Pasar

Pasar

Selalu ada hal-hal yang menarik dari pasar: tempat bertemunya beragam karakter manusia yang tidak bisa diterka. Setiap tahun, di bulan Ramadan, saya rutin berjualan, menjadi karyawan di sebuah toko jilbab. Meski saya hanya masuk 2 minggu atau 10 hari menjelang lebaran. Hitung-hitung, saya bisa mengisi waktu luang dan menambah jajan buat lebaran nanti.

Tahun ini tahun keempat, dan saya masih menikmati setiap hal yang terjadi di pasar. Mungkin cuma tahun lalu saya alpa karena saya baru benar selesai seminar tugas akhir. Pikiran saya terlalu lelah. Saya hanya masuk dua hari kerja, lalu izin: pura-pura ada urusan keluar kota terkait tugas akhir saya.

Tahun ini mungkin sedikit berbeda karena saya mulai berjualan sehari sebelum Ramadan. Hari ini, hari ketiga saya berjualan. Ketika berada di pasar saya merasa campur aduk. Sebentar saya merasa bahagia, lalu sedih, kemudian haru, dan bisa-bisanya nanti saya merasa kesal. Tidak usahlah saya ceritakan bagaimana senang dan susah saya berjualan. Saya kira semua orang tahu, meski cuma sedikit yang mengerti.

Pasar mayoritas dipadati perempuan: pengunjung, penjual, pengumpul arisan,  bahkan petugas kebersihan pasar, tukang parkir, dan pemulung.  Saya masih ingat benar, beberapa tahun yang lalu saya juga menulis tentang pasar dan perempuan. Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata perempuan cukup kuat juga. Saya dan karyawan toko lain yang rata-rata juga perempuan, sudah mesti ke pasar sebelum jam 9. Sebelum itu saya yakin, sekurangnya pekerjaan rumah seperti menyapu dan mencuci pakaian, telah diangsur terlebih dahulu.

Sesampai di pasar, kami juga mesti membuka kedai. Syukur bagi yang induk semangnya datang tepat waktu dan membantu. Kalaupun tidak, mujur juga bagi mereka yang berdua menjadi karyawan di toko yang sama. Setidaknya bisa berbagi tugas. Sedang saya yang sendirian ini, mesti bersabar dan berusaha sedikit lebih keras untuk membuka dan menata kedai.

Hal yang menarik lainnya ketika di pasar adalah saya bisa mengamati kelakukan pembeli yang ada-ada saja. Dari sekian banyak jenis pembeli yang saya amati, saya paling senang dengan pembeli yang tau tujuan dan tidak terlampau ngeyel dalam menawar. Proses jual beli tidak berlangsung alot, sigap, dan menyenangkan.

Mereka tau apa mereka inginkan. Kalau cocok, mereka ambil, kalau tidak ya sekedar melihat saja. Tetapi, lain cerita dengan mereka yang cukup senang melihat koleksi toko (red, membongkar stok), mencoba segala yang nampak, meminta masukan, dan banyak ingin. Sekiranya mereka jadi membeli dan cukup banyak, saya tak akan mengumpat.

Tetapi jika diakhiri dengan kalimat “aduh, tidak cocok nih. Saya lihat-lihat dulu ya”, sembari berlalu, saya hanya tersenyum. Dan mengiringi setiap lengkah mereka yang menjauhi kedai dengan berbagai sumpah serapah. Saya bukan tak sabar dan tak berlapang dada. Rasa-rasanya perlakuan seperti itu tak menghargai usaha saya. Terlebih di bulan puasa. Sudahlah cuaca terik, kerongkongan kering, ditambah pula hati mesti disabar-sabarkan. 

Lain lagi kalau saya mengahdapi pembeli yang notabenenya adalah orang yang saya kenal. Entah itu tetangga, guru, atau pun teman saya semasa sekolah. Kadang mereka yang saya kenal itu amat menyenangkan. Saling menanyakan kabar, bertukar cerita, mengingat-ingat kenangan lama. Rasanya cerita usang itu, terasa begitu menyegarkan kembali, meski hanya dijemput sebentar. Tetapi, tak jarang juga dari mereka malah terasa merendahkan dan menyepelekan.

Mungkin mereka tak bicara secara langsung, tetapi setiap tatapan dan cara mereka berbicara sudah menerjemahkan segalanya. Sebagai penjual yang baik saya tentu akan selalu tersenyum dan bertutur ramah. Meski di dada ada ketidaksenangan, saya cuma bisa mendoakan agar mereka tetap diberi kelancaran rezeki dari yang Kuasa.

Hal lain yang bisa membuat saya tersenyum adalah melihat anak-anak yang ada di pasar. Entah mereka menunggui orang tua mereka berjualan, entah menanti orang tua mereka selesai menawar harga, atau mereka yang sekedar jalan-jalan dengan teman sebayanya. Melihat mereka bermain, mengamati ekspresi mereka yang begitu apa adanya dan tidak dibuat-buat, mengingatkan saya bahwa kanak-kanak adalah masa yang paling jujur. 

Hampir tiap sore ketika kedai hendak tutup mereka mulai berkumpul. Menjadikan apa saja yang mereka temui menjadi mainan. Kadang, hanya dengan bermain kejar-kejaran saja, mereka sudah senang bukan kepalang. Tawa dan teriakan yang membahagiakan itu terdengar hingga ke sudut pasar. Kadang mereka juga menari-nari sendiri. 

Dari mereka saya belajar untuk tidak berpura-pura kuat, berpura-pura bahagia, atau menahan perasaan saya sendirian. Tertawa saja kalau senang. Menangis saja kalau sedih. Marah saja kalau kesal. Bukankah Tuhan sudah susah payah menciptakan air mata dan perasaan? Kufur kita rasanya jika tak menggunakan. Masa kecil tak akan pernah lekang dan tak akan  tergantikan. 

Pasar sudah mengajarkan banyak hal. Di tiap pintu toko-toko itu rezeki sudah dititipkan Tuhan. Di setiap percakapan ada yang mesti kita pelajari dan perhatian. Semuanya sudah diciptakan begitu, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *