Spekulasi: Tuhan Tidak Bermain Dadu, dan Cinta Bukan Perjudian

Spekulasi: Tuhan Tidak Bermain Dadu, dan Cinta Bukan Perjudian

Tak ada yang bisa menebak masa depan, sebagaimana tak ada yang tahu kepastian masa lalu. Karena itulah pengetahuan sejarah dibutuhkan, dan karena itu juga spekulan ada.

Spekulan, atau orang yang berspekulasi, memang menjadi ironi di tengah segala ketakpastian hidup kita. Mereka, yang banyak terjun di bidang ekonomi, sosial, dll ini, kerap dikultuskan sebagai peramal yang sifatnya ilmiah. Dengan metodologi dan berbagai perhitungan (yang pasti?), para spekulan adalah subjek paling penting dalam sebuah masyarakat yang hidupnya penuh “ketidaktahuan”.

Tapi kita tak serta-merta percaya, tentunya. Ada banyak hal yang lebih penting ketimbang “membaca” masa depan. Salah satu yang paling penting adalah merumuskan masa depan itu sendiri.

Tapi bukankah kita sering menyerahkan masa depan kita pada hal-hal yang berbau spekulasi? Tentu saja. Misalnya sekolah atau urusan pendidikan.

Kita terbiasa menganggap bahwa urusan pendidikan adalah mutlak soal sekolah. Padahal, di sana ada waktu penting kita yang direnggut, yaitu waktu bermain.

Einstein bilang satu jam bermain lebih efektif ketimbang tiga jam baca buku. Di sini, kita tahu: membaca, apalagi terlalu banyak, bukanlah proses menemukan, tapi sebatas memasukkan informasi. Tapi dengan bermain, kita diajak berpikir dalam banyak hal. Karena bermain itu tak semenjemukan belajar, apalagi di sekolah, yang hampir tak punya laman untuk bermain.

Tapi ini abad 21. Orang-orang terbiasa mengejar nilai, dan lupa kualitas. Orang-orang biasa mengeja nama-nama besar, tapi abai: gagasan itu tak pernah besar; ia sederhana. Padahal kita, yang hidup setelahnya, yang kemudian membuat gagasan itu terasa besar, hingga, dalam situasi globalisasi dan percepatan teknologi, yang kita akses bukan lagi pengetahuan, tapi sekadar informasi.

Abad 19 memang melahirkan banyak spekulan, tapi setidaknya, mereka lebih dulu berusaha menemukan. Thomas Alva Edison, misalnya. Dalam sebuah kesempatan, konon, ia pernah meramalkan jika di masa depan (100 tahun dari 1900 M), buku akan digantikan oleh sebuah perangkat. Dan hari ini, kita menemukannya, bahkan, dalam gadget: e-book.

Tapi seorang peramal adalah ia yang tak akan menemukan dirinya di masa depan. Nostradamus, yang menulis “Les Propheties” dan terbit kali pertama pada 1555 adalah salah satunya. Dengan ramalan-ramalan hebat dan spekulasinya atas waktu, yang hampir-hampir tak bisa dipercaya pada masa itu, kini namanya dicatat sejarah sebagai seorang peramal paling berpengaruh. Hilangnya perbedaan bahasa, meledaknya (dengan dahsyat) gunung Vesuvius, adalah sedikit dari ramalan Nostradamus yang menjadi kenyataan. Meski, pada waktu itu, tentu diabaikan.

Tapi seorang peramal, sekali lagi, adalah ia yang tak akan menemukan dirinya di masa depan. Maka, jika pendidikan yang katanya menjanjikan masa depan saja bisa berkata lain atau mengkhianati kita, apa jadinya hubungan asmara yang berserah diri pada ramalan bintang belaka?

Benar, hasil tak akan mengecewakan proses. Tapi apa benar kita sudah benar-benar berproses? Atau barangkali kita terlalu sibuk untuk protes dalam proses tersebut, hingga hasilnya kemudian melukai kita? Entahlah. Tapi yang jelas, bermain membuat kita bersiap dengan kegagalan, sedangkan terus menerus sekolah, membuat kita lupa bahwa hidup adalah laman. Di sana, kita bebas bermain, tanpa takut gagal dan takut salah.

Tuhan tidak bermain dadu, kata Einstein. Dan tuhan bukan spekulan, kata saya, sebab hidup kita selalu dijaga kepastian-Nya.

Tapi laku menyerah ini tentu berbeda dengan berserah. Ketika menyerah, kita terpaksa tunduk, sekaligus malu. Sedang dengan berserah, kita mesti berupaya sekuat dapat, lalu baru urusan selanjutnya milik tuhan.

Tapi siapa yang lupa jika ini abad 21. Abad di saat penjajakan hubungan asmara penuh spekulasi: diterima atau ditolak, sesuai dengan cara yang, tentu saja, berbasis media sosial.

Ada yang luput di sana: pertemuan, meski ada yang bertaut juga: percakapan. Tapi bagaimana merumuskan suatu hubungan jika ia tidak dibangun berdasarkan laku yang nyata atau pertemuan?

Barangkali di sanalah jawabannya mengapa penjajakan tak pernah berlanjut jadi hubungan asmara yang nyata. Ya, karena percakapan yang terjadi penuh spekulasi, dan pertemuan keduanya nanti adalah upaya menebus rasa penasaran belaka.

Padahal cinta, harusnya, adalah hal-hal yang dijaga ketakpastian dan rahasia; bukan keingintahuan (yang penuh spekulasi), apalagi ketidaktahuan (yang penuh prasangka). Dan pertemuan itu, harusnya, juga makin menambah rasa penasaran, bukan sebaliknya.

Dengan kata lain, pertemuanlah yang akan mengukuhkan bahwa cinta itu rahasia. Tak seperti privasi (dengan segala macam kegalauan yang disingkap-dipamerkan) yang hari ini ramai-ramai diumbar ke media sosial hingga kita lupa, cinta itu tak terduga, dan untuk itu, kita harus berani bermain (dengan segala kemungkinan), dan bukan mempelajari, agar bersua dengannya.

Tuhan tidak bermain dadu, kata Einstein. Dan cinta bukan perjudian, kata saya. []

Baca juga:

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *