JAKARTA – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan penegasan bahwa produsen serta distributor akan ditindak secara tegas apabila berani menaikkan harga daging sapi melebihi ketentuan pemerintah.
“Begitu menemukan harga di atas HET, jangan kejar pedagang pasarnya, tapi kejar distributor dan produsennya. Minyak goreng dan daging tidak ada ampun,” kata Amran dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Amran berpendapat, komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, dan gula juga tidak memiliki alasan untuk naik harga lantaran stok saat ini tersedia melimpah.
Keterjangkauan akses masyarakat terhadap daging ruminansia (sapi atau kerbau), khususnya menjelang momen Ramadhan dan Idul Fitri 2026, telah dijamin pemerintah dengan menyepakati harga sapi hidup sebesar Rp55.000 per kilogram (kg).
Kebijakan tersebut diterapkan selama masa Ramadhan hingga Idul Fitri agar para pedagang daging ruminansia bisa memberikan harga yang baik serta wajar kepada masyarakat.
Andi Amran Sulaiman menegaskan, jika terdapat pelaku usaha penggemukan sapi atau kerbau (feedlotter) yang menjual ke rumah potong hewan dengan harga di atas Rp55.000 per kg, pemerintah dipastikan akan mengambil tindakan tegas.
Kesepakatan harga sapi hidup tersebut diharapkan memberikan dampak positif pada Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen, sehingga daya beli masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri tetap terjaga.
Adapun HAP tingkat produsen dan konsumen untuk daging ruminansia telah diatur melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024.
HAP tingkat produsen sapi hidup dipatok pada kisaran Rp56.000 hingga Rp58.000 per kg.
Sementara itu, HAP tingkat konsumen untuk daging sapi segar (chilled) paha depan adalah Rp130.000 per kg, paha belakang segar Rp140.000 per kg, paha depan beku Rp105.000 per kg, dan daging kerbau beku Rp80.000 per kg.
Secara terpisah, Rozali, seorang pedagang daging sapi di Pasar Minggu, Jakarta, menyampaikan bahwa harga jual daging sapi saat ini berada di angka Rp135.000 per kg dan kondisinya masih relatif stabil.
“Harganya sekarang Rp135.000 per kilo. Itu memang harga jual kami di lapak,” ujar Rozali.
Ia menyebutkan bahwa harga karkas di level rumah potong hewan (RPH) sempat fluktuatif. Namun, hal itu tidak memengaruhi harga jual di pasar secara signifikan karena pasokan yang memadai.
“Memang kadang ada naik turun di RPH, tapi sekarang ini stabil. Tidak ada lonjakan,” kata Rozali menambahkan.
Ia juga menyatakan komitmen untuk menjaga stabilitas harga agar tetap terjangkau, dengan harapan harga daging sapi tidak melewati Rp140.000 per kg selama masa Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Kami juga sudah kerja sama dengan pemasok supaya harga tetap dijaga. Yang penting stok ada dan pembeli tidak terbebani,” kata Rozali.
Hal serupa diutarakan oleh pedagang lain bernama Apit yang menjual daging sapi dengan harga yang sama. Menurutnya, harga tersebut terjaga karena distribusi dari Rumah Potong Hewan (RPH) berlangsung lancar.
“Kami ambil dari RPH Cilangkap dan Cakung. Untuk sekarang pasokan aman, jadi harga bisa dijaga tetap stabil,” kata Apit.
Mengenai proyeksi menjelang Idul Fitri, pedagang tersebut merasa optimistis ketersediaan daging sapi tetap aman dan harga tidak melonjak. Informasi dari RPH memastikan stok tersedia hingga Lebaran nanti.
“Dari RPH juga bilang aman sampai Idul Fitri. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir atau panik,” kata Apit.