemenpar bersama Kementerian Haji berencana memanfaatkan momentum ini untuk beriklan pada kendaraan lokal di sana.
"Salah satu yang akan kami lakukan adalah (memasang ikan) di bus-bus itu. Kan bus-busnya keliling nih dan karena ada jutaan orang di sana kan, orang-orang dari seluruh dunia akan melihat," ungkap Made.
4. Penyelenggaraan kegiatan fam trip
Terakhir, Kemenpar bakal menggelar agenda fam trip ke berbagai lokasi favorit turis Arab di Indonesia, seperti kawasan Puncak, Bali, Bandung, hingga Lombok.
"Jadi kalau mereka suka high end, misalnya naik kapal pinisi, kemudian ada yang suka diving, minat khusus, ada yang suka makan, ada yang suka belanja, hal-hal seperti itu kami tunjukkan bahwa Indonesia punya," pungkas Made.