Pacar Idaman Memang Tak Ada, dan Tak Harus Ada

Pacar Idaman Memang Tak Ada, dan Tak Harus Ada

Banyak orang, lelaki atau perempuan, yang saya temui, bertanya soal kriteria pacar yang didambakan atau bagaimana seharusnya pasangan yang ideal.

Sementara, mereka sebenarnya tahu: kriteria dibentuk oleh persepsi alias pikiran dan pertimbangan sendiri. Jadi, tak mungkin melayangkan pertanyaan ini untuk saya dan orang lain. Cukuplah setiap diri punya kriterianya masing-masing yang tentu dipengaruhi banyak aspek yang membentuk-menempanya. Kira-kira begitu.

Tapi saya tahu jika orang-orang ini begitu “kebelet” dengan jawaban apa yang akan saya berikan. Maka mulanya, saya katakan bahwa yang tak ideal itu tak ada; sebab pasti kita berpikir bahwa yang sempurna juga tak ada.

Sembilan puluh persen dari mereka tak puas dengan jawaban ini; sama halnya dengan saya yang tak suka sebenarnya dengan pertanyaan konyol macam begini.

Kemudian saya jawab saja bahwa pacar yang didambakan itu bagai… Ah, sekali ini juga tak memuaskan dahaga mereka akan jawaban yang “pasti”. Saya lupa jika orang-orang ini tak menyukai, apalagi mengerti, puisi.

Kata “bagai” yang tersemat di sana adalah tanda bahwa saya sedang bermetafora; saya menggunakan perumpamaan di sana. Tapi begitulah, mereka tak suka sesuatu yang “berselubung”; padahal cinta itu sendiri bukannya berselubung? Itu, yang dalam hati kalian; yang berkalang keraguan ketika hendak diungkapkan. Berselebung, kan?

Maka, saya katakan akhirnya pada mereka bahwa pacar yang ideal bagi saya adalah dia yang menghapus keraguan saya untuk mengungkapkan cinta padanya; dia yang mendukung penuh, sekaligus tak sungkan menolak, keputusan yang saya ambil lalu lakukan; kemudian dia yang meluruhkan segala keputusasaan saya dalam menghadapi hidup, sekarang dan ke depan. Tiga saja, tak banyak-banyak.

Mereka manggut-manggut: entah bersetuju atau tak mengerti dan ragu-ragu (baca: bisa jadi, bisa jadi!). Sementara empat batang kretek tandas juga untuk membahas ini.

Sejatinya, pacar idaman memang tak ada dan tak harus ada. Sebab, jika yang diidamkan hanya bertahan dalam kepala saja, kapan kita akan memulainya? Sementara, sering pula terdengar orang bijak itu berkata: “Yang diidamkan itu adalah yang memulai apa-apa duluan; segalanya, tak terkecuali mati.” Jadi, mulailah untuk jadi seseorang yang senantiasa memulai duluan itu. Mengungkapkan perasaan duluan, misalnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *