Sendiri Itu Seperti Wabah

Sendiri Itu Seperti Wabah
Loading...

Rudegirl on the broken heart,” kata Skamigo, “not feel so strong”.

Hari ini, sendiri itu seperti wabah; seperti sebuah masalah. Tak ada yang betah sendiri, berlama-lama sendiri; bersendiri. Alasannya, karena takut kesepian.

Jika dahulu kesendirian mendekatkan seseorang pada buku harian, juga puisi, dan tuhan (apalagi bunuh diri!), kini semua berganti: gadget telah mengambil perannya “sendiri”.

Masalah-masalah kemudian dibagi–meski konteksnya tetap dijaga: si aku mesti tetap sendiri. Dari kafe-kafe, warung-warung kopi kelas menengah ke atas, hingga kamar dengan televisi berlayar besar, pesan kesendirian si aku diberitakan ke seluruh linimasa. Si aku kini tak sendiri; komentar kemudian membandang.

Damhuri Muhammad, seorang Sastrawan, dalam sebuah opini di Kompas pernah menggambarkan bagaimana situasi si aku yang bersendiri ini: si aku sendiri–entah pula yang memang ingin bersendiri–datang ke kedai kopi hanya untuk menikmati kesendirian itu. Tak ada tegur-sapa; semua berjalan tanpa hubungan dengan sekitar. Sebab, kata Damhuri lagi, si aku mungkin jenuh dengan kebersamaan, meski ia tak sepenuhnya melarikan diri. Ia hanya ingin “bersendiri”.

Lain Damhuri, lain pula Seno Gumira Ajidarma. Pengarang cerita pendek (cerpen) fenomenal “Sepotong Senja untuk Pacarku” itu menggambarkan laku kesendirian lewat tokoh seorang aku dalam cerpen “Manusia Kamar”. Si aku, dalam cerita itu, yang belajar filsafat secara otodidak, diceritakan tengah merindukan dunia yang tenang; tanpa kebohongan. Ia hidup dalam kamar, ia menyendiri, ia tenggelam dalam bacaan.

Tapi kita tahu, cerita tak pernah selesai. Seno menutup cerpennnya itu dengan tokoh seorang lain–sahabat si aku–yang mencari-cari si aku, dan mirisnya, juga sendirian. Satu hal menarik dari cerita ini kemudian adalah, bahwa tak ada yang bisa lepas dari tatanan, komunitas; sebuah sistem–juga kontinuitas.

Si aku, yang dalam narasi Seno selalu memaki-maki kepura-puraan, hipokritas, dan semacamnya, akhirnya memang tak bersua dengan hidup yang utuh: sebuah kejujuran.

Tapi kejujuran, kata pepatah, adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Barangkali. Namun dalam cerpen Seno, mata uang itu tak berlaku lagi; waktu mengharuskannya bertukar. Mata uang mereka kini kebohongan.

Kita akhirnya, dalam pembacaan atas cerpen Seno tadi, memang tak bisa hidup sendiri. Paradigma berkembang, begitu juga peradaban. Maka, tak ada yang bisa dilakukan si aku selain mengumpat orang-orang di sekitarnya–meski ia tak lepas dari kritik.

Seno menulis cerpennya itu di tahun-tahun ketika Orde Baru tengah menajamkan kukunya ke kulit para penentangnya: “Manusia Kamar” itu adalah para penentang, yang tak bersepaham dengan cara hidup ala Soeharto, meski di beberapa bagian terasa paradoksal. Tapi Seno memang berhasil menganyam sebuah cerita yang berakhir dengan premis yang tak absurd: bagaimana hidup tak bisa dijalani sendiri.

“Rudegirl fallin love,” kata Skamigo, “and his fells down”.

Tapi manusia memang butuh saat-saat kesendirian itu, meski ia berpasangan; meski ia tahu sendiri adalah wilayah yang rawan. Tapi bukankah ia ingin menarik napasnya sendiri–tanpa bantuan? Lantas, ia hanya ingin berbagi tempat, kesendirian itu, dengan tuhan.

Baca juga:

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *