Ramadan — Panti Rehabilitasi

Ramadan — Panti Rehabilitasi
Loading...

Jika hidup diibaratkan sebuah perjalanan, maka ia dalam keniscayaan jika diartikan bergerak jauh meninggalkan kebermulaan. Sebab, sebaiknya-baiknya perjalanan, adalah ia yang tak meninggalkan tempat di mana ia dilahirkan.

Masalahnya, dalam proses perjalanannya, lupa pada jalan kembali pulang adalah keniscayaan pula. Dalam hal menemukan kembali diri sejati. Sejak jasad meninggalkan rahim ibu, lantas sudah, kita masuk dalam penghitungan—berapa lama akan diberi kesempatan memerankan takdir Allah —sampai kembali ke alam yang tak termakan hukum waktu.

Dalam periode tersebut, nyawa yang terlahir fitrah sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-A’raf; 172, bahwa secara tadabbur, di mana Allah mengambil kesaksian terhadap setiap kelahiran jiwa adalah sebagai upaya mengingat ulang diri yang sejati dengan memberi sebuah ruang meditatif.

Dunia dengan segala misi superfisialnya, tentu berkontribusi besar mengaburkan dinding-dinding kesejatian itu sendiri. Dan puasa berperan dalam hal upaya melakukan deselerasi terhadap kontaminasi superfisial dunia itu.

Pada sebelas bulan saban tahun, kebebasan diberi dengan ilmu sebagai kontrolnya, yang kadang kala terlepas hingga menjadi sesuatu yang berlebihan, atau mungkin kurang dalam kondisi yang memungkinkan untuk lebih kuat menyikapinya.

Rentang waktu tersebut, kita hidup dalam mekanisme yang konvensional, dan hanya memberi sedikit waktu untuk ruang spiritual mengawalnya. Jika lapar, maka makan adalah mitigasinya. Meski dalam mitigasi itu sendiri ada syari’at yang lain lagi mengaturnya.

Dan  puasa secara ekstrem, menghentkan proses lazim tersebut seketika. Dan Ramadan, menyajikan ruang penghentian sistem hidup konvensional itu. Ia memiliki siklus tersendiri dengan metode sahur dan berbuka.

Tiba-tiba dunia di depan kita tak bisa disentuh. Manusia menjadi penantang serius dalam menghadapi keinginan-keinginan yang bersifat keduniawian. Tapi, tak cukup sampai di situ, jika menahan makan dan minum ada limitnya dalam berpuasa, lantas apa yang dikehendaki Allah melalui metode berpuasa itu.

Upaya tersebut, tak lain adalah edukasi dalam upaya meredam nafsu dan syahwat. Yang tak tampak, tapi berpengaruh besar terhadap cara manusia menjalani hidup sebelas bulan kemdian saban tahun.

Dengan metode berpuasa, ramadan menjadi semacam panti rehabilitiasi. Betapa betul, banyak hal yang terlalu berlebihan dilakukan kehidupan dalam pola konvensional duniawi.

Di Thailand, di Phra Putthabat, dekat kuil Thamkrabok, detoksifikasi dijalani oleh para junkie — istilah lain dari pecandu narkoba — dengan cara Buddha. Melalui Bikhsu, mereka, para junkie itu, disembuhkan mental dan fisiknya melalui ritual yang bersifat spiritual. Belum lagi di Brazil, di Rio de Janeiro, yang setiap junkie, saban pagi, meneriakkan kebesaran Tuhan di depan gereja Love of God.

Maka dari situ, kita berangkat memahami Ramadan lebih dalam lagi secara misinya; la’allakum tattaqun yang berarti menjadi manusia bertaqwa. Bahwa ia, Ramadan itu, diberikan Allah sebagai ruang meditatif dalam artian tak kasat mata.

Menjadi ritual yang secara proses akan melenyapkan diri ketika nanti takbir kemenangan atas pemasungan nafsu dikumandangkan, pada saat itu yang ada hanyalah kebesaran Tuhan.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *