JAKARTA – Ketua Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama (AFPI), Entjik S. Djafar, menyampaikan bahwa kendala dalam pendanaan berhubungan erat dengan akses serta tingkat pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
“Tantangan pendanaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana, tetapi juga akses dan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan formal, baik perbankan maupun lembaga keuangan non-bank,” katanya dalam agenda CEO Forum 2026 bertajuk Strengthening Demand, Scaling MSMEs, dari keterangan resmi di Jakarta, dikutip pada Sabtu (31/1/2026).
Dalam situasi tersebut, sektor pendanaan daring atau pindar dianggap memegang peranan yang kian strategis.
Menurut Entjik, pindar tidak lagi sekadar menjadi pilihan pendanaan alternatif, namun sudah bertransformasi menjadi elemen penting dalam infrastruktur keuangan nasional, khususnya guna menjangkau kelompok underserved dan unbankable.
Berdasarkan studi kolaborasi antara AFPI dan Katadata Insight Center (KIC), industri pindar berfungsi sebagai penopang likuiditas rumah tangga lewat pendanaan multiguna, sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) produktif yang terlihat dari naiknya omzet serta aset para pelaku usaha.
Walaupun demikian, Entjik mengingatkan krusialnya upaya menjaga kepercayaan masyarakat.
“Ke depan, industri pindar harus terus memperkuat transparansi, tata kelola, serta literasi keuangan, agar pertumbuhan industri berjalan berkelanjutan dan bertanggung jawab,” ungkap dia.
AFPI bersama KIC pun memaparkan temuan riset berjudul Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia.
Riset tersebut memperlihatkan bahwa industri pindar telah beralih dari sekadar opsi pendanaan menjadi infrastruktur krusial dalam ekosistem keuangan tanah air.
Data riset menunjukkan bahwa pendanaan digital berperan sebagai pelindung likuiditas rumah tangga melalui pembiayaan multiguna yang mempertahankan daya beli masyarakat.
Pada aspek pendanaan produktif, UMKM yang memperoleh pembiayaan tercatat mengalami kenaikan omzet rata-rata mencapai 121 persen serta peningkatan aset hingga 155 persen, sekaligus memacu penggunaan kanal penjualan digital.
Hasil ini menunjukkan sumbangsih pindar dalam memangkas celah pendanaan, serta menyokong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Pindar juga menjadi jalan keluar bagi segmen underserved yang permohonan pinjamannya ditolak oleh perbankan konvensional.
Tingginya tingkat efektivitas ini dibuktikan dengan skor kepuasan (CSAT/Customer Satisfaction Score) yang mencapai 82,9 persen serta niat untuk menggunakan kembali layanan sebesar 78,3 persen.
Selain itu, distribusi pindar produktif kepada UMKM memberikan pengaruh pada ekonomi makro. Tiap Rp1 pinjaman produktif yang diberikan memberikan dampak sebesar Rp6 terhadap roda perekonomian.
Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News