Pacar Bisa Diciptakan, Asmara Adalah Senjata

Pacar Bisa Diciptakan, Asmara Adalah Senjata

“… Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?”

“Chairil Muda, Mirat Muda”, Chairil Anwar (1949)

Setelah menatap lama ke permukaan sebuah sungai di kota ini, perempuan itu tiba-tiba memalingkan muka kepada saya dan bertanya, “Adakah perempuan yang mengisi hatimu sekarang?”

Saya mendelik — sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Hati saya tengah campur aduk, kala itu, tapi bukan karena pertanyaan si perempuan, teman lama saya. Di pikiran saya cuma ini: kuliah, tamat, kerja, menikah, lalu mampus dikubur sepi; tak ada yang lain, termasuk perkara asmara — sesuatu yang, kala itu, derajatnya saya nilai tidak lebih tinggi dari tahi ayam dan kolega-koleganya.

Itu semua terjadi menjelang tutup tahun 2013. Kami berdua, sebagai kawan lama, duduk mengaso dari sebuah petualangan kecil mengelilingi sebagian kota ini. Saya dan perempuan itu keluyuran, dari pagi ke malam, tanpa secebis pun perasaan yang mengganjal. Namun, ternyata itu hanya keadaan di permukaan.

“Hati orang siapa yang tahu.”

Sesayat suara dari masa lalu itu menerjang benak saya ketika si perempuan merapikan rambutnya dengan perlahan. Ia melakukan itu dengan rileks, tapi pertanyaan yang ia lontarkan kemudian sontak mengurung saya: “Apa kamu tidak mau punya pacar lagi?”

Ia menjentikkan pertanyaan itu dari bibirnya seraya menopang dagunya dengan siku bertumpu di paha. Jaket jins yang ia kenakan berkibar ditampar angin di sebuah tempat yang dulunya bandar ini dan saat mendapati celana yang ia kenakan sobek di sekitar lutut dan paha, dengan benang-benang halusnya terkirai ke udara, jiwa saya kian muram. Rambutnya kemerahan di bawah siluet senja dan ia, dalam pandangan saya waktu itu, memang sudah jauh berubah. Ia tampak cantik, sekarang—meski dulu juga—, dengan beberapa perubahan; ia tampil modis sejak kisah asmaranya kandas beberapa bulan sebelum pertemuan kami, hari itu.

“Mantan selalu indah saat ditinggalkan,” katanya seraya terbahak sendiri, sementara saya masih menahan kutukan langit dan bumi karena menahan diri untuk menunjukkan emosi kala mendapati caranya tersenyum sehabis tertawa. Ia mengucapkan itu seakan-akan telah memindai isi hati saya.

“Tentu, tapi itu cuma alibi orang-orang kesepian,” saya berupaya menjawab, “yang kepalanya selalu menoleh ke masa silam.”

Ia, masih seperti dulu juga, selalu tertawa riang setiap kali saya mulai tampak serius.

“Kamu diledekin teman-teman lain karena sudah berubah jauh. Hidupmu sekarang puitis sekali, tapi kamu seperti sendirian,” tuturnya.

Balasan saya: “Saya tak pernah sendirian; ada puisi, ada kawan-kawan baru, suatu hari nanti, yang juga menemani saya, seperti kamu sekarang.”

Sekali lagi ia tertawa dan kencan—apabila boleh dikata begitu—, kilat itu, berakhir sia-sia: beberapa bulan kemudian ia kembali berpacaran saat saya masih doyan membaca puisi-puisi karya orang lain, entah siapa saja, di internet.

***

Dua orang teman menulis di status Facebook mereka beberapa tahun silam: “Pacar bisa diciptakan.” Namun, antara satu dan yang lain agak berbeda esensinya meski kalimat itu berasal dari pemelintiran yang sama, yakni lagu “Pasar Bisa Diciptakan” milik kugiran alias kelompok musik Efek Rumah Kaca (ERK). Kedua teman saya itu menggemari lagu-lagu ERK dan keduanya, waktu itu, sedang tidak terikat dalam hubungan asmara apa pun alias jomlo.

Saya tertawa saat menemukan status itu mengalir di lini masa lantaran teringat kepada kencan kilat beberapa tahun lalu itu: si perempuan, kini, mungkin sudah berperan sebagai ibu, sementara saya masih luntang-lantung di dunia dengan langitnya yang tak selamanya biru.

Kenangan singkat itu pun saya ketengahkan karena terbayang: betapa banyak orang di luar sana yang meringis kesepian lantaran hidup tak berasmara, padahal cinta mengetuk mereka setiap hari; mereka bisa “menciptakan” pacar mereka saban waktu. Di sisi lain, agresivitas dari gerakan semacam Indonesia Tanpa Pacaran seakan-akan sedang tak terbendung, waktu itu. (Kini, teman-teman saya cuma ketawa tiap diingatkan akan masa kejayaan dari gerakan yang diinisiasi pada empat tahun yang lalu tersebut.)

Tenta saja urusan asmara di sini tak melulu soal pacaran. Hal lain yang menggembirakan adalah kenyataan bahwa asmara bukan perkara jadian atau ditolak, melainkan tentang tingkat kenyamanan dua insan dalam menjalin hubungan. Karena itu, asmara, bagi saya, adalah senjata; asmara yang membuat seseorang mewawas dirinya lantaran tak ingin mati sia-sia dan asmara juga yang mengarahkan seseorang untuk tidak menyakiti orang lain alih-alih pasangan mereka seenaknya.

Asmara, perasaan senang-menyenangi itu, adalah gairah yang menggerakkan seseorang setiap hari: bekerja karena senang, makan karena senang, sampai tidur pun senang. Aksioma sederhananya, soal itu: Untuk apa bercinta/berpacaran kalau yang lahir dan kemudian tersisa pada kita cuma derita?

Oleh sebab itu pula saya tertawa mengingat kencan tadi: saya tentu bisa menjalin hubungan asmara dengan si perempuan, atau dalam arti saya dan dia saling “menciptakan” dalam hubungan ini, tetapi lantaran hati saya enggan terbuka, kejadian berikutnya mudah ditebak: segalanya, termasuk kenangan yang ada di antara kami sebelum pertemuan pada hari itu, akan berakhir sia-sia. Perempuan itu pun beruntung tidak bersama saya, yang selalu diliputi kegamangan dan tak menentu saban waktu, kala itu. Andai ia bersama saya, puisi-puisi yang lahir kemudian tentu berasal dari kebencian bercampur air mata.

Pada akhirnya pacar memang bisa diciptakan—dua kawan saya tadi tak keliru—lewat pertemuan yang kadang-kadang tak terduga sebelumnya. Puisi Chairil di atas juga saya kutip karena hal itu; asmara yang dalam dengan kekasihnya yang bernama Sumirat itu membuat Chairil bergelora dalam pencarian dan pemaknaannya sebagai salah satu penyair terbesar di negeri ini. Meski ia berkawin bukan dengan Sumirat alias takdirnya berkata lain, kecintaannya yang besar membuat Chairil masih sempat menulis puisi di atas menjelang tutup usia pada tahun pembuatan salah satu sajak fenomenalnya itu.

Akan menjadi panjang dan bertele-tele apabila saya pun akhirnya menuliskan kembali sejarah pendirian Taj Mahal di Kota Agra, India—bangunan yang di sini sering disangka sebagai mesjid, padahal berupa mausoleum. Pasalnya, dari bangunan itu sendiri tentu kita bisa menerka—walau sulit, agaknya—setinggi apa cinta yang terjalin antara Kaisar Mughal Shah Jahan, si pendiri Taj Mahal, dengan sang istri, Arjumand Banu Begum alias Mumtaz-ul-Zamani atau Mumtaz Mahal hingga salah satu keajaiban dunia itu ia dirikan sebagai “museum kesedihan”-nya.

Chairil pun melanjutkan dalam sajak yang sama:

Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati.

Pacaran atau tidak, jodoh atau bukan, senjatanya tetap saja bernama asmara—dengan itu kalian menaklukkan dunia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *