Perempuan Suka Lelaki yang Misterius, Bukan Ambisius

Perempuan Suka Lelaki yang Misterius, Bukan Ambisius

Tapi yang misterius bukan berarti ia yang introvert. Seseorang dengan kepribadian tertutup belum bisa disebut misterius. Harus ada rahasia yang diemban; harus ada “jarak” yang terciptakan–bukan diciptakan.

Lelaki pada dasarnya adalah makhluk yang terbiasa sendiri; yang teguh memeluk kesepian, sementara perempuan adalah makhluk yang gemar berhimpun.

Perempuan bisa tahan berjam-jam bertelepon ria dengan sesamanya hanya untuk membahas liburan yang mereka lakukan bersama sehari sebelumnya. Lelaki tidak seperti itu; tapi ia bukan tipikal penjenuh.

Suatu obrolan akan mengikat kita pada sebuah kejadian; lelaki menghindari hal ini. Kecuali tentang olahraga, lelaki adalah makhluk tertutup; ia melankoli. Ia bisa bicara tentang apa, dan siapa, saja. Tapi untuk perasaan, ia akan mati-matian memendamnya.

Perempuan, dengan bakat alami bernama intuisi, mampu mengetahui perasaan lawan bicaranya, terutama sesamanya. Sinar mata, nada bicara, gestur yang “mencurigakan” adalah tiga hal yang menjadi pertanda bagi perempuan bahwa sedang terjadi apa-apa dengan lawan bicaranya. Tapi lelaki tidak bisa seperti itu; ia harus melihat air mata, lecet di tubuh atau bahkan bekas tusukan, agar tahu jika lawan bicaranya, terutama dari sesamanya, sedang “terluka”.

Tapi tuhan tak menciptakan semua itu sia-sia. Di situlah kiranya lelaki jadi makhluk yang kerap dianggap misterius: lelaki tidak tahu apa yang terjadi, tapi akan cepat menguasai situasi–perempuan sebaliknya.

Ketika perempuan memuja sesuatu yang ada, yang tampak, yang bersifat, atau “matter”, lelaki malah memuja sesuatu yang absurd: kuasa. Tak ada lelaki yang tak memimpin; ini dorongan spiritual dan kekhasan bagi kaumnya. Islam kemudian membenarkannya.

Dalam kuasa, lagi-lagi lelaki akan menunjukkan sisi misteriusnya. Tak ada lelaki yang mengumbar kekuasaannya–kecuali jika ia tak ingin direndahkan perempuan. Lelaki akan merahasiakannya dengan hal yang tak kalah absurd: pesona dan karisma.

Perempuan adalah tipikal “yang menyenangi”; lelaki ingin disenangi. Mencari jawaban bagaimana menyenangkan lelaki adalah hal yang absurd; mereka terlalu misterius–tapi tak melulu ingin tampak serius.

Cinta itu bugar, dan rindu, harusnya jadi suplemen, jadi asupan, yang membuat hubungan makin terlihat segar. Sementara jarak, kata orang besar, tak pernah ada; ia hanya ada dalam pikiran.

Sekali lagi, pikiran lelaki dipenuhi hal-hal misterius. Jika isi kepala perempuan adalah sebuah dunia atas, maka kepala lelaki berisi misteri bawah tanah. Keduanya melengkapi, meski kita tahu: yang berada di dunia atas tak serta-merta percaya akan apa yang ada di dunia bawah sana.

Tapi mungkin kata orang besar itu benar: “Tuhan menciptakan perempuan dengan setengah bercanda; tuhan menciptakan Hawa ketika Ia sedang tertawa”, hingga lelaki harus pasrah jadi candaan yang lain. Meski apa yang ia katakan pada perempuan adalah misteri, perempuan tak tahan untuk menggodanya dengan berkata bahwa itu hanya candaan belaka.

Memang, perempuan hampir-hampir tak mengerti puisi; tapi mereka suka rayuan. Maka dalam cinta, dalam sebuah hubungan, perempuan akan jadi rahasia; lelaki tetap jadi misteri; sementara tuhan menggoda keduanya dengan memisahkan mereka. Tapi Ia tak tertawa saat itu; mungkin hanya tersenyum. Perempuan kemudian menangis, menyalahkan hidup; lelaki tertawa namun ia tak tahu ia sedang membunuh harapan.

Ia tak tahu, tuhan hanya sedang bercanda. Ia tak tahu, tuhan sedang menulis puisi: perempuan. Celakalah lelaki yang membenci puisi; celakalah perempuan yang menampik sebuah puisi.[]

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *