Sutradara Matsumura Shingo Bawa Film Between Us ke Festival Film Tokyo 2025

Sutradara Matsumura Shingo Bawa Film Between Us ke Festival Film Tokyo 2025
Sutradara Matsumura Shingo menayangkan film Between Us di seksi Nippon Cinema Now Tokyo International Film Festival 2025.

KAWULA.ID — Sutradara Jepang Matsumura Shingo menayangkan film terbarunya, Between Us, di seksi Nippon Cinema Now pada Tokyo International Film Festival tahun ini. Film ini mengikuti Makoto dan Kasumi, sahabat sejak kecil yang terpisah setelah sebuah insiden dalam camping keluarga bersama, lalu bertemu lagi enam tahun kemudian di klub drama sekolah menengah. Matsumura menyebut film ini lahir dari keinginannya membuat kisah sederhana tentang dua manusia yang awalnya saling membelakangi.

Matsumura Shingo kembali ke lingkaran festival dengan Between Us, film yang masuk seleksi Nippon Cinema Now di Tokyo International Film Festival. Seksi tersebut memang dikhususkan untuk karya-karya sineas Jepang terbaru. Film ini dibintangi Kawashima Ririka, Kurasawa Anna, Kikuchi Akiko, Usuda Asami, Saito Yoichiro, dan Miura Takahiro.

Sinopsis: Sahabat yang Terpisah Enam Tahun

Between Us berpusat pada Makoto dan Kasumi, dua sahabat masa kecil yang perlahan menjauh setelah terjadi sebuah insiden saat camping keluarga bersama. Enam tahun berselang, keduanya bertemu lagi lewat klub drama di sekolah menengah. Naskahnya sengaja meninggalkan banyak hal tanpa diucapkan, membiarkan kamera yang menangkap informasi emosional yang coba disembunyikan tiap tokoh.

Gaya Visual: Kamera Statis dan Jarak yang Jadi Bahasa

Matsumura, yang sebelumnya menggarap The Lump in My Heart (2023), punya aturan pribadi: tidak memakai kamera genggam dalam filmnya. Alasannya dua. Pertama, ia ingin membedakan tayangan layar lebar dari konten kamera ringkas yang berseliweran di YouTube dan media sosial. Kedua, ia ingin menangkap emosi para aktor secara jujur dan perlahan.

"Semua kamera sekarang jadi makin ringkas, dan Anda lihat semua video di YouTube dan media sosial yang diambil dengan kamera itu," ujarnya. "Jadi saya ingin membedakan apa yang saya tampilkan di layar lebar dengan konten semacam itu. Itu salah satu alasannya. Alasan kedua, saya ingin menangkap emosi para aktor dengan jujur, perlahan."

Ada kontras menarik dalam Between Us: film ini mengejar realisme emosional, tapi menemukannya lewat pergerakan kamera yang terukur dan presisi. Kedekatan Makoto dan Kasumi diterjemahkan menjadi jarak literal lewat blocking di tiap adegan.

"Yang lebih sulit digambarkan adalah meski mereka berjauhan, mereka merasakan keberadaan satu sama lain," kata Matsumura. "Saya ingin menunjukkan itu lewat penggunaan mata dan ruang: meski ada jarak fisik, mereka semacam menyimpan satu sama lain di pikiran, dan saya ingin mengekspresikannya lewat elemen lain."

Klub Drama dan Adegan Baca Naskah yang Mendekatkan

Klub drama kehilangan anggota karena Kasumi terlalu serius, sampai yang lain merasa tak sanggup mengikuti. Bahkan setelah Makoto bergabung, keduanya sering diambil dari jarak berjauhan. Matsumura menunjukkan proses pemulihan lewat keputusan editing yang sederhana: potongan adegan baca naskah mereka masing-masing disusun seolah keduanya saling bertukar dialog, dan tiap potongan membawa mereka makin dekat meski tak berada di ruangan yang sama.

"Dramanya fiksi, tapi mereka berbicara dengan bahasa mereka sendiri," ujarnya. "Dan dengan mengucapkan dialog itu, mereka bisa mengatakan apa yang tak mampu mereka ucapkan di dunia nyata, dan dengan begitu jarak mereka jadi lebih dekat."

Naskah yang ditemukan Kasumi, yang memberi judul film ini, menjadi pemicu yang mulai memperbaiki hubungan mereka. Secara harfiah, naskah itu membawa keduanya lebih dekat.

Latar Inspirasi: Gempa 2011 dan Luka yang Belum Tuntas

Kisah intim ini berangkat dari hal besar. Matsumura menemukan inspirasinya dalam rentetan bencana, dimulai dari Gempa Besar Jepang Timur 2011. Pandemi dan perang di berbagai belahan dunia melengkapi periode ketika ia merasa manusia sulit terhubung dengan sesamanya.

"Ada pandemi. Ada perang yang berlangsung di seluruh dunia, dan itu periode dalam hidup saya ketika saya berpikir mustahil bagi seseorang untuk terhubung dengan orang lain," katanya. "Jadi saya hanya ingin membuat film yang sangat sederhana dengan dua orang, dua manusia yang saling membelakangi, dan membuat mereka saling menatap, lalu bertanya energi seperti apa yang lahir dari situ?"

Ceritanya sendiri, tegas Matsumura, tidak berhubungan literal dengan peristiwa-peristiwa itu. Yang mengikatnya dengan trauma masa lalu keluarga Makoto dan Kasumi adalah satu kata: belum tuntas. Menurutnya, gempa, pembangkit nuklir, dan perang hanya dilihat orang selama masih jadi berita. Begitu hilang dari pemberitaan, publik merasa semuanya sudah selesai, padahal kenyataannya tidak.

Arahan Longgar dan Realitas Anggaran Film Jepang

Untuk kedua pemeran utamanya, Matsumura mengaku tidak memberi arahan khusus. Ia menilai keduanya punya minat besar pada orang lain, mendengarkan dengan saksama, menyerap kata-kata, lalu menjadikannya milik sendiri. Sifat itu membuat mereka natural memerankan Makoto dan Kasumi, dan Matsumura membiarkan mereka tampil sesuai perasaan masing-masing.

Soal industri, Matsumura menyebut tidak ada satu arus utama tunggal dalam sinema Jepang sekarang. Yang umum justru soal pembiayaan: anggaran satu film di Jepang sangat terbatas, jauh dari standar Amerika Serikat. Konsekuensinya, ada batas pada konsep yang bisa diangkat dalam satu film.

"Kami semua berusaha membuat film tentang subjek yang terjangkau, tapi kami tidak meraih hal yang sama. Kami meraih hal-hal berbeda, dan itulah lingkungan sinema Jepang saat ini," ujarnya. "Jadi kami tidak membuat film tentang satu subjek besar. Kami masing-masing membuat film tentang beragam subjek kecil."

Matsumura mengaku sedang berada di persimpangan karier. Pilihannya terbuka, dan Between Us jadi penanda posisinya kini: sineas yang memilih diam, jarak, dan detail kecil untuk bicara soal hal yang jauh lebih besar.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index