Metode Akutansi Dan Fungsinya Pada Pengenalan Diri

Metode Akutansi Dan Fungsinya Pada Pengenalan Diri
Loading...

Ada yang menarik dari aforisme Jalaluddin Rumi, sufi Persia yang menamatkan umur duniawi di Kenya. Tentang pengenalan diri sejati, tentang perjalanan jauh yang bergerak ke dalam, ke arah ruang esoteris.

Dalam kumpulan aforisme sufistiknya, dalam sebuah terjemahan Fihi ma Fihi yang dikatakan sebagai magnum opusnya Rumi, Ia umpamakan rubi dan zamrud sebagai evolusi bebatuan, yang seterusnya mengubah diri menjadi hijau, mineral, dan hal lainnya yang menetaskan kehidupan.

Tapi setelahnya, ia membantah segala yang berbau superfisial itu sebagai kesejatian. Ada kesejatian lain yang hendak ia sampaikan; di akhir bab, Rumi menutupnya dengan deskripsi seorang peniru suara burung yang mampu membunyikan sesuatu yang tidak dimilikinya.

Dalam studi ekonomi, dalam ilmu perhitungan seluruh aktivitas perekonomian yang kemudian dielaborasikan dalam bentuk data, dan selanjutnya diberikan kepada para penetap kebijakan; akuntansi, kita kenal metode akumulasi penyusutan di dalamnya. Metode yang memiliki rumus tersendiri untuk menyusutkan nilai harga perolehan awal dari sebuah aset.

Dari metode akumulasi penyusutan, atau para akuntan menyebutnya sebagai accumulated depreciation, khusus pada aktiva tetap, metode ini diterapkan dan berlaku hanya untuk aktiva yang fisiknya bergantung pada hukum ruang dan waktu. Ia, aktiva itu, mengalami defisit nilai seiring berjalannya usia pemakaiannya.

Jika kita selami dari kebermulaan aktiva tetap yang termakan hukum penyusutan itu, adalah aktiva yang sifatnya hadir karena campur tangan manusia di dalamnya. Seperti gedung, rumah, mobil, dan beberapa fasilitas penunjang proses perekonomian, yang dari kesemua benda tersebut terdapat campur tangan manusia pada proses kebermulaannya.

Ada yang tak mampu disusutkan oleh accumulated depreciation, ia yang menjadi awal, dan tak tersentuh oleh keterlibatan manusia dari proses kebermulannya. Adalah “tanah”, yang nilainya tak akan berkurang dan bahkan akan menjadi tinggi seiring berjalannya waktu. Ia, si Tanah, langsung dari Tuhan.

Jika kita bawa proses accumulated depreciation ini ke batang tubuh manusia secara utuh; lahir batin, maka manusia juga sepenuhnya berada dalam rumusan dari sebuah metode yang ada dalam disiplin ilmu akuntansi itu sendiri. Tubuh, yang di dalamnya terdapat kelima panca indra, yang secara fungsi didukung oleh ribuan sel bergelung di baliknya, juga akan mengalami penurunan nilai fungsi dan termakan hukum waktu.

Dari tubuh manusia, ada yang tak tersentuh oleh metode itu, yakni; ruh. Seperti tanah, ruh langsung ditiupkan Illahi ke dalam rahim Ibu. Seseorang yang diberi tugas mengemban proses terbentuknya manusia melalui rahimnya. Al-Hijr; 29, di dalam Qur’an menegaskan itu. Berbeda dengan tubuh, yang ada campur tangan manusia melalui persetubuhan di dalamnya. Yang oleh sebagian mufasir menerangkan, dengan Tuhan menggunakan kata “Kami” pada saat berbicara tentang kebermulaan jasmaniah itu sendiri.

Tetapi seperti Rumi bilang, ruh pun bisa tergerus nilainya. Seperti tanah, akan segera dijual murah jika ada keterdesakan si pemilik untuk menjualnya. Ruh juga akan menjadi turun derajatnya jika ada keterdesakan dari jasad untuk melakukan sesuatu yang bersifat kemudharatan. Ia menjadi cela di mata Tuhan.

Dan Puasa menjaga kesucian ruh. Puasa tak hanya menuntut untuk menjaga hal-hal yang bersifat materi seperti Plato ungkapkan. Tak hanya sampai pada tingkat kehausan dan lapar, tapi puasa memiliki misi menjadikan seorang manusia mencapai predikat taqwa. Yang membatasi keinginan diri untuk sesuatu yang bersifat kekufuran, yang berpotensi menurunkan derajat kesucian ruh yang ditiupkan Tuhan.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *