Milenial dalam Landscape Era Destruction

Milenial dalam Landscape Era Destruction
Loading...

Zaman serba lekas, begitu Boy Riza—salah seorang penyair muda Riau—menyebutnya. Tak pelak, kita semakin terdesak ke sudut-sudut sosial-ekonomi yang lembap, dan hampir rapuh jika dijenguk untuk dikenakan sebagai tumpuan kehidupan.

Kebutuhan yang didapat secara instant, membuat kita berada pada situasi yang berlimpah informasi, namun juga semakin miskin dalam proses kreasi berpikir. Lahirnya istilah “hoax” adalah salah satu bentuk dari ketangkasan teknologi tersebut. Dalam waktu satu detik, seseorang mampu menyebarluaskan ke seluruh dunia apa yang ada di dalam pikirannya, dan dalam waktu satu detik juga seseorang lainnya mampu menerima informasi yang belum jelas keotentikkannya.

Era digital dalam kacamata tradisi keluhuran budaya Nusantara secara implisit muncul sebagai parasitisme. Kehidupan sosial cenderung menghadapkan keseharian kita terhadap alat-alat elektronik, dan segala sesuatu hal yang bersifat mesin. Sehingga pola hubungan interaktif antar manusia semakin tergerus.

Kita tak lagi menghargai ruang, ataupun waktu. Sebab, segalanya tersedia, dan bisa dikendalikan hanya dengan sentuhan jari. Aplikasi digital dengan segala kelebihannya membatasi kita untuk saling membutuhkan satu sama lain dan mengikis hakikat kita sebagai makhluk sosial.

Dalam hal ini, saya teringat wasilah seorang mursyid tasawuf, bahwa pada era digital, romantisme pun bisa tebunuh. Jika kerinduan bisa diselesaikan dengan pertemuan melalui formula memenuhi hukum ruang dan waktu, hari ini, itu tak berlaku lagi. Misal, pada sebuah kafe, pertemuan sepasang kekasih terhalangi oleh kotak kecil yang mampu membawa anda berjelajah ke belahan dunia mana saja. Tapi ia, kotak kecil itu, si android, tak mampu masuk untuk memahami relung kecil di dalam hati seseorang yang ada di hadapanmu. Ada yang hilang, dan tak memberikan makna sama sekali dari pertemuan itu, yakni; kehadiran.

Dunia digital dengan segala ketangkasannya juga sudah merusak atmosfir ruang politik kita hari ini. Kita dihadapkan pada situasi ketidakstabilan yang memicu perpecahan. Isu-isu miring, sumber informasi yang abu-abu, serta banyaknya kontroversi yang ditimbulkan dari kebijakan Pemerintah, membuat rakyat menjadi masif terhadap tokoh-tokoh panutan mereka masing-masing. Meminjam istilah Rocky Gerung, pengamat politik yang banyak digandrungi mak-mak dan genersi milenial, dalam sebuah seminarnya mengatakan, “Demokrasi kita berada dalam cengkeraman Oligarki”.

Tak lagi kita temui kontradiktif antara Rakyat versus Pemerintah. Yang ada hanyalah Rakyat versus Rakyat, atau dengan kata lain, Kaum Merasa Benar versus Kaum Merasa Benar.

Pergerakan ekonomi pun berubah sangat drastis. Sumber Daya Manusia, mulai tergantikan dengan Sumber Daya Teknologi. Kita, secara tidak langsung, dituntut menjadi budak mesin itu sendiri dengan beragam kualifikasi administratif untuk berkompeten mengendalikan sebuah mesin. Lapangan pekerjaan banyak yang tersingkir.

Majunya teknologi, mundurnya peradaban, berdampak dengan situasi politik, ekonomi, dan sosial-budaya.  Meminjam istilah watershed yang digunakan Asvi Warman Adam di dalam bukunya yang berjudul ‘’Bung Karno Dibunuh Tiga Kali” sebagai batas berubahnya situasi politik, ekonomi, dan sosial budaya secara serempak, agaknya, era digital yang berselancar di kehidupan kita saat ini sangat pantas disandingkan dengan istilah tersebut. Generasi milenial kita memasuki babak baru yang disebut dengan Era Destruction.

Tan Malaka, sang Bapak Republik itu memang tak pernah ingkar terhadap janji. Ia terus besuara dari dalam kubur. Petuahnya dalam karya Madilog, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang hanya bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan.” Dalam bahasan lainnya, lagi, beliau sampaikan bahwa “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan.”

Dua petuah dari sang Bapak Republik tersebut tak hanya harus dipahami secara tekstual, harafiah, ataupun fisik. Tetapi mesti dipahami secara konteks, atau pemahaman terhadap nilai esensialnya.

Tan Malaka seolah hendak mengatakan bahwa kaum terpelajar adalah harapan Bangsa yang mampu mengamankan kehidupan bermasyarakat dalam bidang apapun dari campur tangan asing. Pun, beliau secara tidak langsung mengatakan bahwa, manusia-manusia yang lahir dari akademis janganlah sampai menjadi manusia-manusia sertifikat, yang hanya mengandalkan ijazah, tanpa harus memperdalam kemampuan.

Era Destruction seolah menjadi momok oleh sebab kelalaian besar yang terjadi pada dunia pendidikan kita. Sejak lama, para mahasiswa yang lahir menjadi sarjana selalu diikat denga sistem Ijazah serta, beberapa sertifikat kemahiran lainnya, dengan orientasi diterima bekerja di perusahaan asing yang menawarkan penghasilan tinggi. Beberapa di antaranya memilih untuk berwirausaha yang jangkauannya hanya mencapai ekonomi kelas menengah. Kita tidak dituntut untuk memahami hal-hal yang bersifat regulasi dalam skala besar, sehingga ketika Era Destruction mulai mengetuk pintu perekonomian, kita mesti mengatur langkah terlebih dahulu, berpikir ulang, dan merasa disiksa oleh lajunya zaman.

Generasi muda, khususnya, haruslah mempunyai daya respon tinggi terhadap fenomena Destruction. Alih-alih meningkatkan nilai akademis dengan orientasi hanya sebagai karyawan, harus diubah dengan pemahaman-pemahaman akan pentingnya sebuah inovasi individualistis baik secara pemikiran, maupun secara praktik. Indonesia harus lebih banyak lagi melahirkan kaum-kaum intelektual muda di bidang teknologi, ekonomi, politik, ataupun sosial budaya. Seiring dengannya, peran Pemerintah harus lebih bernas terhadap dunia Pendidikan. Seperti misalnya, perubahan terhadap sistem pendidikan yang sudah sangat jauh meninggalkan dunia praktik. Lagi fokus terhadap pemberdayaan potensi-potensi muda yang butuh ruang eksperimental.

Jika kemunculan-kemunculan para akademis muda ini sesuai dan fokus terhadap bidangnya, penemuan-penemuan baru yang akan diikuti dengan terbuka lahan bisnis baru serta lapangan pekerjaan baru tanpa melibatkan pihak asing sebagai pengendalinya, maka dengan sendirinya Era Destruction tidak lagi menjadi badai yang gemar melahap ketidakmampuan kita dalam bersaing, melainkan menjadi landasan perselancaran yang riak, namun masih mampu dikendalikan.

Tentunya, juga didukung dengan pola regulasi yang tidak serta-merta melupakan etika. Unsur materialistik harus dikikis porsinya di kepala-kepala kaum muda ini. Sehingga lahan bisnis dalam bentuk apapun mulai dibangun kekuatannya dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai nirlaba. Sebab, unsur kepemilikan sendiri, akan menyebabkan sistem yang otoriterianism, yang nantinya berujung pada—meminjam kalimat Karl Marx—pertentangan antar kelas, dalam artian adanya unsur-unsur untuk meruntuhkan kekuatan si Pemimpin. Sebab, Indonesia, tentunya tidak mempunyai akar kebudayaan yang bersifat kapitalistik.

Kekuatan ghaib Era Destruction dalam artian munculnya lawan-lawan tak terlihat yang mempunyai pengaruh besar terhadap mobilitas perekonomian harus diperangi.

Lain hal dengan invisible hands Adam Smith, pada Era Destruction, bisnis tidak lagi hanya terfokus pada persaingan kualitas antar produk, akan tetapi juga model, atau bagaimana cara produk dipasarkan. Prof. Rhenald Kasali menukilkan dalam artikelnya, bahwa lawan-lawan yang tak terlihat itu menuntut kita untuk segera melakukan inovasi bisnis.

Dan di Era Destruction, sumber daya manusia sebagai faktor produksi mulai terkurangi kuantitasnya oleh sebab sudah tergantikan dengan sumber daya teknologi. Cara berpikir adalah modal utama dalam menghadapi dunia serba digital saat ini. Era Destruction adalah sebuah era di mana hasil-hasil produksi menjadi lebih baik. Mereka yang selama ini merasa ter-marginal-kan, dengan mudah akan mampu memunculkan potensi diri dengan segala kemudahan akses. Yang nantinya, akan membawa mereka ke ruang yang lebih inklusiv. Sebab, penggunaan terhadap waktu, ruang, dan biaya akan jauh lebih efisien. Tinggal, bagaimana kita menempatkan diri di dalam era ini. Apakah kita hanya sebagai pelaku konsumtif, yang  berujung kepada gaya hidup yang memakan banyak biaya. Atau, berperan sebagai pelaku kreatif yang mampu menjinakkan Era yang bersifat ambiguitas terhadap kehadiran perannya ini.

Tetapi, di era digital ini, dengan adanya pelbagai fasilitas komunikasi seperti video call dan sejenisnya, apakah rindu sebagai penderitaan yang asyik-masyuk masih bertahan pada nilai-nilai luhurnya seperti yang diderita dengan rela oleh Adam dan Hawa.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *