Malam, Nokturnal, dan Lain-lain

Malam, Nokturnal, dan Lain-lain

Seorang mahasiswa memasang mimik heran saat saya menanyakan letak sebuah ruang kelas kepadanya. Seolah-olah tak ingin mati gaya, ia bertanya dalam suara rendah: “Anak baru, ya?”

Saya memang anak baru di kampus itu. Terlambat hadir pada jam pertama perkuliahan, hari itu, dan memutuskan untuk tak masuk, saya kini menghadapi jam kedua. Tak satu pun lokal di kampus itu yang saya kenali dan saya merasa sial karena kebodohan itu.

Setelah melihat kembali jadwal berisi daftar nama dosen dan kelas mereka, saya terus berjalan ke arah tangga. Mahasiswa tadi menyebut ruang kelas saya ada di lantai dua. Saya naik; perasaan terus berdebar.

Di depan kelas, tampak satu sampai lima orang berdiri bergerombol. Kami sama-sama menunggu, tetapi kabut di pikiran dua pihak ini jelas berlainan: mereka mungkin hanya ingin menyelesaikan kewajiban mengisi daftar absensi, sementara saya masih mencari-cari perbandingan antara kampus lama dengan tempat yang sedang saya hadapi ini.

Sebagaimana anak baru lainnya, saya merasa tengah ditelanjangi oleh tiap tatapan yang diarahkan, sengaja atau tidak. Berkali-kali pindah, terutama pindah rumah, ternyata tak banyak membantu saya untuk berbaur. Malam itu, saya merasa sendirian meski senyum para mahasiswa lain, entah kenapa, kepada saya, begitu ramah dan menghangatkan hati.

Beberapa bulan setelah itu saya baru mengerti: orang-orang di sini tak seperti dugaan saya; mereka lebih ramah dari yang mampu saya bayangkan. Seorang teman saya pernah berkelakar soal itu: “Bung, kalau mau tahu, bagaimana kuliah yang benar, masuk malam jawabannya.”

Ia benar, agaknya: saya melihat bapak-bapak ubanan, di sini, dan ibu-ibu menjelang agak tua merapikan jilbab sambil menggigit peniti, sementara beberapa anak muda lainnya asyik berswafoto atau berdiskusi soal pekerjaan mereka sehari-hari. Saya pun beroleh pemandangan yang tak pernah saya temukan saat berkuliah pada siang hari: dosen-dosen begitu menghargai kami, dan terkadang, untuk beberapa orang mahasiswa, mereka memanggil dengan sapaan “Pak” atau “Ibu” saat mengecek absensi.

*
Duduk memunggungi malam, seorang bocah tampak tepekur di sisi jalan. Ini malam tahun baru dan kembang api terus meledak di udara. Langit pesta warna, tetapi bocah lelaki mungil itu cuma menunduk—tampak merenung, dalam sekali.

Saya sedang memutar jalan saat menemukan bocah itu mengangkat wajahnya. Seraya menurunkan kecepatan, sepeda motor saya bergerak ke arah si bocah. Seseorang keluar dari tempat sampah, yang ada di dekat si bocah.

Lima belas menit kemudian situasinya begini: saya mengenal mereka sebagai keluarga pemulung. Orang yang baru keluar dari tempat sampah itu adalah bapak si bocah. Pekerjaannya, selain memunguti barang rongsokan, adalah mencari sisa nasi dalam tiap plastik sampah.

“Untuk pakan hewan. Ini harus dipilah,” kata si bapak.

Saya tak tahu kondisi di kota lain, tetapi di sini pekerja seperti si bapak memang banyak. Sekali waktu, ketika pulang dari kantor pada pukul 04.00 dini hari, saya masih menemukan mereka di sepanjang jalan. Mereka mengaso: merokok, mungkin masih sempat mengopi—dibawa dari rumah, diisi ke dalam botol air mineral bekas—, dan tampak bergurau senda. Saya hanya mengamati dari jauh kebahagiaan itu dan lekas pulang.

*
Terbuat dari apakah malam?

Saya ingin menjawab dengan cepat: dua momen di atas sudah mewakili malam saya. Belum lagi ditambah dengan ingatan dari masa lalu: bir di meja, sementara seorang gadis dari pedalaman Jawa di pelukan saya bercerita tentang kemiskinan keluarganya, dan bapak-bapak, di meja lain, mencubiti pantat para pelayan minuman alias marka.

Meski bukan seperti yang disebut Chairil Anwar dalam sajak “Prajurit Jaga Malam” (Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam), malam yang dilewati orang-orang, dulu dan kini, selalu menyimpan dan memberi makna. Di sisi lain, meski ada orang menyebut bahwa laku tak tidur ini, nokturnal, agak mencemaskan buat kesehatan, saya berpaling dari pandangan itu dan lebih memilih melihat pemandangan di depan sana:

Di hadapan kuali, seorang pemuda kurang sekolah tampak tengah mengaduk nasi goreng yang akan dihidangkan bagi seseorang yang menunggu di meja sana: seorang karyawan yang lembur, malam ini, dengan sekian ratus ribu dari upah bulanannya itu selalu dikirimkan ke kampung halaman.

Bergerak ke tepi kota, bocah-bocah tampak tidur bergelung di kaki malam: selimut mereka angin, sebagaimana judul kumpulan sajak D. Zawawi Imron, meski bantalnya bukan ombak. Di lokalisasi dan rumah-rumah pelacuran, ruko-ruko karaoke berlampu remang, hingga panti pijat dan sauna yang menyediakan “jasa tambahan”, perempuan-perempuan yang dianggap kelas dua dalam masyarakat di negeri beragama ini menindih rasa malu dan lapar mereka dengan uang tak seberapa sambil terus menjauhkan semua percakapan dari kata “moral” dan “dosa”. Di bawah lampu lalu lintas yang tinggal kuning berkedip belaka, bocah-bocah usia sekolah masih menunggu orang iseng, atau memang merasa perlu, membeli koran.

Terbuat dari apakah malam?

Kini saya ingin meminjam mulut bocah yang tepekur itu untuk menjawab pertanyaan tersebut: “Bapak dan ibu yang bekerja, anak-anak belajar dan boleh tidur, di dekat tempat sampah.”***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *