Diancam Trump, Iran Bersedia Buka Dialog Nuklir dengan Amerika Serikat

Selasa, 03 Februari 2026 | 11:21:09 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. [Foto: Morteza Fakhri Nezhad/IRIB/WANA via Reuters]

JAKARTA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya mengambil langkah melunak dan menyatakan kesediaan untuk memulai perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.

Hal ini menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump seandainya Teheran tetap bersikeras menolak jalur dialog.

Teheran menegaskan keinginan mereka pada jalur diplomasi, namun tetap memperingatkan akan memberikan respons tanpa batas terhadap setiap bentuk agresi dari AS.

"Presiden Pezeshkian telah memerintahkan pembukaan perundingan dengan Amerika Serikat (terkait program nuklir Iran)," demikian bunyi laporan kantor berita Iran, Fars, Senin (2/2/2026), mengutip sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya.

Laporan senada juga dipublikasikan oleh surat kabar pemerintah Iran lainnya serta harian reformis Shargh.

Seorang pejabat dari negara Arab menyampaikan kepada AFP bahwa pihak Iran dan AS bahkan telah merencanakan pertemuan yang kemungkinan digelar di Turki pada Jumat (6/2/2026) ini.

Pertemuan tersebut terlaksana setelah adanya intervensi dari negara Mesir, Qatar, Turki, dan Oman guna membahas isu sensitif tersebut.

Mengutip dua sumber, situs berita AS Axios melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan akan bertemu dengan utusan AS Steve Witkoff di Istanbul untuk mendiskusikan kemungkinan kesepakatan terkait isu nuklir ini.

Dalam wawancara dengan CNN pada Minggu, Araghchi menyatakan:

"Presiden Trump mengatakan tidak ada senjata nuklir, dan kami sepenuhnya setuju. Kami sepenuhnya setuju dengan itu. Itu bisa menjadi kesepakatan yang sangat baik."

Araghchi bahkan menambahkan bahwa sebagai imbal balik dari kesepakatan nuklir tersebut, "kami mengharapkan pencabutan sanksi".

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa Teheran sedang menyiapkan metode serta kerangka perundingan yang akan rampung dalam beberapa hari ke depan, di mana pesan-pesan antara kedua belah pihak disalurkan melalui para aktor regional.

Upaya perundingan ini bergulir di tengah ketegangan yang terus menyelimuti AS dan Iran, menyusul ancaman Trump yang berniat meluncurkan aksi militer ke Iran setelah mengirimkan armada kapal induk ke kawasan Timur Tengah.

Ancaman agresi militer tersebut muncul sebagai respons atas demonstrasi berdarah yang terjadi di Iran sejak akhir Desember lalu yang telah memakan ribuan korban jiwa.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah memberikan ultimatum bahwa setiap serangan AS ke tanah airnya akan memicu terjadinya "perang regional".

Turki kemudian memimpin dorongan diplomatik guna meredakan tensi yang ada. Menlu Iran Araghchi bahkan sudah mengunjungi Istanbul pekan lalu dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah mitra regional, termasuk di Mesir, Arab Saudi, dan Yordania.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi pada Senin juga meyakinkan Araghchi bahwa kerajaan tersebut "tidak akan menjadi medan pertempuran dalam konflik regional apa pun atau menjadi landasan peluncuran aksi militer terhadap Iran".

Terkini