Melodrama Tak Ada Mati di Republik Ironi

Melodrama Tak Ada Mati di Republik Ironi

kawula.id – “Bangsa ini tak berubah justru karena Tan malaka menulis Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) pada tahun 1943.”

Saya lupa membaca kutipan bernada sinis itu entah di mana, kapan, dan pada situasi apa, tetapi diam-diam memercayainya. Alasannya sederhana saja: kita tak pernah menjadi bangsa besar karena memang tak menghargai jasa pahlawan.

Saat menengok perisakan yang terjadi di media sosial terhadap Frans Kaisiepo. Orang Papua yang merupakan gubernur pertama Irian Barat itu diolok-olok oleh warganet dengan sentimen rasialis yang terlalu menyengat dan menyesakkan dada. Beberapa tahun sebelum dan sesudah perundungan itu ditumpahkan kepada sosoknya, mahasiswa Papua juga merasakan hal yang sama. Betapa ironis!

Pada usia ke-74 republik ini, hal itu menjadi kado paling pahit. Saya mencoba mencari alasan di balik perundungan itu dan selalu terbentur pada sebuah jawaban: kita, dari luas wilayah dan jumlah penduduk, memang besar, tetapi belum menjadi bangsa yang besar–setidaknya belum terlampau gagal.

Kita pun lebih senang kepada sensasi anak bangsa yang dicap telah mengarumkan nama negeri. Akhir-akhir ini, orang-orang ramai membicarakan Livi Zheng. Artikel-berita ditulis, polemik dimulai, dan segenap dialog soal Livi, entah kenapa, cuma membikin mual. Pertanyaan berikutnya: seberapa penting pengakuan dunia internasional untuk sebuah negeri yang seolah-olah telah dikutuk untuk memunggungi sejarahnya ini?

Ketika Bacharuddin Jusuf Hahibie meninggal, saya mencoba mencari benang merah dari melodrama (sandiwara dengan lakon yang sangat sentimental) yang tak ada mati di republik ini. Hasilnya, saya bersua pengalaman sendiri:

Pada 2004, ketika masih duduk di sekolah dasar, ada satu kejadian yang membuat saya paham arti penting menjadi “lain” di negeri ini. Syahdan, hari itu, dengan wajah lecet dan berdarah, saya masuk ke ruang majelis guru. Seraya mengobati luka saya, para guru itu justru saling berceloteh satu sama lain: “Untung bukan si Fulan anak Pak Anu yang jatuh. Kalau iya, habislah kita.”

Saya tahu Pak Anu adalah seorang yang berpangkat di bidang pendidikan. Anaknya, si Fulan, teman saya sejak kecil. Rumah kami terpisah sekitar satu kilometer dan saya yang kerap mengunjunginya.

Sejak hari ketika saya mendengar celoteh itu, saya pikir memang ada pembedaan yang tajam antara anak pejabat dengan anak seorang buruh. Belasan tahun setelah hari itu, ketika membaca buku “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis untuk pertama kalinya, saya bersua jawabannya: orang-orang di negeri ini bahkan sudah takut kepada penguasa sejak masih dalam pikiran. Mochtar juga menyebut perilaku menyenangkan pemimpin pada masa itu, yakni ABS alias Asal Bapak Senang.

Pramoedya Ananta Toer mengistilahkan paham pada zaman itu, Orde Baru, sebagai Bapakisme. Di bawah kuasa Presiden Soeharto, semua orang ingin tunduk sepenuhnya kepada pimpinan, apa pun pangkatnya. Betapa ironis saat saya menyadari kemudian bahwa Bapakisme yang dianut oleh para guru itu terjadi masa awal Reformasi!

Saya pun mencoba merenungi kutipan “gaib” tadi dan tetap beroleh jawab sederhana: memang, Madilog ditulis tahun 1943 dan sejak itu bangsa ini tak pernah belajar sejarah dengan benar. Lalu, dengan jemawa, kita mendaku diri sebagai bangsa yang besar, tetapi di sisi lain tak pernah menyadari bahwa kita masih tunduk kepada kekuasaan (yang kadang-kadang menjelma kebuasan)–seburuk apa pun dampak yang ditimbulkannya.

Selamat jalan, Pak Habibie. Dukamu abadi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *