Teman Pasti Mesra

Teman Pasti Mesra
Loading...

Teman pasti mesra—saat kekasih mungkin belum mampu seperti, atau bahkan justru melampaui, itu. Teman pasti mesra, memang, tapi dalam situasi saat ini, saya perlu merevisi pandangan yang lahir dalam kepala ini dua tahun lalu itu.

Semua itu terjadi saat saya mampir ke sebuah perumahan yang pernah menjadi wilayah permukiman saya dulu. Di kompleks padat penduduk— beserta gosip yang berseliweran di dalamnya— itu, saya salat Magrib di mesjid yang bertahun-bertahun lamanya tak saya sambangi—meski lokasinya cuma berjarak satu blok dari kediaman saya.

Agak lama saya memandangi tempat yang jamak disebut rumah Allah SWT: di dalamnya kini dilengkapi dengan pendingin ruangan dan toiletnya, yang dulu masih dalam masa pengerjaan saat saya akan pindah, kini sudah mampu menampung belasan orang. Aksesori pendukung lain, yang menambah keindahan mesjid itu, adalah kaligrafi besar di dindingnya.

Sebelum masuk ke sana, seorang teman dari kurun yang begitu jauh tampak memarkir kendaraan bermotornya. Ia masih sama: kurus dan punya pandangan tajam. Saya berniat menyapanya, tapi ia tampak terburu-terburu masuk ke mesjid. Azan sudah dikumandangkan, memang, kala itu. Mungkin karena tak punya banyak kenangan dengan teman tersebut, kecuali soal bermain sepakbola, saya tak terlalu berniat mencarinya di dalam mesjid.

Selepas salat, seorang teman lain, dari kurun yang sama, tergesa hendak ke luar mesjid. Saya sempat menyalami orang yang duduk di saf kedua itu, tapi ia, agaknya, tak mengenali saya yang kini sudah berkacamata. Ia terus melengos dan sebuah kenangan dari masa silam menimpa kepala saya:

Tujuh tahun silam, kami membatalkan puasa dengan sengaja—alasan klisenya: pekerjaan sebagai pedagang kecil-kecilan di tepi jalan pada momen Ramadan sangat menguras tenaga kami. Minuman kemasan dan rokok—tanpa makanan—menjadi menu “buka diam-diam” itu. (Mungkin teman saya itu lupa soal itu, tapi dosa tersebut kini merangkak, menggapai, lalu mencekau keras pundak saya.)

Bergerak ke hari itu, saat mendapati wajah teman lama saya kini, yang lusuh —dan ia masih kurus—, dan tercenung: kami pernah kenal dekat, saling melengkapi, bagai layar dan sauh, tapi kini semua terasa begitu jauh. Tiba-tiba saya berpikir: jika dalam momen Lebaran ini politik menyelinap dalam obrolan kami, apa teman lama itu bisa menerima pandangan dan preferensi saya di pemilihan umum lalu?

Namun, hal itu cuma ada di benak saya—tak akan pernah saya ungkap andai kawan-kawan tadi tetap berupaya keras untuk mengail jawaban dari bibir saya. Pasalnya, karut-marut soal politik di negeri ini sudah sampai pada taraf memuakkan—dengan segala pembahasan dan hoaks yang menguntit di balik semua kenyataan yang ada.

Tentu saya tak sendirian dalam perkara itu. Ketika saya berjuang untuk lepas dari obrolan politik yang terlampau gamblang untuk tak disebut sebagai pemelintiran fakta—yang dibalut dengan kecemasan, tentu saja— atau cocoklogi dalam istilah sekarang, juga ada bagian dari generasi saya, termasuk orang-orang yang lahir sebelum dan sesudah milenial, yang berupaya lolos dari jeratan itu. Bahkan, andaikata pertanyaan, “Kapan menikah?” atau “Kapan tamat kuliah” difusikan, pedih-perih jawaban atas keduanya belum mampu menandingi kejumudan yang lahir saat para kerabat mengetahui kalau pilihan politik sanak saudara mereka ini ternyata berbeda.

Mungkin saya terlalu jauh menarik premis: politik adalah tugas, yang tak sekali-dua justru menjadi pemicu konflik, kemanusiaan. Saya pun sadar bahwa selalu bias yang muncul dari sebuah persoalan, apalagi perkara (pilihan) politik, dan karena itu lamat-lamat menyadari: apa pun yang terjadi, teman saya, lama atau baru, tetap dalam garisnya; mereka akan ramah dan mesra sepanjang waktu, tapi bisa juga memutuskan untuk berbalik arah (dan itu memengaruhi sikap, tentu) kapan pun mereka mau— sebagaimana yang saya lakukan beberapa tahun lalu itu.

Mungkin karena itu juga saat hendak meninggalkan parkiran mesjid tersebut dan mulai duduk berboncengan di sepeda motor, saya merasa kalau semua kejadian tadi biasa saja. Teman pasti mesra, —pikir saya, waktu itu—, tetapi waktu memang mengubah orang-orang, termasuk kebiasaannya. Politik mungkin gagal membelah kami —kembali saya berpikir—, tapi pertemuan yang tak intens memang sering kali menjadikan kita asing saat berada di antara para handai tolan dari masa silam.

Menjelang magrib menghilang dan gerimis sejuk mulai berkecambah di udara, saya pulang. Sekali itu saya ingin benar berkaca dan bilang kepada seseorang yang ada di cermin: buang jauh-jauh keraguan karena teman-teman yang baik tak mungkin meninggalkanmu—perpisahan tidak serta-merta membunuh segala kenangan.

Teman adalah saudara—meski tidak serahim-sepersusuan.***

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *