Persaudaraan Jadi Terhambat Karena 3 Hal Ini

Persaudaraan Jadi Terhambat Karena 3 Hal Ini

kawula.id – Kesalahpahaman tentang ajaran agama, emosi keagamaan yang berlebihan, dan peradaban umat manusia dewasa ini adalah tiga sebab utama yang sangat berpotensi menghambat lahirnya persaudaraan kemanusiaan.

Tiga sebab penghambat persaudaraan kemanusiaan, itu dikemukakan Prof. Quraish Shihab.

Pengarang Tafsir Al-Misbah itu menilai, sementara orang menduga persaudaraan seagama bertentangan dengan persaudaraan sekemanusiaan. Padahal, agama tidak mengajarkan pertentangan itu.

“Manusia adalah ciptaan Tuhan. Pencipta selalu mencintai ciptaannya. Kesalahpahaman tentang ajaran agama, bisa mendorong seseorang menutup diri dan memutuskan hubungan dengan kenyataan, dan kenyataan itu tidak bisa dihindari,” katanya, seperti dilansir dari NU, Kamis (19/9/2010).

Menurutnya, kesalahpahaman tentang agama menjadikan sementara orang mengira bahwa paham kebangsaan yang menetapkan hak dan kewajiban yang sama dalam kewarganegaraan itu bertentangan dengan ajaran agama.

Sehingga kesalahpahaman juga menjadikan sementara orang enggan membantu pihak yang berbeda agama. Bahkan, melarang walau menyampaikan ucapan basa-basi. Padahal menurutnya, menutup diri merupakan perbuatan yang tidak bermanfaat.

“Yang kita butuhkan adalah bagaimana hubungan itu kita hadapi dan kelola sehingga tidak menciderai nilai-nilai agama. Tidak juga menjadikan kita lupa bahwa kita bersaudara sekaligus berse-udara. Udara yang tercemar dampaknya menimpa kita semua,” sambung mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Kedua adalah emosi keagamaan yang berlebihan. Ia mengatakan, emosi tersebut sering mengundang orang yang berpengetahuan sekalipun bersikap tidak adil. Bahkan, mereka mengucapkan kalimat-kalimat yang justru bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. Persoalan itu terjadi di belahan dunia timur dan barat, tidak terkecuali di Indonesia.

Seharusnya emosi itu dapat diarahkan sehingga melahirkan cinta yang merupakan inti ajaran agama-agama. Ihsan dalam agama Islam dan dalam konteks hubungan manusia, memandang orang lain adalah diri sendiri.

“Dengan cinta, kita dapat berhubungan harmonis. Bahkan, menyatu walau kita berbeda agama atau pikiran. Karena itu, ketika akal manusia mendiskusikan tentang wujud Tuhan, akal berselisih. Tetapi, pengamal-pengamal agama yang mendasari pengamalan agamanya dengan cinta, (mereka) bertemu dan bergandengan tangan,” tuturnya.

Ketiga, peradaban umat dewasa ini. Quraish Shihab menjelaskan, peradaban telah memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kemanusiaan dalam bidang material.

“Tetapi, dalam saat yang sama harus juga diakui bahwa peradaban menjadi pincang karena mengabaikan sisi ruhaniyah manusia. Peradaban yang ada disebutnya tidak adil. Adil juga bermakna memberikan setiap orang haknya dengan cara yang benar dan secepat mungkin. Saya ingatkan kembali agar siapapun berlaku adil kepada orang lain, sekalipun berbeda agama, suku, pandangan politik, atau lainnya” pungkasnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *