Quraish Shihab: Nafsu Seperti Menggaruk Borok, Nyaman Tetapi Akhirnya Terinfeksi

Quraish Shihab: Nafsu Seperti Menggaruk Borok, Nyaman Tetapi Akhirnya Terinfeksi

kawula.id – Prof Quraish Shihab mengatakan bahwa nafsu tidak ada ujungnya. Dia mengibaratkan saat kita memenuhi pemuasan nafsu seperti menggaruk borok. Nyaman, tapi akhirnya terinfeksi.

Ibarat meminum air laut. Semakin diminum akan semakin haus. Akan tetapi, nafsu tidak boleh dihilangkan. Abi Quraish menjelaskan, ada saat-saat tertentu kita membutuhkan dorongan nafsu.

Prof Quraish Shihab menuturkan, ada banyak ‘jenis nafsu’ di dalam diri seseorang seperti nafsu makan, marah, dan lainnya. Oleh karenanya nafsu itu bukan untuk dimatikan, akan tetapi harus dikendalikan. Prof Quraish menyebut, berpuasa bisa menjadi salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu.

“Kalau Anda matikan nafsu, Anda ndak boleh makan. Kan ada nafsu makan. Anda tidak boleh marah, padahal ada waktunya untuk marah. Anda tidak boleh menikah, padahal ada waktunya untuk menikah,” kata Prof Quraish dalam sebuah video yang diunggah akun Mata Najwa di YouTube.

Menurutnya, nafsu itu tidak pernah puas. Dia mengibaratkan nafsu dengan anak kecil yang ingin terus menyusu meski usianya sudah lewat dua tahun.

“Kalau dibiarkan sampai empat-lima tahun dia menyusu. Harus mampu, ‘tidak boleh’. Ibunya sedih, tetapi harus mampu (menghentikannya),” jelasnya.

Prof Quraish menambahkan, seseorang harus ‘membuat perjanjian’ dengan nafsunya apabila mereka ingin menundukkan hawa nafsunya. Misalnya, selama Ramadhan ini berjanji untuk belajar 20 ayat Al-Quran. Namun ternyata target tersebut tidak tercapai, karena hanya mampu belajar 10 ayat saja. Maka di hari berikutnya harus berjanji lagi dengan target 30 ayat.

“Apa yang akan Anda lakukan untuk mengendalikan ini? Besok harus 30 (ayat). Kalau tidak, hukum dia. ‘Kamu mestinya (belajar) 20 (ayat) cuma 10 (ayat), kamu tidak boleh makan enak hari ini,” tuturnya.

Prof Quraish Shihab mengatakan bahwa nafsu tidak ada ujungnya. Dia mengibaratkan saat kita memenuhi pemuasan nafsu seperti menggaruk borok. Nyaman, tapi akhirnya terinfeksi.

Juga seperti minum air laut. Semakin diminum akan semakin haus. Akan tetapi, nafsu tidak boleh dihilangkan. Abi Quraish menjelaskan, ada saat-saat tertentu kita membutuhkan dorongan nafsu.

Prof Quraish Shihab menuturkan, ada banyak ‘jenis nafsu’ di dalam diri seseorang seperti nafsu makan, marah, dan lainnya. Oleh karenanya nafsu itu bukan untuk dimatikan, akan tetapi harus dikendalikan. Prof Quraish menyebut, berpuasa bisa menjadi salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu.

“Kalau Anda matikan nafsu, Anda ndak boleh makan. Kan ada nafsu makan. Anda tidak boleh marah, padahal ada waktunya untuk marah. Anda tidak boleh menikah, padahal ada waktunya untuk menikah,” kata Prof Quraish dalam sebuah video yang diunggah akun Mata Najwa di YouTube.

Menurutnya, nafsu itu tidak pernah puas. Dia mengibaratkan nafsu dengan anak kecil yang ingin terus menyusu meski usianya sudah lewat dua tahun. “Kalau dibiarkan sampai empat-lima tahun dia menyusu. Harus mampu, ‘tidak boleh’. Ibunya sedih, tetapi harus mampu (menghentikannya),” jelasnya.

Prof Quraish menambahkan, seseorang harus ‘membuat perjanjian’ dengan nafsunya apabila mereka ingin menundukkan hawa nafsunya. Misalnya, selama Ramadhan ini berjanji untuk belajar 20 ayat Al-Quran. Namun ternyata target tersebut tidak tercapai, karena hanya mampu belajar 10 ayat saja. Maka di hari berikutnya harus berjanji lagi dengan target 30 ayat.

“Apa yang akan Anda lakukan untuk mengendalikan ini? Besok harus 30 (ayat). Kalau tidak, hukum dia. ‘Kamu mestinya (belajar) 20 (ayat) cuma 10 (ayat), kamu tidak boleh makan enak hari ini,” tuturnya.

“Itu pengendaliannya seperti itu. Jadi banyak cara itu (untuk mengendalikan nafsu),” lanjutnya. 

Simak video selengkapnya di sini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *