PKS Jadi Oposisi Pemerintah, Sohibul Iman Singgung Pernyataan "I dont read what i sign" Jokowi

Presiden PKS Sohibul Iman (tengah).(Foto: KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)

Sikap oposisi diambil oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) usai Pemilu 2019. Menurut Presiden PKS, Sohibul Iman, langkah partainya itu bukan bertujuan untuk menjatuhkan pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, melainkan hanya ingin mendorong pemerintah bekerja demi rakyat.

"Posisi kami di luar pemerintahan tiada lain untuk kepentingan masyarakat. Sebagai oposisi, bukan berarti kami akan menjatuhkan pemerintahan, tetapi justru kami ingin mengajak pemerintahan ini kepada rel yang benar sehingga benar-benar memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat," katanya, Jumat (15/11/2019).

Ia menambahkan, posisi PKS sebagai parpol oposisi diharapkan dapat terus memberikan masukan dan koreksi terhadap pelbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Bukan hanya di sektor politik, PKS pun berkomitmen mengkoreksi kebijakan di sektor ekonomi maupun sistem ketatanegaraan secara umum sebab mereka menilai hal-hal tersebut tidak diurus secara profesional.

"Nah, ucapan atau headline sebuah media yang menyebutkan 'I dont read what i sign', misalnya. Itu sebenarnya sudah mewakili tentang tata kelola negara ini tidak dikelola secara profesional," bebernya.

Diketahui, kalimat "I dont read what i sign" tersebut datang dari Presiden Jokowi pada 2015 lalu terkait kenaikan tunjangan uang muka pembelian mobil bagi pejabat yang termaktub dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2015 tentang Tunjangan Uang Muka Kendaraan Bermotor Perorangan Pejabat Negara. Jokowi kala itu menyatakan, dirinya tidak membaca semua materi yang ditandatanganinya, termasuk Perpres dimaksud.

"Oleh sebab itu, kami harus kemudian bisa mengoreksi semuanya. Banyak bahan yang bisa kami lakukan koreksi terhadap pemerintahan Pak Jokowi," tutur Sohibul.

Ditegaskannya juga, target PKS adalah menjadi partai utama di basis pemilih Islam. Ia menyebut, untuk mewujudkan itu, seluruh kader harus fokus menjalankan agenda strategis partai sehingga orang lain dapat memikirkan hal-hal yang PKS akan kerjakan.

"Hari ini, kami, dengan penegasan sebagai partai yang berada di luar pemerintahan, kami harus punya mental sebagai leader. Kami harus berbuat yang membuat orang lain menunggu kira-kira langkah apa yang dilakukan oleh PKS," tuntasnya.







[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar