Riau: Tour de Karhutla

Riau: Tour de Karhutla

kawula.id – Kedai itu menghadap ke Sungai Siak, di Pekanbaru. Lima menit lalu saya datang ke mari dan seorang ibu, pemilik kedai, menyambut saya–ramah seperti biasa. Terpisah dua meja dan empat kursi, kami mengobrol dengan suara agak keras.

“Kenapa ibu tidak pakai masker?”
“Lo, anak sendiri kenapa masih kuat merokok?”

Kami tertawa hampir berbarengan. Saya berpikir, waktu itu, kalau kecemasan akibat kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ini memang tak ada apa-apanya ketimbang keceriaan yang diberikan kehidupan kepada kami, warga terdampak. Unjuk rasa belum berlangsung kala itu dan saya kira memang tak penting lagi–mungkin karena maklum kalau pemerintah, di negeri ini, tak pernah tegas menindak para pembakar hutan.

Semua itu terjadi pada tahun 2015: titik balik dari bencana tahunan kabut asap yang terjadi di Provinsi Riau. Berselang beberapa hari setelah duduk di kedai si ibu, saya turun ke jalan–mahasiswa bergerak. Elemen lain dalam aksi massa itu: lembaga swadaya masyarakat, organisasi/serikat pemuda, hingga lembaga adat. Ribuan orang berkumpul dan mengutuk pemerintah daerah dan pusat yang lamban dalam menangani permasalahan rutin ini.

Tak ada gubernur hari itu; ia tak datang, sebagaimana ia tak juga datang kepada para warganya yang terdampak, seperti ibu pemilik kedai itu. Kurang lebih sepekan kemudian, ketika presiden datang, sang gubernur tampak unjuk muka. Hujan tiba, tak lama setelah presiden kembali ke ibu kota. Kanak-kanak di sekitar rumah saya menyambut riang hari itu dengan bermain air dan mandi di kubangan cokelat.

Namun, jauh sebelum hujan datang, orang-orang di sini tak bakal lupa: kabut asap masuk ke rumah, udara jelek, jalan-jalan putih belaka, langit biru seolah-olah cuma mitos, mata perih, kerongkongan gatal, batuk panjang berdentum dari dada dan mulut semua orang, bangsal-bangsal rumah sakit penuh, lansia terkapar, dan puncaknya, empat orang kanak-kanak meninggal dunia.

Hari ketika hujan datang adalah waktu saat kuburan mereka kembali basah.

***

Empat tahun kemudian, pada pertengahan Agustus, saya berkendara roda dua menembus sebuah malam. Sempat mengira cuma debu yang menghalangi pemandangan, saya kemudian sadar bahwa kabut asap tiba lagi di Pekanbaru. Beberapa pekan sebelumnya, gubernur baru di provinsi ini bilang kalau musim kemarau akan lebih panjang pada tahun 2019. Pada masa itu pula kabar-kabar di portal berita di Bumi Lancang Kuning ini mulai berhamburan mengabarkan kemunculan titik panas (hotspot) dan beberapa di antaranya diklaim sebagai titik api karena level confidence-nya di atas 70 persen.

Sepanjang jalan, malam itu, saya lihat beberapa orang warga mulai mengenakan masker penutup mulut.

“Musim kabut asap sudah datang,” ucap seorang bapak saat kami sama-sama berhenti di sebuah persimpangan jalan. “Pakai masker, anak muda.” Saya tertawa.

Memasuki September, kondisi kian parah: jarak pandang di Pekanbaru sempat turun hingga 400–500 meter. Di Pelalawan, yang bersebelahan langsung dengan kota ini, jarak pandang stagnan pada angka 400 meter. Sementara itu, di Indragiri Hulu dan Dumai, kurang lebih sama dengan Pekanbaru.

Tentu saja pemerintah tak tinggal diam sebab segala daya dan upaya mereka kerahkan agar api segera padam. TNI/Polri mulai terjun juga ke titik api. Salat istiska (salat meminta hujan) sudah digelar di hampir semua instansi pemerintah, tetapi hujan yang diharapkan tiba itu tak kunjung datang. Ketika presiden berkunjung ke mari, langit pun digarami–selain dilakukan penambahan kekuatan untuk memadamkan karhutla. Apa daya, kabut asap masih menggila di sini.

“Apa yang ditakutkan itu, muncul lagi, kan?” sebut seseorang di warung sarapan pagi, suatu hari.

Saya tak menjawab–pertanyaan sekaligus pernyataan itu pun entah ia tujukan kepada siapa. Langit tampak kian pucat, udara kembali beserbuk, rumah-rumah singgah dibuka lagi, rumah-rumah sakit konon sudah menggratiskan biaya pengobatan untuk pasien infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan sejenisnya yang diakibatkan kabut asap.

Akan tetapi, tiap pagi, orang-orang tetap pergi bekerja. Apabila mereka berkendara, hal itu tentu semacam tur. Tour de Karhutla.

***

Kanak-kanak di depan rumah saya itu, dengan/tanpa masker penutup mulut, mulai sering bernyanyi tiap pagi dan sore hari.

“Api oh api kenapa kau tak padam?
Cem mana aku mau padam, hujan tak nak turun, hujan tak nak turun …”

Entah kenapa, saya selalu ingin menangis mendengar nyanyian mereka, apalagi saat kabut asap masih belum pergi, seperti pagi ini.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *