Pastoral: Sebuah Ironi dalam Tubuh Pariwisata

Pastoral: Sebuah Ironi dalam Tubuh Pariwisata
Loading...

Lima orang gadis berfoto di satu sisi dari sebuah jembatan. Seperti warna jembatan itu, merah, hati mereka tentu merah pula, alias berbahagia. Sebab jembatan itu baru, dan hasil pemotretannya cukup bagus. Foto itu, akhirnya mereka pajang di media sosial.

Sambutannya luar biasa.

Tak lama berselang, seratusan orang menyerbu jembatan itu. Mereka juga ingin mendapatkan foto “bagus” seperti empat gadis tadi, untuk kemudian dipajang di akun media sosial.

Tapi jembatan itu berwarna merah. Dan warna ini bukan hanya mewakili kebahagiaan semata. Ada kemarahan juga di sana, selain kekecewaan.

Jembatan itu roboh, akhirnya, dan yang tercebur ke air adalah mereka yang bodoh, agaknya.

Loading...

Padahal jembatan itu tempat wisata, tapi mereka yang tercebur itu terlalu gagah untuk disebut wisatawan.

Masyarakat kita, setidaknya di era digital ini, memang selalu norak jika diperhadapkan dengan sebuah destinasi pariwisita. Katakanlah, ketika mengetahui sebuah lokasi wisata “baru”.

Tapi apa yang baru dari pariwisata Indonesia?

Tak ada. Yang ada hanyalah eksplorasi, selain eksploitasi. Tanyakan pada anak-anak Makassar yang saban hari berenang di pantai Losari. Sejak pantai itu “dijual” alias dikomersialisasi oleh pemerintah lewat bisnis pariwisata, orang-orang Makassar memang terbantukan dalam sektor ekonomi dan finansial.

Tapi mereka juga kecewa.

Sebab pariwisata Indonesia tidak berbasis edukasi, tapi mengedepankan eksotisme dan imajinasi. Padahal sejak zaman Belanda, pariwisata kita sudah digadai habis-habisan: kemolekan tanah Hindia dipamer-sebarkan ke dunia, terutama, bagi bangsa Eropa. Mereka mengistilahkannya “Mooi Indie” atau Pastoral.

Yang paling terluka dari eksploitasi pariwisata ini adalah Bali.

Di pantai-pantai Bali, ada cerita kelam di balik pasir pantainya yang putih, ombaknya yang indah, dan masyarakat pribuminya yang, konon, sangat ramah itu.

Tak banyak yang tahu jika di tahun-tahun pasca tragedi ‘65, Bali adalah “destinasi” pembantaian bagi orang-orang yang tertuduh dan disinyalir simpatisan PKI. Sekitar 70.000 orang tewas di sana; di bawah lambaian daun kelapa, ombak yang indah, juga sunset, puluhan ribu orang mati, dan laut “berdarah”.

Tapi tiap daerah memang punya cerita pariwisata yang berbeda. Di Sumatera, pariwisata jadi, dan bisa, laku karena dongeng lama: Sumatera adalah rimba yang mistik dan penuh legenda. Dan para wisatawan tentu menghendaki itu: kemurnian alam yang penuh misteri.

Tapi jembatan yang roboh di Langsa itu, dan orang-orang bodoh yang jatuh ke air dan nelangsa itu, adalah cerita yang lain juga, dari sebuah ironi bernama pariwisata.

Setidaknya, kita jadi tahu: Sumatera memang rimba yang mistik, terutama bagi mereka yang merasa sudah hidup di kota, kemudian mencari tempat wisata, dan byur! tercebur: ke air dan ke kebodohan yang nyata soal “pariwisata”, terutama di Sumatera yang, katanya, masih “rimba”. []

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *