Sering Minta Maaf, Tanda Orang Sering Berbohong?

Sering Minta Maaf, Tanda Orang Sering Berbohong?

Orang sering minta maaf, kata seorang filsuf, karena ia sering berbohong.

Untuk sebuah hubungan, katakanlah berpacaran, proses maaf memaafkan ini memang jadi sesuatu yang dilematis–selain problematis, tentu. Ada kegetiran di sana, sekaligus kekhawatiran: minta maaf berarti salah (juga kalah?), tidak minta maaf nanti malah disebut tak mau mengalah alias mau menang sendiri.

Sedangkan dalam konteks peristiwa, proses ini memang sangat kompleks. Itu sebabnya minta maaf terhadap sebuah kejahatan kemanusiaan hanya akan terjadi bertahun-tahun, bahkan, bukan oleh si pelaku (sebab ia telah meninggal, barangkali).

Sementara hari ini, untuk berada di pihak yang memberi maaf, betapa kita lihat orang-orang ramai mengutip istilah “forgive but not forget”; seolah-olah kesalahan bukanlah sesuatu yang bisa dipakai sebagai pembelajaran (ke arah yang lebih baik), melainkan sesuatu yang cacat (meski hidup terus saja berlangsung).

Akhirnya, memaafkan dalam konteks “forgive but not forget” ini bergerak ke arah “ketidakrelaan, tapi dikerjakan juga”. Ibarat kata, ini adalah laku menggerutu; keikhlasan dimatikan di sana.

Orang sering minta maaf, kata seorang filsuf, karena ia sering berbohong.

Tapi makna berbohong di sini tak sesederhana itu. Sebab, dengan kebiasaan berbohongnya itu, seseorang yang minta maaf ini boleh jadi juga sedang berbohong alias berpura-pura.

Sikap ini tentu berbahaya, karena pemiliknya bisa teridentifikasi sebagai penderita skizofrenia dan seorang psikopat (sosiopat). Dan untuk yang satu ini, tak usah jauh-jauh cari contoh. Mantan pacarmu yang maksa minta balikan, misalnya. []

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *