Meida, dari Stigma Anak Liar ke Ring Tinju Bogor

Meida, dari Stigma Anak Liar ke Ring Tinju Bogor
Meida berlatih tinju di Sasana Prayoga Bogor untuk mengejar cita-cita sebagai atlet.

KAWULA.ID — Meida dulu dijuluki malcriada, anak perempuan tanpa aturan, dan berhenti sekolah di kelas 5 SD. Kini ia berlatih hampir setiap hari di Sasana Prayoga Bogor, menempuh berkilo-kilometer dengan angkot demi mengejar mimpi jadi atlet tinju.

Perkenalan Meida dengan tinju terjadi pada 2025. Coach Dirman, seorang pelatih tinju, mempertemukannya dengan dunia yang belum pernah ia sentuh sebelumnya. Dirman kemudian mengangkat Meida sebagai anak dan membawanya tinggal bersama keluarga barunya.

Di rumah baru itu, Meida belajar soal aturan, disiplin, dan tanggung jawab. Perlahan, tinju memberinya arah dan tujuan yang sebelumnya tak ia punya.

Dari Label Malcriada ke Sasana Tinju

Jauh sebelum mengenal ring, Meida lebih dulu menerima pukulan dalam bentuk lain: stigma sebagai anak salah didik. Ia dipandang sebagai anak yang tumbuh liar. Sekolahnya berhenti di kelas 5 SD.

Pandangan itu tak serta-merta hilang. Namun ring tinju memberi Meida ruang untuk membuktikan hal lain tentang dirinya.

Latihan Subuh hingga Magrib di Sasana Prayoga

Meida berlatih hampir setiap hari di Sasana Prayoga Bogor. Ia menempuh perjalanan berkilo-kilometer dengan angkot demi mengasah kemampuan dan mengejar asa menjadi atlet.

Jadwalnya ketat. Mulai jogging saat Subuh, latihan hingga menjelang Magrib, lalu beristirahat tepat waktu tanpa begadang.

"Harus tetap latihan dan siap kapan pun kalau mau tanding. Jadi atlet itu bonus, tinju buat sehat," ujar Meida.

Ring sebagai Sekolah Keberanian

Meski baru sebulan fokus berlatih tinju, Meida berkesempatan ikut pertandingan antarsasana. Baginya, menang atau kalah bukan ukuran utama. Yang utama, ia berani melangkah ke ring.

Meida ingin berlaga di Byon Combat dan mengikuti jejak idolanya, Felmy Sumaehe. Sasana bukan hanya tempat menempa fisik. Di sana, ia menemukan keluarga yang tak terikat darah, tetapi terjalin lewat perjuangan bersama.

Mereka berlatih, saling menjaga, lalu pulang dengan tubuh yang sama-sama letih. Ikatan itu tumbuh dari peluh yang tercurah di tempat yang sama.

Pukulan di Ring, Ketegaran di Luar Ring

Meida bicara enteng soal pukulan. "Kalau takut dipukul, enggak usah ikut tinju," katanya.

Namun di atas ring, ia gigih menghadapi lawan. Di luar ring, ia tegar menghadapi hidup. Tinju bukan semata soal melayangkan pukulan, melainkan jalan yang membawanya menemukan arah baru.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index