Warga Lebanon Kemas Barang dan Stok Makanan, Antisipasi Eskalasi Ketiga Israel

Warga Lebanon Kemas Barang dan Stok Makanan, Antisipasi Eskalasi Ketiga Israel
Warga Lebanon menyiapkan stok makanan dan obat-obatan di tengah ketegangan yang meningkat di wilayah selatan.

KAWULA.ID — Sebanyak 9.000 orang tewas di Lebanon sejak Oktober 2023 akibat serangan Israel, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Di tengah gencatan senjata yang rapuh, warga di wilayah selatan kini menimbun obat, makanan, dan mengisi penuh daya perangkat elektronik mereka. Ketegangan meningkat menyusul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan putaran serangan baru terhadap Iran.

Warga Lebanon yang telah melewati dua gelombang eskalasi militer Israel kini bersiap menghadapi kemungkinan gelombang ketiga. Sejak gencatan senjata diumumkan April lalu, suara ledakan dan drone tak sepenuhnya hilang dari wilayah selatan Lebanon, terutama di area yang sebelumnya menjadi sasaran intensif.

Aya, warga Abbasiyeh di Lebanon selatan, memilih bertahan di rumahnya saat Israel meningkatkan operasi militer pada Maret. Tetangganya sempat menjadi sasaran serangan. Kini ia menyiapkan obat tambahan untuk kakek-neneknya, berjaga-jaga jika pasokan sulit didapat di tengah konflik baru.

"Selalu ada drone dan suara ledakan, tapi kami sudah kebal," kata Aya kepada Al Jazeera. "Saya tidak punya energi lagi untuk ini."

Gencatan Senjata yang Tak Pernah Sepenuhnya Hening

Hezbollah dan Israel telah berperang sejak Oktober 2023. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sekitar 9.000 orang tewas, mayoritas jatuh pada eskalasi musim gugur 2024 serta Maret dan April 2026. Dalam setiap ofensif, Israel melancarkan invasi darat dan menduduki wilayah hingga 10 kilometer di dalam Lebanon, tempat militer Israel membangun apa yang disebut "Garis Kuning".

Di bawah garis itu, Israel terus menghancurkan kota dan desa. Kawasan perbatasan sudah tak layak huni, kemungkinan selama bertahun-tahun ke depan. Gencatan senjata April diumumkan hanya lebih dari sepekan setelah Israel melancarkan lebih dari 100 serangan dalam kurang dari 10 menit, menewaskan lebih dari 350 orang.

Pada Juni, Beirut dan Tel Aviv menandatangani kerangka kesepakatan yang dimediasi AS untuk membentuk "zona percontohan". Dalam skema itu, militer Israel mundur dari sejumlah area dan tentara Lebanon masuk untuk melucuti Hezbollah. Pertempuran aktif mereda, tetapi serangan Israel dan penghancuran rumah serta infrastruktur di ujung selatan Lebanon berlanjut.

Bayang-Bayang Perang Iran dan Posisi Hezbollah

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dilaporkan mempertimbangkan putaran serangan baru terhadap Iran, terkoordinasi dengan Israel. Iran memperingatkan akan membalas target-target di kawasan jika serangan itu terjadi. Pertanyaan pun muncul: apakah Hezbollah, yang didukung Iran, akan kembali melancarkan serangan terhadap Israel?

Pejabat Israel menuduh tentara Lebanon gagal memenuhi bagiannya dalam kerangka kesepakatan. Tudingan itu dibantah pihak militer Lebanon. Analis menilai tuduhan tersebut bisa menjadi dasar pembenaran kampanye pemboman baru di Lebanon.

"Soal Lebanon, Israel tidak butuh provokasi itu," kata Mohamad Bazzi, analis politik Lebanon, kepada Al Jazeera. "Israel menghancurkan lebih banyak wilayah selatan di bawah gencatan senjata 17 April dibanding sebelumnya. Berulang kali Israel menunjukkan kesediaan menjalankan kebijakannya, menghancurkan sebanyak mungkin Lebanon selatan, membuatnya tak layak huni, dan menghukum komunitas Syiah."

Trauma yang Tak Pernah Selesai

Ramez, yang meminta namanya disamarkan demi keamanan, sedang berada di kamar tidurnya di Haret Hreik, pinggiran selatan Beirut, pada Juli 2024 ketika ledakan keras terdengar. Tak lama kemudian, gedung tetangga runtuh menimpa apartemennya. Sejak itu ia tinggal di rumah kedua keluarganya, sekitar setengah jam berkendara ke tenggara Beirut.

"Bagi saya perang tidak pernah benar-benar berhenti," katanya. "Tidur itu pertaruhan antara insomnia, mimpi buruk, atau serangan panik. Bahkan jika setiap negara di dunia membuang semua bom, peluru, dan senjata, trauma akan tetap ada."

Keluarganya menunda kembali ke rumah di Dahiyeh karena khawatir serangan bisa dimulai lagi. Aya pun mulai memikirkan kemungkinan meninggalkan Lebanon. Ia mengaku tak sanggup melewati pengungsian lagi, terutama saat menyaksikan orang-orang di sekitarnya menjalani hidup seolah tak terjadi apa-apa.

"Saya tahu itu normal, tapi bagi saya melelahkan secara mental," ujarnya. Warga Lebanon kini menunggu apakah ketegangan dengan Iran akan menyeret negara itu ke babak perang baru.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index