Patah Hati Sebagai Pintu Menuju Jalan Sunyi

Patah Hati Sebagai Pintu Menuju Jalan Sunyi
Loading...

Patah hati dan kegagalan dalam bercinta
adalah sesuatu yang wajar
Itu tandanya, kaumenempatkan cintamu
pada ruang kesungguh-sungguhan
– Emha Ainun Nadjib –

Cinta adalah keadaan di dalam hati. Ia menjadi fi’il; ahabba yuhibbu, yang diartikan mencintai jika diterapkan menjadi sebuah laku pengungkapan kepada seseorang.

Cinta yang oleh praktisi tasawuf Ma’ruf Al-Kharki disebut sebagai sesuatu yang tak bisa dipelajari manusia karena merupakan sebuah anugerah dan tiba atas kasih-Nya.

Cinta zahir dan batin, haruslah sejurus tanpa melenyapkan salah satunya. Mengisi ruang kebatinan dengan menghadirkan makna, serta laku ekspresif pada wilayah kezahiran.

Dalam tasawuf, cinta menjadi  sebuah kendaraan bagi para salik dalam menempuh wajah dari pemilik cinta itu sendiri. Tradisi sufi mengenalnya dengan mahabbah.

Loading...

Bagi Hegels, atau Marx, cinta menjadi bentuk alienasi semacam sikap takluk, atau penyerahan diri kepada yang Agung. Ia terlepas dari segala bentuk materi. Ia menjadi energi, tak mati setelah pendar cahayanya menyentuh hati.

Ibrahim telah memulainya terlebih dahulu. Tuhan yang direnungi, berkali harus dibuktikan dengan sesuatu yang menarik pandang. Ibrahim berkali putus harap terhadap sesuatu yang terbit, kemudian tenggelam. Ibrahim tak mencari itu. Sang Nabi, mencari sang penggerak warna langit. Ia mencari cinta yang tak akan pernah meninggalkannya.

Di Persia, Abdurrahman Jami’ mengalami hal yang serupa. Melalui ayat “qashashul” di dalam Qur’an, Sang Qhatamul As-Syu’ara (puncaknya para penyair), menulis ulang kisah Yusuf dan Zulaikha.

Sufi yang turut memperkaya kisah asmara Laila dan Majnun itu, dalam mukadimah Yusuf dan Zulaikha mengisahkan pertemuan seorang salik dengan seorang arif dalam upaya sang salik meminta petunjuk jalan kesufian. Orang tua arif itu, dengan bijak, meminta sang salik untuk pergi merasakan jatuh cinta, dan setelahnya, kembalilah kepadanya demi melanjutkan jalan kesufian itu.

Jami’ lebih lanjut menjelaskan bahwa cinta adalah persiapan menuju kebenaran yang tertinggi. Meski — seturut dengan Kahlil Gibran — jalan berliku dan pedang bersembunyi di balik sayapnya.

Bahwa jatuh cinta yang disampaikan Jami’ adalah bias keduniawian. Analogi dari tokoh Majnun yang meminum anggur kematian dengan akar dalil pengorbanan. Pula, bila kita perhatikan dalam budaya berkasih-kasmaran abad ini; melakukan segala hal di luar batas kemampuan demi sang kekasih. Menjadi sebuah pengorbanan bagi yang memandang, namun menjadi kebahagian bagi sang lakon. Kita ingat Sujiwo Tejo, bahwa nasihat tak berlaku bagi mereka yang jatuh cinta.

Jami’ mengungkapkan situasi paradoksal pada “cinta” sebelum mencapai puncak manifestasinya. Sesuatu yang musti harus dilalui dengan “patah hati” sebelum bertemu dengan kesejatian.

Cinta ditempuh pada sebuah pengorbanan yang asyik-masyuk, dinikmati, menjadi sebuah pencapaian dengan rindu yang “gairah”. Meski penderitaan dalam pengembaraan itu tak cukup, dan tak pernah memenuhi pendar cahaya dari yang terkasih. Tapi, Tuhanku, jangan padamkan api dengan kaki telanjang, biar kuseberangi (napas ke-6 dari 99 napas dalam sebuah sembahyang Emha Ainun Nadjib).

Dalam Mahabbah, pada bagian kisah Yusuf – Zulaikha, Jami’ menukilkan bahwa Bazigha adalah perempuan pertama, sebelum Zulaikha yang hendak melamar Yusuf. Bazigha seorang perempuan yang sangat cantik, juga termasuk orang kaya pada masanya.

Namun, Bazigha, sebagaimana yang diketahui kemudian; Yusuf menolak cintanya. Kepada Bazigha, Yusuf mengatakan bahwa keindahan yang terlihat di dunia, adalah sebuah tanda tentang Dia. Bahwa ketampanan rupa seorang makhluk hanyalah sekuntum bunga dalam hamparan taman luas Allah. Dan sekuntum bunga akan layu, tapi Allah memiliki kesejatian itu sendiri.

Yusuf hendak mengatakan jalan menuju sang Sumber. Tak payah terlalu lama menghabiskan waktu dan dibutakan terhadap ketampanan fana seorang makhluk. Sebab itu hanya sirat dari awal perjalanan menuju cinta yang sesungguhnya.

Hal yang sama, pula dialami Zulaikha setelahnya. Patah hati kepada makhluk yang hendak menyingkap jalan cinta Illahiah bagi siapa saja yang berani mengalaminya. Bahkan ada yang menarik dari kidung yang ditulis  Zulaikha.

“Ketika pandanganku dinyalakan oleh keindahan yang bersinar
Ia menghindar dari tatapku dan memandang dengan teguh ke kakinya
Bukanlah aku hendak menyalahkannya atas hal itu
Sedang kakinya, jauh lebih indah dari wajahku.”

Sebegitu dalam cinta sang istri wazir Mesir kepada Yusuf, tapi pula sebegitu tampan Makhluk yang dipujanya itu, yang oleh Baginda Rasulullah dalam peristiwa Isra’ Mi’rajnya mengatakan bahwa Yusuf memiliki ketampanan separuh dari laki-laki di seluruh dunia.

Ada konklusi dramatik yang pada akhirnya dikehendaki dari guratan kisah Yusuf – Zulaikha, pada pasang mata zahir. Meski sebenarnya pesan yang hendak disampaikan oleh Jami’ adalah penderitaan panjang dalam pencapaian cinta yang murni.

Bahwa dalam menuju ruang Mahabbah dengan Allah, perlu menahan diri dari segala keberlimpahan hal-hal duniawi. Perintah berpuasa menjadi salah satu ruang intim percintaan itu.

Puasa adalah cinta yang rahasia antara manusia dan Tuhannya. Siapa yang tahu bahwa seorang “Amanu” yang berpuasa tidak mengikuti proses makan dan minum, selain dari dirinya sendiri. Siapa yang tahu bahwa di dalam hati, ia selalu menahan diri untuk tidak berpikiran buruk terhadap apapun. Semuanya dilewati dengan pengorbanan yang dikata oleh Jami’ sebagai proses yang asyik-masyuk.

Di luar segalanya yang terpapar di atas, hanya Allah dan Iman yang menjalani perintah berpuasa itulah yang tahu. Oleh karenanya percintaan semakin dalam, sebab Allah katakan bahwa puasa itu untuk-Ku, biar Aku yang langsung membalasnya.

Sebuah cinta yang asing, yang ‘nominous’ meminjam kalimat Goenawan Mohammad. Sesuatu yang sunyi bagi para Sufi. Tapi harus dicapai, dan “patah hati” selalu ada sebab tak semuanya disingkap dari kerahasiaan Illahi yang paling Agung. Oleh sebabnya, para Sufi selalu mau jatuh cinta, tetapi menolak jatuh rindu. Sebab pada rindu, kita tak dikehendaki jatuh. Ia berjalan menuju sesuatu yang tiba di depan.

Saya teringat sajak Anju Zasdar, “telah kupilih kesendirian, agar lebih tenang mencintaimu”.  Bahwa benar, begitu para Sufi menempuh shirot mahabbahnya. Sebab hanya Dia, satu-satunya Kekasih yang tak akan meninggalkan.

Baca juga:

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *