Ruang Meditatif Pasca Tragedi Kemanusiaan

Ruang Meditatif Pasca Tragedi Kemanusiaan

Beberapa hari yang lalu, baru saja kita selesaikan hajatan rakyat Indonesia; pemilu dalam upaya mewujudkan demokrasi yang murni terus-menerus.

Beberapa hari yang lalu, baru saja kita selesaikan hajatan rakyat Indonesia; pemilu dalam upaya mewujudkan demokrasi yang murni terus-menerus.

Selang dua hari setelahnya, umat Kristiani dimasuki sebuah situasi suka-cita, haru, dan menyesali keduniawian diri dalam sebuah ritual mengingat kematian sang Mesias di Kayu Salib. Jum’at dalam kalender masehi, nun agung sebagai sebuah pemberkatan.

Sejarah teologi, beratus tahun lampau, di bukit Golgotha itu. Namun, spiritualitas peristiwa ini tak seperti adagium “Tuhan telah Mati” yang digaungkan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra.

Loading...

Kita jadi teringat Chairil dengan sajak “Isa”, sebuah sajak – sebagaimana Goenawan Mohammad nukilkan pada catatan pinggir – yang selalu diam-diam mengingatkan pembacanya pada peristiwa paskah. Sajak yang – lebih lanjut GM bercerita – ditulis tidak oleh orang kristen, lebih dalam, tak ada kata “salib” dan “penyaliban”, tak juga berbicara tentang dosa yang ditebus, tapi sebuah empati terhadap Tubuh yang dianiaya, berdarah, dan mampu memberi terang, setelahnya.

Puluhan tahun setelah penyair  yang tak lelah menunggu Sri Ajati pada senja di sebuah pelabuhan kecil itu wafat, Jokpin menulis sajak yang berangkat dari latar peristiwa yang sama.

Dalam sajak “Celana Ibu”, Jokpin, seperti kebiasaannya, hadir dalam gaya bahasa yang sederhana, tapi mampu menghadirkan humor, estetika, serta intensitas yang kuat dan konsisten dalam tiap sintaksisnya.

Layaknya Chairil, Jokpin tak menceritakan Yesus yang berdarah-darah dan penuh pengorbanan  terhadap umat yang dicintainya. Ia lebih menampilkan kasih sayang dari sosok seorang Maria, yang olehnya, pada sebuah kesempatan, mengatakan bahwa Maria sangat jarang diperhatikan lebih dalam dari peristiwa-peristiwa penting yang dialami seorang Yesus.

Baik Chairil, maupun Jokpin, dengan latar peristiwa yang sama, tentu agaknya, ada pesan yang hendak disampaikan di situ. Ada energi pengorbanan dan kasih sayang yang berangkat dari sebuah penindasan oleh kaum yang menentang pada suara-suara Illahiah pada masanya. Atau, kezoliman yang kerap diterima para utusan Illahi dalam sejarah yang termaktub dalam kitab suci agama-agama langit.

Sejarah adalah cara Tuhan mendokumentasikan peristiwa dalam warna yang berbeda. Dan kita dipaksa memahaminya dengan resolusi yang lebih luas. Sri Langka mengalaminya. Jum’at agung di negeri itu, menjelma minggu yang murung.

Di Gereja St Anthony’s Shrine di Colombo yang bersejarah, Gereja St Sebastian di Negombo — sebelah utara Colombo, dan Gereja Zion di Batticaloa, ledakan bom terjadi menyerupai malaikat maut yang bekerja dalam sebuah tragedi bencana alam. Dalam hal ini, sejarah kita baru saja, kembali dirudung tragedi kemanusiaan. Setelah sebulan sebelumnya, di dua Masjid di Selandia Baru, Christcurh, ritual keagamaan juga tercoreng perilaku-perilaku kebiadaban terorisme.

Di Minggu Paskah, hari yang diperingati sebagai bangkitnya Yesus untuk dinaikkan menuju Surga. Perayaan penting dalam tahun liturgi gereja-gereja Kristen, dan tercatat dalam keempat kitab Perjanjian Baru. Meneteskan kembali darah pada saat penyaliban sang Mesias, darah di Sri Langka, pula menjadi tinta merah dalam sejarah.

Kita tentu tak menginginkan munculnya konspirasi-konspirasi dari pihak luar yang berada di balik peristiwa ini. Kita tak menghendaki politik bangsa kolonialis abad ke-15 itu sedang bekerja. Devide et Impera, sistem yang benar harus dikutuk sejak dalam pikiran. Yang tentu lebih banyak lagi menghendaki kisah-kisah tragis dari perbenturan antar sektarian dalam keyakinan, atau lintas keyakinan beragama, yang saban hari, dengan tragedi kemanusiaan ini, kerap seolah selalu ditunda manifestasinya dalam mengirim pesan cinta kemanusiaan di segala penjuru dunia.

Lepas minggu paskah, umat kristiani memasuki masa renungan menuju Pentakosta. Lima puluh hari setelah Yesus dibangkitkan dari Kayu Salib. Dan liturgi, tahun ini dalam Masehi, disambut peristiwa kewajiban berpuasa dengan datangnya bulan Ramadan dalam almanak Hijriah. Perintah yang sama, yang dilakukan penganut Katolik berpuluh hari sebelumnya. Ruang berpuasa dan meditatif  bagi orang-orang Katolik.

Lima puluh hari pascapaskah, umat muslim pula dimasuki bulan syawal. Bulan berakhirnya perintah berpuasa dengan menggemanya takbir kemenangan. Bulan merayakan kefitrahan, kesucian kembali setelah berperang melawan diri sendiri sebulan penuh. Pada waktu yang sama, yang dalam keyakinan umat Kristiani, adalah masa di mana dicurahkannya Roh Kudus atau Roh Suci kepada para Rasul di Yarusalem setelah diangkatnya Yesus menuju Surga.

(Yesus berkata:) “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yohanes 14:16-17).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *