Narkoba: Sebuah Kisah Sedih

Narkoba: Sebuah Kisah Sedih

kawula.id – Berita dari sebuah daerah di Jawa Timur itu, kelihatannya biasa saja, tetapi efeknya mengena: 25 orang ditipu dalam sebuah produksi film–tiap pemuda dan pemudi itu dikutip biaya per orang hingga 40 juta rupiah. Kisah itu mungkin biasa saja–sebab kita sering mendengarnya–seandainya di sekitar hari itu orang tak menyaksikan di layar kaca atau gawai mereka: Nunung, kemudian Jefri Nichol, diciduk oleh polisi lantaran menyalahgunakan narkoba dan menggunakan ganja.

Anak-anak muda yang tertipu itu tak menggunakan narkoba, tentu. Namun, efek yang dibangun oleh mimpi untuk menjadi tenar, kadang-kadang, melebihi rasa “damai” yang diciptakan oleh “candu haram” bernama narkoba itu.

***

Membicarakan Nunung berarti mengingat Srimulat. Grup lawak tersohor itu punya awak yang dekat dengan kejahilan si obat: dari Polo sampai (mendiang) Gogon atau Tessy (Kabul) hingga Nunung. Seakan-akan sebuah siklus ajaib tengah berlangsung di antara mereka, satu persatu anggota Srimulat menerima petaka: narkoba telah menjerat mereka, bahkan sedari lama.

Loading...

Kasus Nunung mungkin puncak gunung es dari petaka itu–mungkin juga tidak. Sebelum ia mengaku kepada polisi bahwa dirinya, dan suaminya, baru lima bulan menggunakan barang haram itu, orang-orang dengan ramah hati memberinya dukungan. Nunung memang bersalah, kata orang-orang itu, tapi ia telah beroleh maaf sebelum dan setelah menerima hukuman nantinya.

Persepsi itu, agaknya, runtuh saat orang tahu bahwa pelawak yang rajin ketawa itu ternyata sudah 20 tahun lebih dekat dengan narkoba. Apa boleh bikin, ucapan tetap ucapan: di balik pemaafaan itu, merongrong pula hasrat merisak.

“Kalau segitu lamanya Nunung jadi pemakai,” ucap seseorang, “ia pantas dihukum berat.”

Seseorang lain berkata, “Nunung hanya korban dari lingkaran pergaulan yang buruk dan tak mencerahkan.”

Sebagian besar, yang datang kemudian untuk berkomentar, mengganggap Nunung tak boleh dibiarkan: sang pelawak mesti mendapat sanksi sosial–meski mungkin bukan pengucilan, termasuk dari dunia hiburan.

Nunung tak sendirian dalam kasus ini sebab narkoba bukan perkara gampangan: membeli dengan mudah hingga dihukum ringan. Kita tahu, ada tangan besar yang bekerja di balik bisnis gelap paling menggiurkan sejagat dengan risiko berat tersebut.

***

Delapan tahun lalu, ketika saya datang ke sebuah klinik pengobatan, rasa cemas menyergap di tiap kilometer yang saya tempuh untuk sampai ke tempat itu. Saat melihat seseorang bercelana hitam dengan jaket membalut tubuh, misalnya, saya selalu mengira itu polisi. Dugaan itu meleset hingga saya sampai di klinik, tapi kewaspadaan saya mulai meningkat.

Di klinik itu, seorang teman sedang terbaring dengan sebuah alat berupa selang menembus paru-parunya.

Anggap saja ia bernama Balung. Tiga hari sebelum ia nyaris koma di klinik, tubuhnya dihajar oleh segerombolan orang yang teridentifikasi sebagai pelanggan barang haram dari tangannya. Nahas itu datang saat ia berupaya curang: dalam sabu-sabu yang ia kantongi, ada jejak deterjen; ia mencampur barang itu dengan butir-butir zat pembersih agar sang metamfina terjual lebih banyak lagi.

Seorang “pemain lama” mencium jejak pengelabuan itu dan ia mengirim segerombol temannya untuk menghajar Balung. Satu hari sebelum kejadian itu, Balung pun sempat hampir over dosis. Busa keluar dari mulutnya dan beberapa kawan menggotongnya pulang. Orang-orang itu tahu Balung adalah pemakai dengan dosis tinggi, di samping berlaku sebagai pengedar dengan penjualan lumayan.

Ibu Balung masih menangis di sudut kasur saat saya sampai di klinik, tapi suara perempuan berusia 50an tahun itu tak ada lagi. Sepasang adiknya hanya meringkuk di pojok kasur klinik, sementara ayah Balung mematung di samping istrinya.

Kisah ini tak rumit dan penjelasan paling sederhananya begini:

Balung adalah mata rantai kesekian dari bisnis besar narkoba di kota ini. Ia datang sekali sepekan untuk mengecek barang dan memastikan tak ada polisi dalam tiap transaksi. Di puncak ketenarannya sebagai bandar kelas II, masalah itu pun datang saat Balung bertindak curang.

Siapa pelanggan barang haram Balung? Tentu bukan siapa-siapa apabila dibandingkan dengan kalangan atas yang sering “belanja” kepada bos Balung: seorang mafia yang tak diketahui namanya.

***

Saya tak mengikuti Twitter Jefri Nichol, tetapi sekali dua ada saja yang mengicaukan kembali cuitan sang aktor ke lini masa saya. Ia remaja yang bergaul, setidaknya demikian anggapan saya dan orang-orang yang tak mengenal ia sedekat para pengikutnya.

Tak lama, hari sial itu tiba dan wajah lain seorang Jefri tersibak. Dalam amplop miliknya, polisi menemukan ganja kering. Seseorang memastikan bahwa ia tak merokok, tapi itu kemudian lekas menjadi olok-olok: Jefri mengakui perbuatannya–mengisap ganja–dan ia merasa “berutang budi” kepada polisi yang telah membebaskannya dari fantasi sebagai pengguna dengan menangkapnya.

Jefri tak sendirian dalam hal ini. Kita ingat, ada banyak nama pesohor dalam pusaran kasus kepemilikan ganja, yang sebagian besar adalah aktor muda. Sebagian bahkan telah bebas setelah menjalani proses rehabilitasi, lalu tobat.

Dengan mengategorikan ganja sebagai bagian dari psikotropika, negara akhirnya menjerat para pengguna mariyuana ini ke penjara atau panti rehabilitasi. Sementara itu, di sisi lain, ada pihak yang memandang cemas keampuhan ganja sebagai penyembuh penyakit-lumayan-berat. Namun, di luar itu semua, mariyuana hingga kini masih tetap dalam kontroversinya sendiri.

Efek medis ganja jelas ada–jika asumsinya semua tumbuhan dapat dijadikan obat–, tapi kecemasan menguntai apabila peredarannya tak diatur dengan regulasi yang ketat. Kasus Jefri Nichol menjadi contoh dalam perspektif tersebut.

***

Sebelum mengemas ganja kering di hadapannya, pemuda berumur 19 tahun itu mengambil sejumput bagiannya sembari menjilat kertas rokoknya di bagian tepinya. Ia telah memasukkan daun-daun ganja itu kertas rokoknya dan dengan satu percik api dari geretan, asap mengepul setelah rokok ganja itu ia isap perlahan lalu diembuskan ke udara.

Pagi itu, sebagaimana pagi-pagi lain sebelumnya, tak ada tanda-tanda rumah tempat ia menumpang tidur tersebut akan disergap oleh polisi. Barang bukti di rumah tipe 36 itu cukup untuk membuatnya masuk sel dan menerima bogem mentah dari petugas yang mungkin kalap (dan membawa urusan pribadi/rumah tangannya ke kantor) akibat tak meluncur juga pengakuan yang diharapkan keluar dari mulutnya setelah sebuah pertanyaan melayang: “Siapa bandar besar pemilik ganja-ganja ini?”

Hari penghakiman itu memang tak datang–bahkan hingga hari ini: saat ia sudah enam tahun keluar dari lingkungan pergaulan yang membahayakan itu. Kecuali teman-temannya di rumah itu yang tak ia tahu nasibnya, ia hanya mendengar samar-samar bahwa beberapa kawan lainnya, di lingkungan rumahnya dulu, kini bergaul dengan sabu-sabu. Jelas, itu sebuah proses “naik kelas” yang tak mudah: ada uang dalam jumlah, dan mental, besar yang dipertaruhkan di situ.

Pemuda 19 itu adalah saya.

***

Tak saya ikuti perkembangan kasus Nunung (mungkin belum disidangkan), demikian halnya perkara Jefri, yang beberapa waktu lalu saya dengar ia bakal direhabilitasi. Begitu pula dengan kisah 25 orang di Kediri tersebut: mereka menerima pengembalian uang atau tidak, mungkin bukan lagi menjadi soal. Nasib baiknya, mereka tak harus mati duluan atau nyaris koma seperti Balung untuk sadar dan menyongsong perubahan.

Narkoba mungkin sebuah kisah sedih: ketenaran dan pencapaian (atau tidak dengan keduanya) membuat seseorang mendekatinya tepat saat dingin lantai penjara dan bayang-bayang kamar rehabilitasi hadir ke dalam mimpi terburuk bagi tidurnya; tepat saat para bandar tak bernama itu masih belum ditemukan jejaknya; tepat saat seseorang lain telah keluar dari jerat yang ditebarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *