Sebelum Membaca Itu Dilarang

Foto: Antara
Loading...

kawula.id - Menatap wajah Anggun Cipta Sasmi yang mengaku pernah menjadi duta sampo lain--lalu hijrah ke sampo lain lagi--pada tayangan iklan di televisi, saya nyaris tidak pernah bisa untuk tidak ketawa jika teringat program duta di Indonesia alih-alih belahan bumi lainnya. Mulai dari soal pariwisata hingga bahasa, para duta kerap kali "hanya" menampilkan sosok "ganteng" dan "cantik", pintar berbicara, sambil bergerak dan berjalan bak peragawan seraya menyandang selempang atau mahkota di kepala mereka. Pemandangan itu jelas tak sepenuhnya lelucon--atau berwibawa, dalam pandangan orang lain.

Tiap duta, memang, mengandung kepandaiannya masing-masing.

Kesan berbeda dari duta-duta-an ini menjadi agak unik saat saya menyaksikan Najwa Shihab dalam sebuah tayangan di internet. Ia, dengan alis "investigatif" (yang cuma miliknya) itu, tampak berbicara dengan beberapa orang--satu di antara mereka: Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Sebagaimana yang dapat diduga orang-orang, Najwa pada hari itu akan kembali bersuara lantang. Topik pembicaraan adalah buku. Najwa, yang sejak 2016 (jika tak keliru mengutip) menjadi Duta Baca Indonesia, "menyerang" Moeldoko dengan sindiran "manis" (yang lagi-lagi hanya miliknya).

Kira-kira kesimpulan obrolan Najwa itu begini: "Membaca buku adalah hak semua orang dan tak bisa dilarang-larang." Moeldoko, purnawirawan tersohor itu, tampak diam--dan saya memang tak ingin mendengar penjelasannya kalaupun memang ada. Hari itu "mata" Najwa menengadah tajam kepada otoritas kekuasaan yang melakukan "penertiban" atas buku-buku terlarang di Indonesia--melalui "tangan" militer.

Para duta memang punya tugas sedih, akhirnya: mengingatkan orang-orang akan pentingnya bidang yang ia ampu atau wakili. Najwa telah menjalankan "tugas"-nya dengan baik, saat itu.

***

Novel karya-karya Pramoedya Ananta Toer (ilustrasi)

Mereka masuk ke toko buku itu dan membuat maklumat, kira-kira begini: "Kami menyita buku-buku ini karena ia mempropagandakan ajaran ideologi yang sudah dilarang di Indonesia." Seorang cendekiawan yang punya puluhan ribu pengikut di Twitter, "bersorak" karena pemandangan itu--dengan redaksi lebih kurang begini: "Penyitaan buku yang mereka lakukan hanya menunjukkan kebodohan alih-alih menyingkap fakta bahwa orang-orang ini belum membaca buku-buku yang diduga berisi propaganda tersebut."

Buku-buku yang disita itu memuat nama beken dan ditulis oleh seseorang yang juga rohaniwan: Franz Magnis Suseno.

Cendekiawan itu jelas tahu: Romo Magnis, demikian ia biasa disapa, adalah seseorang yang menentang ideologi terlarang tersebut. Buku-buku itu pun memuat kajian berisi kritik untuk ideologi dimaksud. Membingungkan saat membayangkan ada sekelompok orang menyita buku-buku dengan isi membedah pandangan terlarang--dengan kritik pula!--, tetapi demikianlah pemandangan di sebuah negeri pascakolonialisme bernama Indonesia.

Negeri ini sepenuhnya belum merdeka dari ketakutan akan hantu-hantu sejarahnya.

***

Gambar ini besar saya buat di papan tulis sekolah: sebuah palu dan arit melintang, bersinggungan. Itu adalah lambang Partai Komunis Indonesia (PKI). Saya ingin menguji, apa teman-teman sekelas tahu gambar ini?

Kenyataannya memalukan.

Tak seorang pun tahu, meski mereka peduli, akan gambar yang tergurat di papan tulis itu. Tahun 2010 itu memang tak ada kejadian aneh di Indonesia: buku tak dilarang (terang-terangan) dan demo berjilid-jilid yang seolah-olah membangkitkan kesadaran kolektif "umat" akan bahaya sekuler hingga Marxisme-Leninisme-Komunisme itu pun belum tercipta. Namun, hari itu saya tetap gundah karena teman-teman memang tak lagi mengenali (atau sama sekali tak tahu?) sejarah kelam bangsanya. Bahkan, untuk sebuah lambang dari partai paling terlarang di Indonesia--sekalipun cuma membicarakannya dalam diskusi warung kopi.

Setelah kejadian hari itu pula saya tahu--dari internet: peristiwa pembunuhan tujuh jenderal di Jakarta beririsan dengan pemusnahan dan pemenjaraan (tanpa proses pengadilan) terhadap ratusan ribu--bahkan, konon, jutaan--orang-orang yang terlibat/dianggap punya andil dalam kudeta merangkak tersebut. Hari itu juga saya berpikir bahwa buku telah melampaui internet--dan saya benar sekaligus keliru soal itu.

***

Jauh sebelum menyaksikan senyum Najwa di internet atau mengguratkan lambang PKI di papan tulis kelas: ini Bukittinggi pada 2003--2005 dan saya masih tinggal di situ.

Ketika akhir pekan datang atau memang ada waktu luang, hobi membaca menuntun saya ke sebuah kios penyewaan buku di salah satu pasar di kota itu. Tempat itu kecil saja: sebuah ruang, petak 3x4 meter, yang memuat ratusan buku dan majalah. Orang-orang dengan minat yang sama atau memang hanya iseng, biasanya berjejer di bangku-bangku kecil yang tersedia--dengan buku terkembang di hadapan mereka. Iuran yang ditarik pun murah: 300 sampai 1.000 rupiah untuk tiap jenis buku yang disewa. (Menyewa berarti membaca di lokasi.)

Setahun atau dua tahun sebelum mengetahui tempat itu, seorang kawan yang juga tetangga di depan rumah, datang memberi kabar: kalau mau membaca, datanglah ke pasar. Saya ingat saat abang si kawan pulang suatu hari dengan berjilid-jilid komik. Usut punya usut, ia harus menaruh uang jaminan sebesar 20.000 rupiah untuk dapat membawa komik-komik itu pulang, selain membayar uang sewa per bukunya.

Jelas saya tertarik akan hal itu, tetapi perkara uang jelas soal yang pelik. Orangtua saya pun, rasa-rasanya, bakal berpikir belasan kali untuk memberi uang "sebanyak" itu kepada anaknya, pada masa itu, meski niat sang anak mulia: membaca. Oleh sebab itu, tiap kali punya uang sedikit berlebih atau melalui keberanian untuk meminta beberapa ribu rupiah kepada orangtua, saya berangkat ke pasar, ke kios penyewaan buku itu.

Kali pertama datang ke situ, saya mendapati anak-anak sebaya yang duduk santai menekuri bacaannya. Bagi para pehobi membaca, tempat ini jelas "surga": ada banyak buku dan musuh terbesar di sini adalah waktu, juga debu. Ketika si penjaga kios saya perhatikan juga ikut membaca, "surga" itu kian naik tingkat--sesuatu yang nyaris tak saya temukan di perpustakaan, hingga hari ini.

Dua tahun bergaul dengan kios-kios lain dan menelan informasi hingga pengetahun dari buku sampai majalah, ada satu hal yang menggelitik saya hingga kini: kenapa perpustakaan kita tak pernah senyaman itu? Di situ, orang-orang tenggelam dalam bacaan seraya sesekali meneguk air mineral mereka atau makan cemilan. Semua tertib dan segan jika sampai mengotori buku--hal yang membuat buku-buku di situ lumayan terawat. Ruangnya lepas dan angin masuk dengan bebas--meski sebagian kios memiliki sirkulasi udara yang kurang baik sebab letaknya agak menjorok ke dalam pasar.

Mungkin karena pengalaman itu pula saya kurang suka berada di perpustakaan …

Hal lain yang menarik dari kios itu: buku-buku cerita dan novel sedemikian banyaknya dan kanak-kanak dipersilakan saja membacanya. Pada saat begitulah saya menemukan buku yang bersampul unik: seorang perempuan yang wajahnya tercakar di dua sisi. Buku itu: Cantik Itu Luka, karya Eka Kurniawan. Saya membacanya pertama kali pada tahun-tahun itu dan langsung menyenanginya. Tanpa tahu sosok Eka, yang memang sudah pantas menjadi om bagi saya, buku itu saya selesaikan dua hari dan … saya tak paham maksudnya.

Belasan tahun kemudian buku itu saya baca kembali dan membuat geli: Eka sepenuhnya menulis kronik-kronik besar dari sejarah Indonesia yang ia pelintir dengan ciamik--sesuatu yang pada pembacaan awal dulu saya anggap sebagai kisah absurd belaka meski aroma sejarahnya begitu kental.

Jelas tak hanya buku Eka yang tersedia di sana sebab ada koleksi lain yang saya kira tak kalah bagusnya. Satu yang terkenal adalah Max Havelaar, karya Multatuli. Buku itu saya baca di perpustakaan sekolah dan karena tak nyaman berlama-lama dalam ruangan yang terasa membosankan itu, saya tak lagi meneruskannya. Belakangan saya menemukan buku itu di kios penyewaan di pasar dan akhirnya roman yang menampar wajah kolonialisme Belanda itu rampung juga saya baca. Apakah buku-buku di kios itu novel yang tersedia di toko buku kota besar? Saya tak pernah tahu. Mungkin juga itu buku bajakan.

Bertahun-tahun lamanya saya tak pernah ke kios tersebut dan selalu tak punya kesempatan untuk menjenguk masa lalu di situ.

***

Ilustrasi

Apa yang menarik dari pelarangan buku?

Ketika Jaksa Agung mengeluarkan maklumat untuk menyita dan melarang peredaran karya Pramoedya Ananta Toer pada awal 1980an, konon, istri sang jaksa meminta sebuah novel yang dianggap membawa pemahaman terlarang itu. Kisah itu tentu membuat kita tertawa getir: buku yang dilarang itu bahkan masih menemukan pembacanya dan sialnya adalah istri si pemberi maklumat larangan.

Pada masa ini, ketika pelarangan buku kembali naik ke permukaan, ada sesak yang tersisa di hati orang-orang yang gemar membaca buku: para pelarang buku tampak konyol karena mencoba mengontrol tanpa analisis alih-alih diskusi sebelumnya. Pelarangan buku jelas mematikan dialektika.

Saya teringat Jerman karena itu.

Setelah Perang Dunia II selesai dan Jerman nyaris ambruk, pondasi baru perlahan-lahan dimulai. Memakai gaya lain dari Jepang (yang menghitung jumlah guru dan bersiap kembali membangun peradabannya melalui pendidikan), Jerman mulai menata kehidupan masyarakatnya lewat satu jalan penting: berdamai dengan sejarah. Buku Adolf Hitler, Mein Kampf, yang digadang-gadang berisi propaganda anti-Yahudi itu, justru dicetak ulang. Namun, ini poin pentingnya: para sejarawan turun gunung dan memberikan komentar pembanding. Sensor pun diberlakukan, terutama atas hal-hal sensitif yang disinggung Hitler terkait supremasi ras Arya yang diagungkannya itu.

Hasilnya: sayap kanan (neo-NAZI dan semacamnya) memang tetap ada, tetapi orang Jerman tampak lebih dewasa dan tegar menerima kenyataan buruk dalam sejarah mereka.

Di Indonesia kita melihat sebaliknya: sejarah dikubur dan pemaafaan dianggap sebagai jalan yang menyucikan pembantaian yang pernah terjadi. Tak ada diskusi--jikapun ada, ujungnya bukan lagi pergulatan bersama dalam mencari kata sepaham, melainkan baku hantam. Riskan, memang, hidup dalam negara yang bahkan tak menjamin sembuhnya luka sejarah. Akibatnya, orang mesti berbelok dari narasi yang diterima selama ini dan memilih jalan sunyi--lewat sastra dengan sejarah alternatif, misalnya--demi mengungkapkan kebobrokan cara pandang arus utama dan masa lalu yang dilap terus-menerus, padahal ia kian aus dan menua.

***

Para pembaca adalah duta-duta dari buku-buku yang mereka baca. Buku-buku adalah duta-duta budaya yang berbicara kepada orang per orang di semua tempat. Mungkin pada tahun 2045, usia ke-100 Republik, kita lihat orang di sini akan berdamai dengan sejarahnya--dan semoga lebih lekas lagi--agar tak ada lagi pelarangan buku dan kemerdekaan berpikir-berpendapat mampu terwujud dan terjamin.

Jika tidak lagi ada yang menjamin, mungkin gambaran yang tepat adalah: "In the time of universal deceit, telling the truth is a revolutionary act," tulis George Orwell dalam novel legendaris 1984--dan semua rumah di negeri ini mulai dipasangi telescreen.***



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar