Puisi-puisi Febri Al-Meutuah

Puisi-puisi Febri Al-Meutuah

Konak

Busur matamu nan rembulan

Serta dagumu yang lautan itu

Ingin sekali rasanya aku berlayar pada malam-malam yang sengit,

Seperti alkisah bahtera lancang kuning yang dinahkodai.

Aku ingin berlayar dan mengikuti tarian ombak yang ada pada tubuhmu…

Terombang ambing dan tenggelam di palung sukmamu..

Sampai akhirnya aku terdampar pada punggungmu yang menjelma permadani.

Aduhai…

Aku mabuk jika jemari hujan mengepal malam.

Tubuhku dingin

Otakku konak

Dan

Begitulah aku menafsirkan rindu yang berbalut nafsu.

Ntahlah…

Hujan tak pantas disalahkan jika tak sengaja berpapasan dengan malam.

Puan Penabur Rindu

Wahai puan penabur rindu

Izinkan aku bermalam di matamu

Kita merangkai cerita

Sebesar harapan yang kubawa

Mengalirkan doa-doa

Pada telaga asmara

Di bawah bulan malam ini..

Aku menyajikanmu malam bergemintang..

Agar kita bisa mencipta romansa saat menerka nerka tarian ilalang di altar savana…

Wahai puan penabur rindu..

Biar kubawa cerita kita pada mimpi,

Kusemai doa di dalam sujud

Kita belajar ikhlas pada puncak malam yang dilahap syuruq

Setelah temu, kepergian takkan kita elakkan..

Alcatraz dan Matamu

Sejujurnya puan,

Aku telah lama terpenjara mati di dalam tatapanmu

Jika itu adalah Alcatraz yang pernah kusabdakan pada syairku yang lampau,

Ya, biarlah aku tetap tinggal pada matamu

Yang bundar dan berkejora

Disudut malam yang paling kelam

Doa mengalir pada sungai-sungai nadiku,

Bermuara di kepalaku,

Kukembangkan layar harap mengikuti arus semesta

Jika memang pada akhirnya aku berlabuh pada pulau hatimu,

Izinkan aku terdampar lama

Pada bibirmu

Kita susun serpihan cerita

Yang pernah luluh lantak oleh ombak kedukaan

Jika malam tiba,

Kita ikuti dawai angin bermain biola.

Jika ada yang marayu untuk berdansa,

Itu adalah jari jemari hujan yang sedang mabuk asmara…

Atas Nama Kau dan Senja

Akan tiba saatnya

Kita saling ria menenggelamkan senja yang  tunak di ufuk barat

Menghibur ilalang yang tertunduk murung ditinggal angin

Menghitung dedaunan kering di dahan cemara

dan Mengira-ngira darimana arah datangnya kejora menyingsing petang

Aduhai..

Aku tak ingin melewatkan itu

Melihat matamu yang terpapar cahaya jingga pada senja

Aku tak ingin melewatkan itu

Menikmati pipimu yang menepi di punggungku

Sungguh, aku tak ingin melewatkan itu

Lewat aksara yang melalangbuana ke dasar jiwa

Atas nama kau dan senja

Aku sungguh tak ingin melewatkan itu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *