Perempuan Penjual Pakaian Dalam

Perempuan Penjual Pakaian Dalam

Umurnya tahun ini mungkin sudah lewat kepala empat. Pipinya yang mulai mengendor tak bisa berbohong. Kerutan di sekitar mata, hidung, dan dagu mempertegas usianya yang sudah ditinggalkan muda. Meskipun begitu, perempuan penjual pakaian dalam tadi masih sendiri.

Walau di usianya yang menurut sebagian besar orang seharusnya sudah beranak, dan anaknya juga pasti sedang giat-giatnya pula belajar berkasih-kasih, kenyataan tak bisa menyembunyikan bahwa ia masih sendirian.

Namanya, Tina. Saya mengenalnya sejak saya berjualan jilbab di sebelah toko pakaian dalam milik induk semangnya, tiga tahun yang lalu.  Dulu setiap ia selesai salat, entah salat zuhur atau asar, Tina pasti bersolek di depan cermin kecilnya.

Ia senang sekali menambah bedak dan mengoles lipstik. Bedanya, sekarang Tina tak begitu sering lagi bersolek. Hanya di waktu sore, ketika kios akan tutup, ia baru melalukan ritual mempercantik diri seperti yang saya jelaskan tadi, ditambah dengan sedikit kemajuan yaitu menggambar alisnya yang tidak begitu tebal.

Tina sudah berjualan pakaian dalam lebih dari lima tahun. Katanya, ia betah. Ia tak merasa tertekan seperti di tempat kerja yang lama. Sebelum menjual pakaian dalam, Tina pernah menjadi karyawan di toko baju dan rumah makan makanan laut.

Di toko baju ia bekerja selama setahun. Ia mengaku tak tahan dengan cerewet induk semangnya. Di samping itu, ia juga merasa tertekan tatakala ia dituntut ih untuk tak membiarkan pembeli berlalu begitu saja, meski tidak ada kecocokan dalam tawar-menawar. 

Kebetulan, saat ia sedang jenuh berjualan, tantenya menawarkan untuk bekerja di Padang; menjadi pelayan di rumah makan makanan laut. Selama delapan bulan bekerja di sana, Tina cukup senang. Tetapi, karena suami tantenya mesti pindah tugas ke Aceh, Tina juga mesti kembali ke Payakumbuh. Barulah, saat ia sedang menganggur begitu, datang tawaran menjadi pelayan di toko pakaian dalam.

Awalnya, Tina merasa malu dan menolak tawaran tadi. Ia gengsi, tapi mau bagaimana lagi. Sebagai perempuan yang cuma tamatan SMA, ia tak punya banyak pilihan. Meskipun enggan, pekerjaan tadi tetap ia lakukan. Sepanjang bercerita dengan saya, Tina selalu tersenyum, dan kadang-kadang tertawa kecil. Kehidupannya mungkin sedikit keras, tapi ia memilih mengahadapinya dengan ramah.

Sayangnya, keramahan Tina tadi tak membuat Cupid berbaik hati. Entah dimana letak kesalahan Tina, Cupid tetap saja enggan, dan panah asmara di tangannya itu masih tertahan dan tak kunjung dilepaskan. Saya sendiri juga kurang mengerti mengapa Tina hingga saat ini masih betah sendirian. Ia tak begitu jelek. Meksipun bertubuh kecil, Tina memiliki kulit yang cukup putih.

Pinggulnya juga cukup sintal, meski payudaranya tidak begitu besar. Tina juga suka tersenyum, tidak pelit, dan lemah lembut. Meski bagi sebagian orang yang baru kenal dengan Tina, cara bicaranya itu terkesan dibuat-buat. Selain suka mendengarkan orang berbicara, Tina juga senang bercerita. 

Kata Tina, tak banyak lelaki yang serius dengannya. Kalau didengar dari ceritanya, Tina tak minta macam-macam. Ia hanya tak suka kalau laki-laki yang sedang bersamanya suka lepas kendali dengan mempertajam mata ke arah perempuan lain. Ia juga kurang senang melihat laki-laki yang loyo perjuangannya, acuh tak acuh, dan pantang diharapakan. Lebih dari itu tidak ada.

Saya kira tak ada yang berlebihan dari keinginannya. Tina hanya ingin kepastian dan keseriusan dalam menjalin hubungan di usianya yang tidak bisa lagi dikatakan muda. 

Lima tahun lebih berjualan pakaian dalam, tentu cukup menoreh kesedihan lain yang ada di dada Tina. Terlebih ketika pasangan suami istri singgah di tokonya, atau pembeli yang membeli lingerie untuk hadiah pernikahan, dan pembeli yang hobi bercerita kehidupan rumah tangganya. Kadang mereka suka bercanda, dan sama kita maklumi bahwa humor soal pakaian dalam tentu tak berhubungan jauh dengan hal-hal yang bersifat seksualitas.

Saya melihat Tina sepertinya baik-baik saja, dan mungkin memang baik-baik saja. Tetapi, saya tahu bahwa kesepian kadang tak kenal ampun. Di mata Tina ia jelas-jelas bersarang, meski selalu bisa Tina sembunyikan. Pada senyumnya yang tiap hari merekah, sunyi di dada tak berhenti menabur gundah. Semoga saja, setelah lebaran ini Tina segera menikah. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *