Manusia Maghrib

Manusia Maghrib
Loading...

“Bumi akan cukup untuk kebutuhan tiap orang,
namun tak cukup untuk ketamakan tiap orang”
– Mahatma Ghandi –

Kita mulai dari pemikiran ekonom klasik; Thomas Robert Malthus. Dalam Principles of Populations, Malthus mencemaskan pemakaian tanah yang luas oleh desakan kebutuhan industri. Sebab tanah, seperti halnya yang diyakini para ekonom klasik lainnya, sebagai faktor produksi utama, memiliki sifat stagnansi dalam kuantitas.

Dan kita sampai pada apa yang Ghandi katakan di atas. Tapi, Ghandi tak berbicara soal pertumbuhan ekonomi serta sebuah upaya proteksi terhadap monopoli kapitalisme dalam rangka menumbuhkan keseimbangan ekonomi. Ghandi berangkat dari kebatinan, sesuatu yang lebih luas pada dasar dan memengaruhi eksistensi seorang manusia. Ghandi mencemaskan ketamakan. Sesuatu yang tumbuh karena ketidakpuasan individu. Menyambung kutipan Ghandi di atas; oleh sebab itu, perintah puasa diwajibkan.

Ghandi, seorang Hinduism, yang hidup di tanah Bollywood itu, berangkat dari sebuah sepi. Ia temukan itu dalam sebuah ritual “Menyepi”. Sebagai ruang yang — oleh Emha Ainun Nadjib  disebut sebagai tempat mendengar segala isi dari keramaian – membawa segala perilaku dan pikiran yang destruktif untuk dijinakkan dalam ruang inklusif.

Berangkat dari ijtihad teologi yang berbeda, Ghandi memahami sepi sebagai jalan keluar segala keterikatan diri terhadap ke-fana-an. Ia meredam segala perilaku ketamakan yang secara praktik bermanifestasi menjadi pemangsaan terhadap segala sesuatu yang berada di luar nilai-nilai kemanusiaan. Perjuangan memerdekakan India tanpa pertumpahan darah, satyagraha (pencarian kebenaran) ditempuh dengan ahimsa (kasih sayang). Sesuatu yang pernah dicontohkan Rasulullah beratus tahun lampau melalui peristiwa Fathu Makkah (perebutan kembali kota Mekkah).

Tapi, bukankah perintah berpuasa di bulan Ramadan juga berjalan ke arah apa yang pernah diperjuangkan Ghandi. La’allakum tattaqun lahir dari proses membersihkan sesuatu kemelakatan diri dari ketergantungan akan materialisme yang seolah baqa’, demi meniadakan fana.

Ramadan tiba pada saat ruang akhlakul karimah di negeri kita sedang terkikis. Dalam kasus sosial misalnya, seperti keengganan dan kealpaan diri terhadap praktik nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat; upaya menjunjung kebermanfaatan diri terhadap satu sama lain, berubah menjadi perilaku beragama yang lebih menonjolkan kualitas ibadah yang – seharusnya adalah ruang antara manusia dan Tuhan – dipertontonkan melalui sosial media.

Proses berhijrah dijadikan gaya hidup melalui laku busana, dan praktik-praktik spiritual dijual. Tak salah memang, tetapi ukurannya menjadi terbalik sehingga beribadah tak meninggalkan bekas pada diri. Ia melahirkan ketamakan baru. Menguasai seluruh eksistensi kehidupan yang sejatinya adalah di bawah kuasa Illahi. Dan kita menjadi privilese.

Tapi bukankah kita senang bersandiwara ketika Ramadan tiba. Selalu gemar menikmati hal-hal yang sifatnya tak berdasar, tak tumbuh dari dalam, dari sebuah sinteron Ramadan, talkshow Ramadan, kita kagumi para pegiat seni yang menutupi seluruh tubuhnya dengan model-model pakaian syar’i.

Di sosial media, kita posting warna-warna kepalsuan itu. Kemudian menjadi privilese dengan ibadah puasa yang dilajani, dan harus merasa dihormati oleh yang lain. Tanpa tahu, hanya mereka yang tak terhormatlah yang minta dirinya dihormati orang lain.

Saya ingat “Sandiwara Ramadan” yang digubah Emha Ainun Nadjib. Kita, manusia, sebenarnya hanya mempersembahkan kain serta pakaian kepada Tuhan saat Ramadan, tak serta merta berani menyerahkan apa yang tersembunyi di balik badan; keangkuhan.

Agaknya, jika dari dasar kita menakar, Ramadan mengajak kita untuk kembali sepi. Dalam percikan ke-59 pada “Tuhan dan hal-hal yang tak selesai”, Goenawan Mohammad menukilkan bahwa ramadan datang untuk merayakan kekosongan.

Harusnya, ramadan dan segala praktik ibadah lainnya tidak menjadikan kita seorang yang merasa penuh dengan kesucian dan kebenaran. Pertemuan dengan kerabat di jalan, ataupun di sosial media dalam dunia maya, adalah sesuatu yang musykil untuk dihindari pada saat ini.

Lebih lanjut, mengamini pikiran Goenawan Mohammad pada percikan yang sama dari tubuh “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”, dalam pertemuan dengan manusia lainnya, seorang yang tak merasa penuh dengan kesucian dan kebenaran akan menjadikan dirinya pintu bagi mereka yang lewat. Ia menjadikan dirinya kendi. Di sana, seorang pengelana lain dapat merawat air penawar haus.

Ia yang menjadikan puasa sebagai kontemplasi batin atas ruang kosong yang disajikan Ramadan, tak hanya menjadikan maghrib sebagai isyarat melepas dahaga. Setelah Ramadan berlalu, ia akan menjadi magrib setiap waktu, menjadi magrib untuk setiap orang. Tempat di mana para manusia lainnya melepas dahaga dari kemaraunya nilai-nilai kemanusiaan hari ini.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *