Meditasi Melalui Distorsi

Meditasi Melalui Distorsi

Perkara selera musik, Indonesia tengah memasuki masa transisi, jamak kita lihat orang-orang yang mulai kritis dan sadar selama ini terjebak dalam industrialisasi musik yang menyebabkan terjadinya diskriminasi musik antara jenis atau genre yang lazim didengar, dan yang tidak lazim untuk didengar.

Musisi-musisi yang berkomitmen untuk tidak terlibat dalam lingkaran setan industrialisasi musik ini atau dikenal dengan istilah indie, sedang gencar-gencarnya berkarya untuk meruntuhkan monopoli indera pendengaran kita dari karya-karya yang menurut sebagian kalangan, sebagai sarden busuk yang dibungkus kemasan rapi.

Kalangan underground atau kaum bawah tanah, juga ikut ambil bagian dalam giat untuk merestorasi indera pendengaran di Indonesia, mereka yang selama ini hanya bergerak dalam parameter yang sempit, mulai mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Sebut saja seperti Burgerkill, Jasad, Seringai, Deadsquad, Jimjack adalah contoh band yang sudah berhasil meraih nama dan pasar yang masif di Indonesia. Belum lagi pasukan-pasukan rebel yang selalu setia meramaikan panggung-panggung cadas, menandakan gairah musik di Indonesia sedang mengalami tren yang positif

Selagi menulis artikel ini, saya putuskan sambil mendengarkan lagu dari band metal favorit saya, Meshuggah. Melalui headset tentunya, jika diperdengarkan melalui pengeras suara dapat anda bayangkan kegaduhan apa yang akan timbul di lingkungan tempat saya tinggal. Orang waras mana yang nyetel musik cadas jam 3 dinihari ?.

Ritual ini kudian juga saya lengkapi dengan ngudud sebatang rokok juga nyeruput kopi kaleng yang memang sudah saya siapkan khusus sebagai amunisi tempur untuk mengetik tulisan ini. Selagi khidmat mendengarkan dentuman juga hentakan dari musik cadas, timbul sebuah pertanyaan di benak saya, kenapa orang-orang tidak bisa menemukan kedamaian dari musik metal ? kenapa mereka menganggap musik ini adalah gangguan untuk indera pendengaran mereka. Tentu ini adalah pertanyaan yang egosentris, akan tetapi mari kita coba jawab dengan beberapa argumen yang mungkin saja rasional.

Keinginan untuk menjawab pertanyaan ini, terpaksa harus saya jeda karena musik cadas yang saya dengar tengah memasuki bagian breakdown¸ itu artinya saya harus khusyuk melakukan ibadah headbang dan mendengarkan notasi-notasi sembari mengangguk-anggukkan kepala agar bisa mencapai ekstase.

Pertanyaan tadi, mungkin akan terjawab dengan mengklasifikasikan penikmat musik menjadi dua. Pertama, penikmat musik yang mendengarkan musik sebagai media hiburan semata, mereka yang ada di klasifikasi ini, adalah orang yang memang sedang membutuhkan musik sebagai pelipur lara, penyemangat, atau mungkin juga kawan untuk melawan sepi.

Mereka, cenderung tidak terlalu memperdulikan notasi apa yang dimainkan, skala apa saja yang dipakai, serta instrumen apa saja yang dilibatkan dalam proses penciptaan musik tersebut, atau dominasi antar-instrumen mana paling dominan dan tidak. Mereka tidak memperhatikan detail, karena tujuan mereka hanyalah mencari penghiburan diri. Emosi juga sangat berperan disini, sehingga sering kita temukan orang meneteskan air mata ketika lagu yang mereka dengarkan, sangat mewakili perasaan yang sedang mereka rasakan.

Orang-orang yang ada dalam klasifikasi ini, adalah mereka yang menerima semua jenis genre lagu, asal sesuai dengan kondisi mood yang sedang dirasakan. Intinya, mereka sedang mencari pembenaran atas apa yang sedang mereka rasakan, melalui lagu.

Kedua, adalah mereka yang mendengarkan musik sebagai media meditasi, mereka yang ada dalam klasifikasi ini adalah orang-orang yang mendengarkan musik sebagai media untuk mencapai ekstase dan ketenangan diri. Mereka hanya mendengarkan musik-musik tertentu, memiliki standar yang cukup ketat untuk apa saja yang bisa dan tidak bisa memanjakan gendang telinga mereka. Dan juga akan sangat kritis serta beringas ketika musisi-musisi yang mereka idolakan, tidak lagi menelurkan karya yang sesuai dengan ekspektasi.

Bagi mereka, musik punya rukun-rukun yang harus menjadi pedoman dan dijadikan petunjuk untuk menjalani proses mendengarkan musik. Wajar jika kemudian mendiang Jimi Hendrix mengatakan bahwa “Music is my religion”, karena musik sendiri sudah menjadi atribut yang dikultuskan karena bisa menyentuh sisi-sisi spritual manusia sehingga bagi mereka, musik adalah sebuah agama.

Dari kedua klasifikasi tadi, dapat kita tarik benang merah bahwa, mendengarkan musik bukan hanya sebuah proses mendengarkan dan mencerna infomasi, tetapi juga merupakan sebuah ritual sakral demi mendapatkan ketenangan dalam wujud meditasi. Tentunya bagi awam, pernyataan ini akan sangat membingungkan, ketika musik bisa jadi begitu intens dalam mempengaruhi sisi spiritual seseorang.

Kebingungan ini wajar, karena bagi mereka yang mendengarkan musik sebagai media hiburan, mereka hanya membutuhkan pelarian sementara dari kejenuhan, dan pembenaran akan perasaan hati yang temporer dan fluktuatif. Tidak ada esensi spiritual yang mereka libatkan dalam proses mendengarkan musik.

Sementara bagi mereka yang menjadikan musik sebagai meditasi, mendengarkan musik merupakan salah satu sarana untuk mencapai ketenangan batin, entah apa jenis ataupun genre musiknya, yang jelas mereka merasa bahwa candu akan ekstase tersebut bisa diobati dengan musik-musik genre tertentu yang memang mereka sukai.

Kemudian, kita menjadi mafhum kenapa mereka bisa tahan berjam-jam mendengarkan musik-musik ribut dan mendapatkan ketenangan melalui musik tersebut. Sangat paradoksikal tentunya, justru ketenangan didapatkan melalui gaung-gaung distorsi musik-musik cadas dan sangat menggangu pendengaran. Sementara itu, bagi kalangan awam hal ini akan tetap menjadi sebuah pertanyaan besar yang tidak akan pernah bisa terjawab kecuali mereka mendengar dan menelusuri lebih dalam mengenai musik-musik cadas itu sendiri, dan kudian menjadi seorang headbanger.

Setelah menjawab pertanyaan tadi, saya bakar lagi satu batang kretek filter sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Kretek filter, dengan rasa dan aromanya memang seperti distorsi yang dicandu para pecinta musik cadas. Wajar jika diaspora yang ada diluar negeri sangat merindukan komoditi ini, selain nasi putih tentunya. Semoga, maha benar tembakau dalam setiap hisapannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *