Mengenal Apa Itu Resesi Ekonomi

  • 5 min read
  • Sep 04, 2020

Inflasi yang secara terus menerus terjadi pada suatu wilayah akan mengakibatkan terjadinya resesi ekonomi.

Apa itu Resesi Ekonomi?

Dalam buku Ekonomi Makro (2020) karya Abdul Rahman Suleman, resesi ekonomi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami produk domestik bruto (PDB) negatif. Resesi dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari siklus bisnis yang terjadi dalam ekonomi suatu negara.

Resesi ekonomi memberikan pengaruh kepada penurunan pada seluruh kegiatan ekonomi, seperti investasi, lapangan pekerjaan, dan penurunan keuntungan perusahaan.

Dalam sebuah perekonomian, semakin lama situasi resesi ekonomi berlangsung akan berakibat pada terjadinya depresi ekonomi.

Depresi ekonomi ini akan mendorong terjadinya istilah economy collapse atau kebangkrutan dalam ekonomi.

Dalam siklus ekonomi resesi, harga saham perusahaan yang membuat produk tahan lama akan berjatuhan, sedangkan saham emiten yang membuat produk tidak tahan lama, harganya relatif stabil.

Tanda-tanda Resesi Ekonomi

Berikut tanda-tanda awal terjadinya resesi dapat tercermin dari:

  • Indeks bursa efek turun terus menerus
  • Banyak barang ditawarkan, banyak kredit ditawarkan
  • Mulai pemutusan hubungan kerja
  • Mulai penutupan usaha

Indikator ini disebut leading indicator pasar ke arah bearish market. Penurunan kegiatan ekonomi mungkin hanya berlangsung beberapa bulan, biasanya kurang dari enam bulan.

Kemudian membaik kembali, sehingga belum masuk siklus resesi ekonomi. Namun, jika setelah enam bulan krisis ekonomi masih belum membaik, maka dikatakan sedang memasuki siklus resesi.

Resesi ekonomi dapat terjadi beberapa bulan sebelum membaik atau pulih kembali. Apabila resesi sudah berjalan 18 bulan dan ternyata belum pulih juga, maka hal tersebut merupakan tanda krisis ekonomi akan lebih parah.

Selain itu, jika sudah melewati 18 bulan dan belum selesai atau belum ada tanda-tanda akan membaik, berarti siklus akan memasuki depresi ekonomi.

Depresi ekonomi yaitu suatu keterpurukan ekonomi yang akan lebih panjang lagi atau memasuki siklus depresi.

Penyebab Resesi Ekonomi

Terjadinya resesi ekonomi sering kali diindikasikan dengan menurunnya atau meningkatnya harga-harga komoditas dalam negeri.

Jika tidak segera diatasi, resesi akan berlangsung dalam jangka waktu lama sehingga menjadi depresi ekonomi.

Dalam buku Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi dan Upaya Pencegahannya (2020) Eri Hariyanto, jika ekonomi suatu negara sudah sampai pada tahap resesi, maka pemulihan ekonomi akan lebih sulit dilakukan dan berujung pada terjadiya krisis ekonomi.

Ada beberapa indikator penyebab resesi ekonomi pada suatu negara, di antaranya:

  • Ketidakseimbangan produksi dan konsumsi

Keseimbangan di antara produksi dan konsumi menjadi dasar pertumbuhan ekonomi. Di saat produksi dan konsumsi tidak seimbang, maka terjadi masalah dalam siklus ekonomi.

Apabila tingginya produksi tidak diikuti dengan tingginya konsumsi, berakibat pada penumpukan stok persediaan barang.

Sebaliknya, jika produksi rendah sedangkan konsumi tinggi maka kebutuhan dalam begeri tidak mencukupi dan negara melakukan impor. Hal tersebut berakibat penurunan laba perusahaan yang berpengaruh pada lemahnya pasar modal.

  • Perlambatan pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dalam skala global, digunakan sebagai ukuran untuk menentukan baik buruknya kondisi ekonomi suatu negara.

Jika pertumbuhan ekonomi negara mengalami kenaikan secara signifikan, artinya negara tersebut dalam kondisi ekonomi yang kuat.

Demikian sebaliknya, pertumbuhan ekonomi menggunakan acuan produk domestik bruto yang merupakan hasil penjumlahan dari konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi dan ekspor yang dikurangi impor.

Jika produk domestik bruto mengalami penurunan dari tahun ke tahun, dapat dipastikan bahwa pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan mengalami kelesuan atau resesi.

  • Terjadinya inflasi atau deflasi yang tinggi

Di satu sisi, inflasi memang diperlukan untuk mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Namun, inflasi yang terlalu tinggi justru mempersulit kondisi ekonomi.

Hal tersebut karena harga-harga komoditas melonjak sehingga tidak bisa dijangkau semua kalangan masyarakat, terutama kelas ekonomi menengah ke bawah.

Kondisi ekonomi akan semakin parah bila inflasi tidak diikuti dengan daya beli masyarakat yang tinggi. Tidak hanya inflasi yang menjadi penyebab inflasi, melainkan juga deflasi.

Harga-harga komoditas yang menurun drastis (deflasi) bisa memengaruhi tingkat pendapatan dan laba perusahaan yang rendah. Akibatnya, biaya produksi tidak tertutup sehingga volume produksi rendah.

  • Tingkat pengangguran tinggi

Tenaga kerja menjadi salah satu faktor produksi yang memiliki peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian.

Jika suatu negara tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal, maka tingkat pengangguran di negara tersebut akan tinggi. Risikonya, daya beli rendah akan memicu tindak kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

  • Hilangnya kepercayaan investasi

Untuk menjalankan roda perekonomian dan mengembangkannya, otoritas setiap negara dituntut mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif baik dari segi keamanan maupun proyek-proyek strategis.

Tujuannya, agar dapat menarik minat investor untuk berinvestasi. Namun, bila pertumbuhan ekonomi turun maka memicu hilangnya kepercayaan untuk berinvestasi.

Hilangnya kepercayaan dalam berinvestasu mengakibatkan pertumbuhan ekonomi semakin lambat. Bisnis lesu, sehingga banyak produsen yang mengurangi volume produksi.

Sekuat apapun perekonomian suatu negara, bisa jadi memiliki titik lemah. Ketika titik lemah tersebut terhantam, maka mau tidak mau negara tersebut akan mengalami kelesuan dan kemerosotan yang disebut dengan resesi ekonomi.

Penting bagi setiap negara memantau laju pertumbuhan ekonominya per kuartal, agar dapat segera diambil kebijakan ekonomi yang mampu mengantisipasi atau mengatasi jika ditemukan adanya masalah.

Dampak Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi mengakibatkan penurunan secara terus-menerus pada setiap aktivitas di sektor ekonomi, misalnya ekspor dan impor, lapangan pekerjaan, investasi, dan juga keuntungan perusahaan.

Terjadinya resesi ekonomi menimbulkan efek domino pada masing-masing kegiatan ekonomi tersebut. Ketika investasi mengalami penurunan, maka tingkat produksi atas produk dan komoditas juga menurun.

Dalam buku Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi 1998 dan Upaya Pencegahannya (2020) karya Eri Hariyanto, resesi ekonomi umumnya terjadi tidak lebih dari satu tahun dan dianggap suatu gejala yang normal.

Terjadinya resesi ekonomi sering kali diindikasikan dengan menurunnya atau meningkatnya harga-harga komoditas dalam negeri.

Jika tidak segera diatasi, resesi akan berlangsung dalam jangka waktu lama sehingga menjadi depresi ekonomi.

Berikut beberapa dampak resesi ekonomi yang terjadi pada suatu negara, yaitu:

  • Masyarakat kehilangan pendapatan

Salah satu dampak yang cukup mengerikan adalah masyarakat bisa kehilangan pendapatan. Hal ini terjadi karena perlambatan ekonomi membuat beberapa perusahaan tutup dan tidak beroperasi lagi.

Dengan begitu, banyak perusahaan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

  • Turunnya daya beli masyarakat

Dengan banyaknya masyarakat yang menganggur maka berpengaruh pula pada tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat yang menurun. Hal ini juga berimbas pada keuntungan perusahaan yang mengalami penurunan.

  • Investasi

Resesi ekonomi juga memengaruhi instrumen investasi yang dilakukan masyarakat, salah satunya di pasar keuangan. Hal ini disebabkan menurunnya nilai suatu portofolio atau aset seperti saham.

  • Kurs dollar tidak stabil

Kurs dollar yang tidak stabil akan menyebabkan nilai rupiah menjadi melemah dan berdampak langsung pada sektor ekspor-impor Indonesia.

  • Tingkat suku bunga

Tingkat suku bunga yang tinggi menyebabkan Bank Indonesia akan menarik rupiah yang mengakibatkan inflasi yang meningkat pula.

Depresi Ekonomi

Depresi ekonomi dapat dikatakan sebagai titik terendah dalam sebuah siklus ekonomi. Hal ini ditandai dengan:

  • Kemampuan belanja masyarakat yang semakin menurun
  • Jumlah pengangguran yang sangat besar
  • Tingkat konsumsi yang semakin menurun sehingga menimbulkan kelebihan suplai di pasar domestik
  • Harga-harga barang kebutuhan semakin berjatuhan
  • Hilangnya kepercayaan masyarakat akan masa depan

Dalam sejarah perekonomian modern, salah satu depresi ekonomi terbesar yang pernah terjadi adalah pada periode 1930-1940. Di mana saat itu ekonomi Amerika Serikat nyaris berada di kehancuran total.

Contoh Resesi Ekonomi

Berikut beberapa contoh kasus resesi ekonomi yang pernah terjadi, yaitu:

  • Resesi Hebat 2008

Terdapat empat kuartal berturut-turut pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) negatif, yaitu dua kuartal terakhir 2018 dan dua kuartal pertama 2009.

Resesi dimulai pada kuartal pertama 2008 ketika PDB menyusut 2,3 persen. Ekonomi kehilangan 16.000 pekerjaan pada 2008.

Resesi dimulai pada kuartal pertama 2008 ketika PDB menyusut 2,3 persen. Ekonomi kehilangan 16.000 pekerjaan pada 2008.

Tidak seperti kebanyakan resesi, permintaan untuk perumahan melambat terlebih dahulu. Akibatnya, sebagian besar ahli ekonomi mengira ini hanyalah akhir dari sekotor perumahan, bukan awal resesi.

Berikut faktanya:

Pada 2008, PDB mengalami penurunan tajam sebesar 2,1 persen pada kuartal ketiga. DIlanjurkan penurunan sebesar 8,4 persen pada kuartal keempat. Pada 2009, PDB juga mengalami penurunan lagi sebesar 4,4 persen pada kuartal pertama dan 0,6 persen pada kuartal kedua.

  • Pengangguran naik menjadi 10 persen di Oktober 2009

Ketenagakerjaan turun sebesar 33.000 orang kehilangan pekerja pada Juli 2007. Kemudian membaik bulan Desember dengan mendapatkan 110.000 pekerjaan. Namun, Februari 2008 turun 48.000 orang kehilangan pekerjaan. Kerugian terus meningkat hingga pad Desember 2008 sebanyak 704.000 orang kehilangan pekerjaan. Bulan terburuk pada Maret 2009 sebanyak 803.000 orang kehilangan pekerjaan dan tidak segera membaik. Kemudian pada 2010 mulai membaik dengan adanya 180.000 orang mendapatkan pekerjaan.

  • Harga rumah turun 10 persen

Hal ini menandakan resesi yang berturut-turut pada 2008 dan 2009. Hal ini menjadi resesi hebat karena menjadi resesi terpanjang.

  • Perekonomian dunia 2015 lesu

Kondisi lesunya perekonomian dunia pada 2015 memengaruhi perekonomian Indonesia.

Kondisi ini berdampak pada turunnya realisasi pertumbuhan ekonomi nasional yang diprediksi mencapai level 5,5 persen namun pada realisasinya hanya tercapai pada kisaran 4,7 persen.

Pemulihan perekonomian global yang lamat dari perkiraan dan kekhawatoran akan pengurangan terhadao stimulus keuangan oleh The Fed menjadi penyebab utama lesunya perekonomian dunia dan berimbas pada perekonomian domestik.

Lesunya perekonomian dunia itu menimbulkan berbagai dampak terhadap perekonomian Indonesia, di antaranya:

  • Tidak tercapainya target-target yang tercantum dalam APBN 2015.
  • Kondisi ekspor Indonesia yang sebagian besar masih mengandalkan ekspor komoditi mentah mengalami penurunan permintaan.

Dengan dampak seperti itu, target penerimaan APBN tidak tercapai. Dampak lanjutannya adalah terjadinya peningkatan defisit APBN yang harus dibiayai dengan penerbitan utang baru.

Pemerintah harus menerapkan berbagai cara dan kebijakan agar perekonomian Indonesia segera keluar dari kondisi tersebut.

 

Source: kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hosting Unlimited Indonesia