AFPI Optimistis Pembiayaan Fintech Lending Tumbuh Tinggi di Tahun 2026

AFPI Optimistis Pembiayaan Fintech Lending Tumbuh Tinggi di Tahun 2026
Ketua Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah. [Foto: Liputan6.com/Tira]

JAKARTA – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memprediksi performa outstanding pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) tetap mampu tumbuh pesat pada tahun 2026.

Ketua Bidang Hubungan Masyarakat AFPI, Kuseryansyah, menyatakan bahwa hal tersebut didorong oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah masih besarnya permintaan masyarakat terhadap layanan pindar.

"Apalagi pinjaman daring segmen yang dilayani itu unbanked dan segmen unbanked di Indonesia itu tinggi, termasuk orang-orang yang dalam kategori first jobber atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang baru. Jadi, kami meyakini bisa tetap tumbuh lebih tinggi," jelas Kuseryansyah saat dijumpai setelah acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).

Di samping itu, Kuseryansyah memandang pertumbuhan industri pindar dapat melampaui kredit nasional pada 2026.

Sebagai perbandingan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan target pertumbuhan kredit perbankan nasional di angka 10%-12% untuk tahun 2026.

"Kami juga meyakini bisa tetap tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional yang ditargetkan sekitar 10% sampai 12%," ungkap Kuseryansyah.

Lebih jauh, Kuseryansyah mengakui bahwa industri pindar tetap akan menemui berbagai tantangan pada 2026.

Selain faktor geopolitik, Kuseryansyah menyebut industri juga berhadapan dengan tingkat literasi masyarakat yang masih harus dioptimalkan terkait layanan pindar.

Sebab itu, penguatan literasi kepada publik perlu konsisten dijalankan. Kuseryansyah memaparkan bahwa asosiasi beserta para anggota akan terus berusaha meningkatkan literasi ke bermacam wilayah pada 2026.

"Kami di asosiasi akan terus melakukan edukasi dan literasi. Kami sudah punya banyak sekali jadwal roadshow ke daerah-daerah. Harapannya dengan literasi tinggi, para pengguna muda bisa menggunakan platform pindar lebih tepat guna, rasional, and tidak cuma untuk coba-coba," papar Kuseryansyah.

Sebagai informasi, OJK melaporkan outstanding pembiayaan fintech P2P lending menyentuh angka Rp 96,62 triliun per Desember 2025. Jumlah tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 25,44% secara Year on Year (YoY).

Sementara itu, OJK mencatat tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 pada fintech P2P lending per Desember 2025 masih berada dalam posisi aman dengan persentase sebesar 4,32%.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index