Tentang Rindu

Tentang Rindu

Kerinduan adalah bola api yang dinyalakan
Allah dalam hati para kekasih-Nya, dan
membakar seluruh isi yang ada: berjuta
kecemasan, bermacam keinginan,
berbagai rintangan, dan beragam kebutuhan
(Imam Al-Ghazali dalam Al-Mahabbah wa al-Syawq al-Uns wa al-Ridha)

Tentang rindu, adalah sesuatu yang mendesak dada. Yang tiba-tiba diingat, dan berasal dari visual – sisa pelbagai kenangan. Sesuatu yang hendak terluapkan, tapi tertahan. Ia berada pada sempit ruang, mengalir di seluk waktu. Ia konklusi yang dikehendaki dengan segera. Tapi waktu, ruang di mana rindu bermanifestasi, hendak didesak secepatnya, padahal rindu hidup dari waktu yang bergerak seadanya.

Telah tertulis dalam Al-Qur’an, yang di dalamnya terdapat ayat “Qashashul”,  mengisahkan tentang perjumpaan Adam dan Hawa. Kejadian dua manusia pertama – tanpa meminggirkan tafsir Ibn Arabi dalam Futuhat perihal hadits Nabi serta pengalaman spiritualnya – yang terputus kebersamaan ruang atas cinta yang baru dirajut.

Bumi, saat itu, dipijaki bagiannya pada rentang jarak India dan Jeddah (Ibn Katsir dalam Tafsir Damaskun) oleh dua manusia ini. Yang dikehendaki Tuhan menjadi “Inni jaa’ilun fill ardhi khalifah”, justru terlempar pada dua medan yang tak dikenal sebelumnya. Ranum khuldi dari pohon surga, berujung pada lahirnya penyiksaan rindu pertama di dunia.

Siapa mampu menahan ketersiksaan asmara itu. Tapi Adam, entah menyesalinya atau tidak, dalam kurun waktu yang lama, beratus tahun mencari Hawa, menuju Jabal Rahmah yang tak diketahuinya, hanya tahu bahwa “Qada” Tuhan sedang bekerja; cinta meniadakan jarak, sementara rindu lahir dari arus gerak. Tapi cinta alangkah tegasnya, ia yakinkan rindu agar tak ragu menunggu.

Jika rumusan rindu adalah hasil dari berpencarnya ruang dan waktu. Seperti Adam dan Hawa yang dipisahkan ruang (Jeddah dan India), serta waktu (siang – malam), saya teringat pembelajaran jauh – dekat dalam ilmu tasawuf dari seorang Muhammad Baghir. Terdapat tiga bagian sederhana dan paling mendasar dari jauh-dekat dalam praktik tasawuf tersebut.

Pertama, jauh-dekat secara ruang. Menjadi jauh dan dekat jika diukur dari masing-masing ruang yang ditempati oleh masing-masing individu. Seperti sepasang kekasih yang berjanji bertemu di sebuah kafe yang disepakati sebelumnya. Dari narasi tersebut, ada yang menunggu dan ada yang menjelang.

Yang menunggu di kafe, dan yang menjelang belum pada ruang yang sama. Mereka berjarak sekian kilo meter dengan ruang yang berbeda suasana. Suasana hening kafe dengan kemacetan jalan, misalnya. Jika mereka telah berada pada ruang yang sama, maka salah satu syarat dari penuintasan rindu sudah terpenuhi.

Kedua, jauh-dekat secara waktu. Menjadi jauh dan dekat jika diukur dari berapa lama waktu yang dibutuhkan agar sepasang kekasih tadi bertemu pada sebuah kafe yang sama. Misal, yang menunggu, menghubungi kekasih yang akan menjelang dan bertanya perihal kapan atau berapa lama lagi orang yang dirindukannya itu sampai di tempat ia menunggu. Ini secara waktu, Jika mereka telah bertemu pada waktu yang sama, maka syarat kedua dari penuntasan rindu pula sudah terpenuhi.

Ketiga, jauh-dekat secara hadir. Jika sepasang kekasih di atas telah bertemu pada ruang dan waktu yang sama, maka mereka tinggal menyelesaikan apakah mereka saling merasakan kehadiran kekasihnya.

Lantas menjadi permasalahan. Sebab, milenial ini, cara orang berkasih-kasmaran sungguh sulit ditebak. Sepasang kekasih boleh pada ruang dan waktu yang sama, akna tetapi keduanya disibukkan dengan masing-masing gadgetnya. Ruang dan waktu terselesaikan, tapi rindu gagal melahirkan suatu perjumpaan yang “kangen” oleh sebab gagal menghadirkan suatu yang selalu “hadir” dalam hati dan pikiran masing-masing.

Adam dan Hawa tak berada pada ruang dan waktu yang sama. Beratus tahun mereka gagal menuntaskan itu. Akan tetapi, mereka saling merasakan kehadiran pada masing-masing hati dan pikirannya. Sejak itu, rindu diciptakan.

Rindu menjadi proses yang “asing” yang menjaga kebutuhan cinta itu sendiri. Proses kerja yang menggelisahkan, menghanyutkan, dan kerap tak henti memunajahkan yang dicintai dalam bentuk apapun. Oleh sebab cinta, maka rindu. Sebab merindukannya, karena mencintainya. Menjadi bagian dari proses Sunnatullah (Hukum Semesta).

Pembahasan rindu semakin menempati ruang yang eksklusif setelah ia bekerja untuk cinta yang bersifat ‘sejati’. Rasa sesak ingin mengalami perjumpaan, diselimuti gelisah, pembaraan, dan hal-hal lainnya yang datang dengan penggerakan gugah rasa. Rindu menjadi akronim dari sebuah proses. Rindu adalah manifestasi dari makrifat cinta yang telah berhasil diejawantahkan. Hingga nantinya kita akan bertemu dengan apa yang dikatakan oleh Goenawan Mohammad, bahwa cinta hanya bisa dimengerti sebagai proses. Rindu adalah eksekutor naratif dari cinta yang tak bisa dijelaskan.

Rindu akan berkurang hakikatnya, maknawiahnya, bahkan getirnya, jika rasa saling merindukan sudah saling diketahui. Cukuplah hanya ada yang merindukan dan yang dirindukan. Tetapi, seperti cinta, bagaimana pula hendak menahan rindu yang tiba? maka tempat terbaik untuk rindu yang sudah saling menggebu bukan dengan cara mengatakannya, tetapi dengan mendoakannya.

Rindu menginginkan sesuatu untuk terus hidup di dalam ingatan dengan tidak mengetahui perasaan subjek yang dirindukan. Rindu adalah eksekutor bagi cinta dalam menjalan ke-esensiannya. Hingga perasaan itu sama sejajar atau pembicaraannya sudah egaliter dengan iman. Seperti yang dikatakan oleh Goenawan Mohammad; ia tidak akan berhenti, ia akan tumbuh terus-menerus.

Tapi, Candra Malik dalam Fatwa Rindu, menggambarkan eksistensi rindu yang lain pula. Rindu menjadi sesuatu yang ghaib seketika, tapi pula bisa terjangkau secara kasat mata. Terlihat dalam goresan sajak sang sufi “jika rindu kuberi nama, maka tekepunglah aku oleh wajahmu”.

Tapi rindu tak menghendaki jalan pulang setelah perjumpaan, pula tak menginginkan perjumpaan yang menerus ada. Ia hanya pergi dan berada pada interval perjumpaan dan perpisahan. Sebab rindu tak ingin diketahui keberadaannya, sebab ia gemar, mencari yang dicintainya.

“Man Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu”
– Maulana Jalaluddin Rumi dalam Aforisme Sufistik –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *