Ujung Sebuah Pesta Demokrasi yang Skeptis

Ujung Sebuah Pesta Demokrasi yang Skeptis

Apa yang terjadi dari sebuah Pesta Demokrasi yang skeptis?, masyarakat yang saling curiga. Dan kita dibawa pada masa-masa bernegara yang stereotip dalam melemparkan kritik, ke depannya.

Tentu, disebabkan karena ada bagian yang abu-abu, yang terendus dari sebuah ruang yang hampir memiliki akses untuk sampai di situ. Klaim salah satu pihak yang mengatakan sebuah kebohongan, dan dibalas tanding oleh bantahan pihak lainnya, menjadi sebuah eksodus baru dalam berdemokrasi.

Kita tak bertemu dengan apa yang dirumuskan oleh Thomas Hobbes. Ada distribusi yang terputus dari elit menuju rakyat. Abu-abu, dan di situ rakyat mencoba meraba dan berangkat dengan isu atau informasi yang tentu tak dijamin betul keakuratannya.Tapi layak untuk diargumentasikan.

Jaminan atas kedaulatan rakyat, dirampas habis-habisan secara semi vertikal. Keberagaman ras yang selama ini adalah kekayaan justru menjadi terbalik dari makna sebenarnya. Fanatisme bermunculan oleh sebab digiring oleh ketersiksaan salah satu identitas.  Kemudian, apa yang dilahirkan dari fenomena ini?, masyarakat yang terpecah.

Loading...

Ada klaim kemenangan yang abu-abu secara data komprehensif. Ada pula pelemparan data keunggulan salah satu kandidat dari hasil pesta demokrasi, yang notabene adalah petahana, yang tak lagi begitu mudah dipercaya masyarakat yang terlanjur menaruh curiga.

Kita seperti dibawa menemukan sebuah rumusan baru. Era digital dengan kebebasan akses dan transparansi sebagai vaksin atas over skeptisisme, bertemu fanatisme yang berpotensi membawa para penganutnya melakukan kebohongan-kebohongan lebih jauh. Kemudian apa yang dilahirkan oleh wajah demokrasi kita hari ini?; skeptisisme.

Secara hak, tak secara materialisme seperti yang diungkap oleh Karl Marx, kita jadi teringat Heolites yang memaksa Likorgos menjadikan Sparta istimewa di antara negara-negara kota Yunani. Pasca Orde Baru, kita paksa reformasi untuk bisa seperti yang dilakukan Likorgos dalam keterdesakannya oleh hantaman kaum Heolites.

Tapi Likorgos, sang pemberi hukum legendaris itu, pada puncaknya membukukan Retra Agung, konstitusi tertulis pertama di dunia. Berbeda dengan Indonesia hari ini yang tak lagi harus melakukan konstruksi seperti yang Likorgis lakukan. Indonesia hanya butuh jalan untuk kembali pulang. Entah itu secara konstitusi, maupun kebudayaan.

Hajatan rakyat yang berdemokrasi, yang pada mulanya mesti terlaksana dengan kondusif, harus kembali dihidupkan. Tentu tidak hanya berupa imbauan. Skeptisisme tak cukup dengan itu. Ia harus diobati dengan transparansi. Yang diberi mandat sebagai penyelenggara, tentunya tahu bagaimana hal tersebut bekerja. Jika tidak, kita akan kembali ke paragraf awal pada tulisan ini.

Apa yang terjadi dari sebuah Pesta Demokrasi yang skeptis?, masyarakat yang saling curiga. Dan esoknya, kritik tak lagi bekerja secara objektif.  Ia, kritik itu, akan sulit dihentikan dalam mekanisme yang stereotip.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *