Perbedaan Demonstrasi di Ibu Kota dan Kota-kota Lain

Perbedaan Demonstrasi di Ibu Kota dan Kota-kota Lain

Demo yang berlangsung di depan gedung DPR Jakarta beberapa hari ke belakang selalu berujung ricuh. Bentrokan, lempar-lemparan batu, bakar-bakaran selalu mewarnai aksi ini.

Di kota lain seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang justru kebalikannya. Mereka tetap kritis tapi tidak anarkis. Aksi demo berlangsung secara damai. Apa sih yang membuatnya bisa begitu?

Ilustrasi

Demonstrasi di Yogyakarta

Akun Facebook Kari Tri Adji pada 30 September lalu membagikan sebuah video yang menunjukkan para mahasiswa dan pelajar yang mengucapkan terima kasih pada jajaran kepolisian atas kawalan dan pengamanan selama demo.

Mereka terlihat menyalami para polisi dan ada yang cium tangan segala sebagai bentuk terima kasih pendemo kepada petugas keamanan.

Demonstrasi di Semarang

Dalam demo yang berlangsung pada 24 September lalu, mahasiswa sempat merobohkan pagar DPRD. Mereka menuntut untuk bertemu Gubernur dan Pimpinan DPRD Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pun turun untuk menemui dan menenangkan massa.

″Silakan lanjutkan (demonstrasi). Tapi mau nggak besok pagi kawan-kawan saya undang untuk memperbaiki taman?. Saya undang secara terbuka. Ini adalah cara Jawa Tengah, cara Mahasiswa Jawa Tengah yang keren.″ kata Ganjar di depan ribuan pendemo.

Ganjar mengatakan akan meneruskan tuntutan mahasiswa ke pemerintah pusat. Ganjar juga meminta mahasiwa untuk berdemo yang cerdas.

Demonstrasi di Surabaya

Aksi demo yang biasanya merusak fasilitas publik. Dalam aksi demo yang berlangsung pada 26 September, warga yang akan berdemo saling mengingatkan untuk tidak merusak fasilitas umum. Alasannya adalah kemarahan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, jauh lebih menakutkan ketimbang disemprot water canon milik aparat. Alhasil taman kota pun tidak tersentuh massa yang berdemo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *