Mitos Tentang Tapai, Kamu Percaya yang Mana?

  • 2 min read
  • Jun 23, 2020
Mitos tentang Tapai

Mitos Tentang Tapai, Kamu Percaya yang Mana? – Mungkin setiap orang sudah pernah mencicipi atau memakan tapai.  Panganan yang dibuat melalui fermentasi ragi dan jamur scharomyce cerivissiae ini sejatinya memang tergolong makanan tradisional.

Namun jangan salah, tapai kini dapat diolah menjadi camilan enak nan kekinian yang bisa kamu nikmati saat santai sembari minum teh atau minum kopi.

Di samping kelezatan yang dimilikinya, tapai ternyata memiliki segudang mitos, terutama dalam proses pembuatannya. Tingkat emosional atau psikis seseorang konon dapat mempengaruhi rasa dari tapai yang dibuat. Dengan kata lain, bukan sembarang orang yang dapat membuat sekaligus menghasilkan tapai yang lezat dan nikmat.

Lalu, apa hubungannya antara si pembuat tapai dan mitos yang ada? Kamu tentu penasaran, kan? Yuk, simak mitos tapai di bawah ini.

Jangan Buat Tapai dalam Keadaan Marah

Konon, si pembuat tidak boleh dalam keadaan marah, jengkel, sedih atau pun keadaan negatif lainnya saat membuat tapi. Hal tersebut disinyalir dapat membuat rasa dari tapai menjadi kurang manis bahkan bisa menjadi sangat asam.

Emosi negatif tersebut juga dapat mempengaruhi bentuk tapai sehingga tapai menjadi keras, bahkan gagal dan kembali ke bentuk sebelumnya.

Dilarang Membuat Tapai saat Menstruasi

Si pembuat tapai (dalam hal ini wanita) tidak boleh dalam keadaan masa menstruasi. Jika pembuat tapai sedang haid, si pembuat dilarang untuk mencampur adonan tapai ketan tersebut dengan air perasan daun katuk. Mereka boleh membantu dalam hal packing tetapi tidak boleh membantu dalam mencampur dua bahan tersebut.

Jika orang dalam masa menstruasi melakukan proses pencampuran adonan, warna tapai akan berubah menjadi warna merah. Hal tersebut dipercaya dapat membuat warna dari tapai ketan tersebut dapat berubah menjadi warna merah.

Para orang tua sangat percaya mitos tersebut. Beberapa juga mengaku pernah mencoba membuktikan mitos dan terbukti. Tapi, sebagian juga mengatakan bahwa itu hanya mitos. Sebab, hasil dari tapai yang baik tergantung pada kehigienisan saat pembuatan.

Itu tadi seputar mitos tentang tapai yang bisa kami informasikan. Pilihan untuk percaya atau tidaknya dengan mitos tapai ini bergantung bagaimana Anda menyimpulkan dan menyikapinya.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *