Peran Penting 4 Tokoh dalam Memajukan Islam di Indonesia


Loading...

kawula.id â€“ Di bumi Nusantara ini ada banyak tokoh Islam yang berperan besar dan memiliki pengaruh dalam sejarah pembaharuan Islam Indonesia. Mereka punya peran dan andil besar dalam menjaga dan memperbaharui Islam Indonesia dengan mendirikan organisasi Islam sebagai sarana perubahan di berbagai sendi kehidupan.

Dikutip dari Muslim Obsession empat tokoh besar ini diketahui memiliki peranan penting tersebut. Dengan keilmuan keislaman dan kebangsaan yang matang, keempat tokoh pembaharu Islam ini mampu membawa masyarakat dari jurang kegelapan, khususnya membangun sipirit keilmuan dari penyakit kebodohan sejak era penjajahan kolonial. Bahkan mereka mampu ikut mengantarkan Indonesia ke pintu kemerdekaan.

KH Ahmad Dahlan

Kiai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis ini lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868. Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara.

Dia ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam.

Ahmad Dahlan ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Tidak hanya itu, Ahmad Dalan juga sebagai orang pertama yang memperkaasai Percetakan Persatuan yang mencetak banyak buku agama. Tokoh ini meninggal di Yogyakarta, pada 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun). Atas jasa-jasanya itu, pemerintah telah menetapkan Ahmad Dahlan sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Ahmad Surkati

Ahmad Surkati mungkin namanya tidak setenar Ahmad Dahlan. Namun pria kelahiran Pulau Arqu, Sudan pada 1875 ini adalah tokoh pembaharuan Islam yang sudah banyak berjasa di Indonesia. Dia adalah pendiri organisasi Jam’iyah al-Islah wa Al-Irsyad al-Arabiyah yang kemudian berubah menjadi Jam’iyah al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah, atau yang lebih umum disebut sebagai al-Irsyad di Batavia pada Agustus 1915.

Setelah tiga tahun berdiri, Perkumpulan Al-Irsyad mulai membuka sekolah dan cabang di kota-kota di sekitar Jawa. Setiap cabang ditandai dengan pendirian Madrasah. Cabang pertama berada di Tegal pada tahun 1917, di mana Madrasahnya dipimpin oleh anak didik angkatan pertama Ahmad Surkati, yaitu Abdullah bin Salim al-Attas. Ini diikuti oleh cabang-cabang di Pekalongan, Cirebon, Bumiayu, Surabaya dan kota-kota lain.

Al-Irsyad pada hari-hari pertama kelahirannya dikenal sebagai kelompok reformasi Islam di Nusantara, bersama dengan Muhammadiyah dan PERSIS (Persatuan Islam). Tiga tokoh utama utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai “Trio Pembaru Islam Indonesia.” Mereka bertiga juga teman dekat. Visi Ahmad Surkarti adalah memurnikan Islam dan memajukan Pendidikan Islam.

KH Hasyim Asy’ari

Tokoh Islam yang satu ini tidak asing lagi. Namanya kerap disanjung-sanjung disetiap perkumpulan Kaum Nahdliyin. Ya, ia adalah KH Hasyim Asy’ari. Pria yang lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.

Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru. Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Lalu pada 1926, K.H Hasyim Asy’ari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.

Ulama yang paling berpengaruh ini juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Ia selalu menentang penjajahan oleh kolonial Belanda. Bahkan untuk bisa merebut kemerdekaan, KH Hasyim mengeluarkan fatwa wajib hukumnya bagi umat Islam Indonesia berperang melawan Belanda. Termasuk menggerakan para santrinya untuk berperang. Istilah ini disebut resolusi jihad sehingga pada setiap 22 Oktober kini diperingati Hari Santri.

Ahmad Hassan

Ahmad Hassan lahir di Singapura, 31 Desember 1887. Perjuangan Ahmad Hasan hampir sama dengan Ahmad Dahlan dan Ahmad Surakati. Ia adalah tokoh Islam yang mendirikan Pesantren Persis (Persatuan Islam) di Bangli, Jawa Timur. Melului Persis ia ingin memurnikan Islam di Bumi Nusantara.

Keahliannya dalam bidang hadits, tafsir, fiqih, ushul fiqih, ilmu kalam, dan mantiq menjadikan Ahmad Hasan sebagai ulama yang menjadi rujukan umat dalam mengkaji Islam. Murid Ahmad Hasan yang paling terkenal adalah Mohammad Natsir dan K.H. M. Isa Anshory. Ahmad Hasan meninggal di Surabaya, pada 10 November 1958 diusia 70 tahun.

Sumber: Muslim Obsession



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar