Setelah Wisuda Tak Ada Lagi

Setelah Wisuda Tak Ada Lagi

kawula.id – Jika ada kata paling penting dalam kamus kemahasiswaan kita hari ini, kata “wisuda” adalah yang paling mendekati. Mungkin bukan saat ini saja. Sebab wisuda memang sejak lama dianggap sebagai klimaks dalam proses kemahasiswaan (baca: menjadi mahasiswa); kegiatan yang menjadi akhir dari segala pergulatan moril dan materil dari para “agen perubahan bangsa” kita itu, setelah bertahun-tahun lamanya berjibaku di kampus.

Namun, apakah benar kegiatan wisuda itu merupakan akhir dari segala kehidupan mahasiswa?

Secara harfiah, tentu saja benar. Ketika toga dan baju “kebesaran” dikenakan, semuanya seperti telah selesai, bukan? Tak ada lagi kehidupan itu: bergelut dengan buku, berdiskusi, sampai berdialektika, yang konon katanya tradisi ini mulai hilang dari peredaran dan terkikis waktu. Semua telah selesai: biarlah angka-angka yang tercetak di ijazah saja yang menjelaskan. Gelar pun sudah di ada badan.

Lantas, apa yang sebenarnya belum selesai itu?

Menelisik ke masa sebelumnya, yaitu dunia perkuliahan itu sendiri, sejatinya ada banyak hal yang belum dan seolah tak akan pernah selesai. Hal ini tentu juga tergantung pada orientasi kehidupan mahasiswa selama masa perkuliahannya tadi. Ada mereka yang memusatkan diri dan perhatiannya di pusaran organisasi dan akrab dengan gelar “aktivis”: tipikal mahasiswa yang sepanjang hidup berkemahasiswaannya selalu mengab(a)dikan diri sebagai “penyambung lidah rakyat” dan kerap menjadi aktor, bahkan, inisiator dari aksi-aksi demo mahasiswa di kampus dan sekitarnya. Mahasiswa yang vokal menyuarakan ketidakadilan dan kebobrokan yang terjadi di lingkungannya.

Istimewa

Pertanyaannya: “Di manakah mereka setelah wisuda nanti?”

Bagi kalian para pengagum Gie dan pernah menonton filmnya (yang berjudul sama), tentu tidak akan asing dengan sikap dari rekan-rekan seperjuangan tokoh mahasiswa UI medio ’60an itu: setelah berhasil meruntuhkan rezim Soekarno, mereka pun berbondong-bondong merapatkan diri ke dalam barisan rezim baru Soeharto yang memang ikut mereka dirikan. Di film itu (juga di catatan hariannya), Gie tampak gelisah atas sikap dari para bekas kompatriotnya semasa perkuliahan dulu itu. Mereka, sebagaimana halnya Gie, ternyata telah mendirikan sebuah rezim penindasan terbaru. Beruntung, Gie menolak ambil bagian: ia “masih” idealis; ia belakangan juga menginsyafi “kekeliruannya” sebab merasa jika pemerintahan baru yang ikut dia bangun itu ternyata tidak menjanjikan perubahan. Ironis memang. Namun demikian, teman-teman seperjuangan Gie telah menentukan jalannya sendiri.

Meski begitu, tak sedikit pula dari kalangan mahasiswa “aktivis” ini yang bersetia dengan jalan hidupnya: mereka terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan memperjuangakan keadilan; mereka yang terus berada di luar pagar politik.

Kemudian ada tipikal mahasiswa yang memang sedari awal (masa perkuliahan) seakan tak tersentuh—atau mungkin belum—oleh masalah-masalah sosial dan politik. Tipikal mahasiswa seperti inilah yang paling banyak dan mudah sekali diidentifikasi dalam konstelasi dunia kemahasiswaan kita hari ini. Tak perlu diramalkan, sebab jenis mahasiswa yang memang seolah jauh dari akses dan rutinitas “perjuangan” ini, kelak, tak banyak berubah: koridor yang mereka lalui tetap sama, yakni dunia yang hedonisme, individualis, dan bertendensi kapitalisme. Meski, ada juga segelintir dari mereka yang terpikat untuk memperjuangkan keadilan setelah menyelesaikan pendidikannya.

Apa yang saya kemukakan di atas, mungkin hanyalah sedikit gambaran. Ada banyak jenis mahasiswa sebenarnya selama masa perkuliahan: tipikal wirausahawan, yang rajin mengikuti seminar, atau bahkan yang konstan bicara pergerakan meski, mengutip sajak Acep Zamzam Noor, “bangunnya selalu kesiangan”.

Lantas, setelah wisuda nanti, akan ke mana tubuh itu kalian bawa? Hanya kalian dan waktulah yang bisa menjawabnya. Sebab setelah wisuda, memang tak ada lagi yang namanya mahasiswa (“agen-agen perubahan bangsa”), yang tersisa pada kita hanya “alumnus”, baik dari sisi idealisme dan garis perjuangan: semua telah diwisuda oleh kepentingan dan kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *