Romantika: Surat

Romantika: Surat

Ketika pertemuan jadi ukuran dari sebuah hubungan percintaan, Long Distance Relationship (LDR) menitipkan pesan penting: cinta ternyata hanya butuh pulsa dan kuota data karena, saat ini, kangen bisa tandas meski hanya lewat gambar (visual) dan suara.

Dewasa ini, akses internet pun kian mudah hingga korespondensi terasa gampang. Maka, tak ada lagi jarak (secara spasial). Yang ada hanya kian kurangnya “ketersentuhan” akan sesuatu yang dekat alih-alih yang dirindukan.

“Tapi anak-anak zaman sekarang tak ‘kenal’ surat,” kata seorang tua di kedai fotokopi itu.

Kita, generasi zaman baru ini, memang sepantasnya terhenyak: dahulu, muda-mudi di seantero negeri menitipkan kalimat-kalimat kerinduannya dalam sepucuk surat. Tak ayal, selain tukang kredit panci, kehadiran tukang pos atau yang akrab disapa Pak Pos selalu dinanti. Lantas, rindu yang membuncah tadi, kangen yang tak biasa di luar “kita berdua”, juga puisi-puisi atau senarai kata-kata indah yang kadang diselipkan sebagai pemanis di paragraf akhir, tumpah dalam pembacaan “yang tak akan pernah selesai itu”.

Ya, “tak akan pernah selesai”. Itu karena surat-surat tersebut disimpan, lalu diletakkan hati-hati bersama foto sang pacar untuk dibaca kembali. Kembali dan terus saja begitu hingga suatu waktu itu datang, yakni sebuah pertemuan (yang diharapkan). Tapi, sebagai generasi yang tak merasakan hal itu, kita tentu tak bisa membayangkan bagaimana nasib surat itu lebih jauh.

Yang bisa kita bayangkan adalah sepasang kekasih itu memeluk cintanya dengan teguh dan sungguh.

Atau jika kita tarik ke masa yang lebih tak terjangkau: muda-mudi yang tengah dimabuk asmara telah menitipkan harapan mereka kepada burung merpati. Di masa yang bisa kita bayangkan sebagai era penuh kerajaan itu, merpati benar-benar sibuk. Ia menating dua peran sekaligus: sebagai penyampai pesan atau, jika ternyata sepasang, jadi lambang kesetiaan. Tapi, kini, kurir cinta orang-orang yang mungkin hidup di abad pertengahan itu, hanya menjalankan peran yang pertama. Lantas, meski perannya bertambah di kurun ini, tapi esensi sang merpati kiranya tak berubah: ia kerap dan hanya jadi ikon cinta di karangan bunga, selain kadang-kadang juga tercetak pada undangan-undangan pernikahan. Sejak saat itu, praktis, sayapnya mulai digantikan bunga-bunga.

Tapi lain pula cerita yang terjadi saat ini: ketika kemudahan itu ada, pesan-pesan penuh cinta itu bisa menyeberangi kota-kota hingga benua dalam sekali tekan. Tapi, cepat pula kita mengerti: rangkaian pesan itu terputus dan tak genap. Maksud hati berkirim pesan dengan sabar, hati-hati, dan cermat, namun yang terjadi malah dua insan yang saling beradu cepat dalam mengirim atau membalas pesan. Padahal, saat itu, rindu mungkin jadi tak akurat. Ia ada, tapi samar alih-alih tak tergenggam. Emosi jadi dingin. Kangen menghala ke sisi lain. Tak sampai.

Tapi mungkin saat itu pula Short Message Service (SMS) atau surat elektronik (surel) alias E-mail jadi penting: tak perlu berpanjang-panjang, tapi sayang pula jika terlampau (di)singkat. Kebahagiaan memang tak diringkas di sana, tapi dikemas sedemikian rupa hingga ia, bahagia itu, bisa dimengerti oleh mereka yang tengah dimabuk asmara. Pada SMS atau surel itu pula menunggu jadi punya makna: cinta tak pernah tergesa, akal bekerja, dan, oleh karena itu, kata-kata yang ditulis jadi punya rasa. Lebih jauh, meski tak senikmat berkirim surat, tapi SMS dan surel memang membuat kita mulai menghargai waktu dan memaknai rasa kangen masing-masing.

“Hanya saja, anak-anak zaman ini tak ‘kenal’ surat,” kata seorang tua di kedai fotokopi itu lagi.

Mungkin karena itu pula kita patut bertanya-tanya: Sudahkah cinta yang dekat alias tak jauh merentangkan jarak itu benar-benar menyatukan kita; merekatkan kebersamaan kita? Apakah komunikasi yang kian mudah ini malah membuat kita kian asing dengan degup masing-masing ketika nanti bertemu muka? Masih pentingkah LDR, sementara pada cinta yang dekat saja kita kerap merasa sepi dan gundah?

Tapi sebaiknya kita lekas paham: jarak jadi penting karena dari situ kita belajar menghargai keberadaan dan mulai meresapi makna kebersamaan. Hanya saja, kadang-kadang, “berdekatan” juga perlu agar kita tak — meminjam larik Chairil Anwar- “mampus dikoyak-koyak sepi” karena saling “berjauhan”, agaknya, juga membuat kita pelan-pelan mulai dikutuk oleh kejamnya penantian.

Maka, karena itu pula kita tahu bahwa tiap generasi, kiranya, memang punya ‘surat’-nya masing-masing. Sejak lama pula kita sadar kalau kangen memang hanya lumat oleh perjumpaan, sementara rasa sayang bisa diasuh dalam doa-doa yang selalu men(y)enangkan.

Atau mungkin saja cinta tak seharusnya melulu diwakilkan oleh kata-kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *