Peristiwa Lailatulkadar

Peristiwa Lailatulkadar
Loading...

Sebuah dingin, serta kekeringan yang menggigil. Jabal Nur, Mekkah, 15 abad silam. Seorang lelaki berusia 40 tahun, sejenak menyingkir dari riuh Jahiliyah. Melakukan Uzlah, mencari sebuah diam dan sunyi, pada sebuah kepungan dinding batu yang kelak diturunkan wahyu.

Di Gua Hira, lelaki itu, seperti ramalan Bukhaira berpuluh tahun sebelumnya, kelak menjadi seorang yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia akhir zaman.

Apa yang membuat Muhammad resah pada saat itu hingga harus menyembunyikan tangis sampai ke Jabal Nur, tanpa seorang sahabat pun tahu.

Muhammad menempuh sepi dan sunyi, sebelum cahaya itu tiba. Hingga ia menerima sesuatu yang agung, yang tertampung oleh Baitul Izzah, Sama’ al-dunnya (langit dunia), yang lanjut bertahap diterima Bumi. Sebuah pesan Illahiah nun bermuara dari Lauhul Mahfudz.

Apa yang dikehendaki Tuhan melalui perintah itu?, Kita tak tahu, apakah Jibril sempat berdialog perihal amanah yang diterima, sama seperti saat mempertanyakan rencana Tuhan soal penciptaan manusia pertama di muka bumi. Tapi bukankah Jibril adalah Malaikat, yang merupakan “ma yu’maru wa yu’marun”, ia tak dinamis, tak fleksibel, bergerak seadanya sesuai suara Tuhan.

Tapi, itu adalah malam agung yang dialami Muhammad. Malam turunnya sebuah pesan secara dzauq, belum menjadi teks. Bukan dalam bentuk sepucuk surat tertulis yang disampaikan Allah kepada Kekasih-Nya melalui Jibril. Adalah suara Illahiah yang hidup dalam diri seorang Muhammad, mulanya, hingga kita bertemu dengan apa yang disebut Aisyah, umairah, bahwa Muhammad adalah Quran yang berjalan.

Suara-suara Illahiah itu turun berangsur kepada Muhammad. Melalui permasalahan yang ada pada masa itu, atau mungkin tentang sebuah petunjuk menuju hidup yang menunggu tiba di depan. Turun pada dua tempat di mana Muhammad menghabiskan sisa hidupnya

Melalui suara Illahiah itu pula, Muhammad pada akhirnya ditasbihkan menjadi seorang Nabi, dan dipertegas ulang pada sebuah surat di dalam Quran; Al-Anbiya-107. Di mana, Muhammad diangkat menjadi Rasul dengan misi menjadi Rahmat sekalian alam pada masa itu sampai seterusnya.

Ia, Muhammad, sejak itu, setiap gerak-gerik perilaku, serius-canda ucapannya, seluruh yang dijalaninya menjadi contoh bagi para sahabatnya. Menjadi tauladan bagi manusia yang hidup setelah masanya. Tak ada ruang sedikitpun baginya untuk bertindak bebas memerdekakan diri dengan melakukan segala sesuatu sekehendak hati. Sungguh berat, sungguh mulia.

Suara-suara illahiah itu dibawa Jibril dan diingat, hingga Sang Rasul dibantu beberapa orang sahabat untuk menyalinnya pada pelepah kurma, lempengan batu, dan landasan lainnya yang bisa menghasilkan sesuatu yang tergores. Hati misalnya, tergores membentuk suhuf-suhuf suci itu.

Singkatnya, Alquran tersusun menjadi sebuah kitab pada masa Khulafaturrasyidin. Setelah wafatnya Sang Nabi dan Rasul Muhammad. Disusun dan ditegaskan dengan penjilidan rapi dalam upaya mengamankan orisinalitas teks, serta menjadi simbol baru kehidupan manusia akhir zaman.

Sesuatu yang berawal dari sebuah renungan, yang sembunyi di dalam ruh, yang dizikirkan berpuluh-puluh, beratus, beribu, menjadi sebuah simbol yang diterima manusia setelahnya. Bahkan berabad-abad setelahnya, renungan itu sulit dicari. Ia menjadi sebuah sesuatu yang laghir dari “hening yang dahsyat, dan berakhir pada sebuah konstruksi” (percikan 28 dalam 99 percikan Goenawan Mohammad dalam Tuhan dan Hal0hal yang Tak Selesai).

Menjadi simbol dalam upaya penegasan menjadi penting. Terlebih beberapa budaya pada masa Nabi seperti budaya jahiliyah yang dibawa kaum Quraisy yang berpotensi merusak dan menghancurkan nilai-nilai itu.

Tapi hidup, semakin berjalan, cara kita beragama semakin lupa akan resapan, oleh sebab sibuk bertengkar aliran. Gemar meninggikan, mendekonstruksi sesuatu yang berwarna muamalah, yang tersaji ruang tafsir atasnya. Seolah berpacu, kubah siapa paling tinggi dang yang duluan sampai di dekapan Tuhan.

Substansial Alquran, kitab suci penuntun arah hidup dengan pesan “fastabiqhul khairat” bertransformasi menjadi “fastabiqhul haqq”.

Alquran disimpan teksnya di dalam kepala, diperlombakan, dan dijadikan bagian dari syarat administratif sebuah lembaga pendidikan, tak salah memang, sebab merupakan upaya menjaga batang tubuh orisinalitas quran itu sendiri.

Tapi kita lupa, bahwa menjaga orisinalitasnya, tak berarti berhasil melestarikannya. Kita bahkan kerap gagal mengubah teks yang tertulis di dalam Quran menjadi sebuah laku baik dalam kehidupan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Penuntasan ayat-ayat quran hanya sampai pada sebuah perlombaan, atau seberapa banyak ayat-ayatnya tersimpan di dalam kepala. Bukankah pada saat ini, masyarakat terpecah belah sebab saling mempertandingkan kebenaran masing-masing, nilai moral sangat sulit ditemukan di tengah peradaban modernisme ini. Bukankah hal tersebut pertanda bahwa Alquran belum bisa dimanifestasikan para pembacanya di dalam kehidupan sebagai pembawa Rahmat Sekalian Alam.

Alquran tak gagal, ia tetap suci sebagai suara Illahiah yang agung. Yang mampu menghasilkan peradaban-peradaban makmur pada masa lampau. Kita, para pembacanya, yang gagal mengartikulasikan dua wilayah dalam Muhkamat dan Mutasyabihat, serta orientasi dari ayat-ayat tersebut yang dalam dua wilayah pula; Mahdhoh dan Mu’amalah.

Lailatulkadar yang menjadi malam turunnya Alquran pun dijadikan semacam sebuah peristiwa yang ditunggu-tunggu dan dicari fenomenanya dengan narasi turunnya sebuah keajaiban di malam Ramadan dengan kepercayaan bagi siapa saja yang mengalami dan melihatnya secara langsung, akan dikabulkan segala permintaannya.

Lantas, apa yang ditunggu dari malam Lailatulkadar?, bukankah keajaiban yang ditunggu-tunggu dan akan turun itu sebenarnya sudah turun berabad-abad sebelumnya melalui Jibril kepada Muhammad, yakni Alquran.

Kita gagal memahami pesan bahwa sesungguhnya siapa saja yang mampu memetik hasil kenikmatan, kebahagiaan, dan kebermanfaatan dalam hidup dari teks yang ada pada ayat-ayat Alquran, sesungguhnya dia lah yang sedang mengalami Lailatulkadar.

Maka sesungguhnya, Lailatulkadar secara esensi tak hanya ada di dalam bulan Ramadan. Ia melintasi setiap bulan dalam tahun Hiriyah, saban hari, bagi siapa saja yang mampu menghidupkan cahaya Alquran dalam kehidupan sehari-hari.

Kita hendak bersegera pada kebahagiaan, dan lupa bahwa Alquran melalui Islam adalah sebuah proses. Hingga kembali kita bertemu kepada apa yang dinukilkan oleh Goenawan Mohammad “Akhirnya bukan sepi yang mengambil alih, tapi struktur”.

*Diilhami oleh pengajian budaya Maiyah Emha Ainun Nadjib, serta beberapa teks quran yang menjadi renungan mursyid tasawuf.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *